LPEM UI: Indonesia Perlu Ubah Arah Strategi Ekonomi Berkelanjutan

Image title
23 Oktober 2025, 15:17
ekonomi
ANTARA FOTO/Hasrul Said/YU
Petugas melakukan pemeriksaan panel surya pada Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) di atap pusat perbelanjaan Trans Studio Mall (TSM) Makassar, Sulawesi Selatan, Jumat (16/8/2024). Trans Studio Mall (TSM) Makassar menggunakan teknologi pembangkit listrik tenaga surya (PLTS) yang diperkirakan mampu menghasilkan 3,7 juta kWh energi bersih atau setara dengan pengurangan emisi karbon sebanyak 3,3 juta kilogram sebagai komitmen untuk mengedepankan ekonomi hijau.
Button AI SummarizeMembuat ringkasan dengan AI

Ekonomi Indonesia dinilai masih terlalu bergantung pada sektor ekstraktif yang berisiko tinggi terhadap keberlanjutan lingkungan dan pertumbuhan jangka panjang. 

Kepala Lembaga Penyelidikan Ekonomi dan Masyarakat Universitas Indonesia (LPEM UI), Alin Halimatussadiah menilai strategi ekonomi nasional perlu diarahkan untuk memperkuat investasi hijau dengan menciptakan sinyal harga dan kebijakan fiskal yang mendukung transisi ke ekonomi rendah karbon.

“Kalau kita lihat ekonomi kita saat ini masih bertumpu pada ekonomi ekstraktif baik di pertambangan, energi, maupun sektor lahan seperti pertanian. Padahal model ekonomi seperti ini berisiko,” ujarnya.

Menurut Alin, langkah pertama yang perlu dilakukan adalah mengendalikan industri ekstraktif dan secara bertahap mengalihkan fokus ke sektor yang lebih hijau dan bernilai tambah tinggi. Transisi ini tidak berarti menghentikan sektor lama secara tiba-tiba, tetapi melakukan evaluasi dan pengelolaan agar skala serta dampaknya dapat dikendalikan.

“Kita harus mulai menurunkan skala sektor ekstraktif dan mengelola sektornya agar tujuan kita menuju absolut decoupling bisa tercapai,” jelasnya.

Ia menambahkan, arah ekonomi global saat ini sudah bergerak menuju sektor hijau (green sectors), dan Indonesia perlu mengidentifikasi bidang mana yang memiliki potensi terbesar untuk dikembangkan. Dengan begitu, Indonesia tidak hanya bisa menekan emisi, tetapi juga mendapatkan nilai tambah ekonomi dari inovasi dan teknologi hijau.

Namun, menurut Alin, pergeseran ini tidak akan terjadi tanpa sinyal harga dan kebijakan fiskal yang mendukung. Ia menyoroti selama ini harga energi fosil dan bahan mentah masih terlalu murah karena distorsi pasar, sehingga membuat investasi di sektor hijau menjadi kurang menarik.

“Selama return on investment di sektor ‘brown’ masih lebih tinggi dibanding sektor hijau, maka investasi akan tetap lari ke sana,” ujarnya.

Sebagai contoh, ia menyinggung kesenjangan harga antara bahan baku daur ulang dan bahan baru (virgin materials), yang membuat ekonomi sirkular sulit tumbuh. Begitu pula dengan energi terbarukan yang masih kalah bersaing karena harga batubara dan bahan bakar fosil terlalu rendah.

“Kalau harga energi fosil tetap murah, siapa yang mau pasang panel surya? Tapi kalau harga energi fosil dinaikkan sesuai nilai sebenarnya, barulah energi bersih menjadi kompetitif,” katanya.

Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.

mobile apps preview
Reporter: Nuzulia Nur Rahmah

Cek juga data ini

Artikel Terkait

Video Pilihan
Loading...