Hidup di Desa Nauke Kusa, NTT: Kesulitan Air Bersih Meski Dikelilingi 9 Mata Air
Warga di Desa Nauke Kusa, Kecamatan Laenmanen, Kabupaten Malaka, Nusa Tenggara Timur (NTT), harus berjalan paling jauh hingga 3 kilometer (km) untuk mendapat air bersih. Padahal, ada sekitar 9 mata air di wilayah tersebut.
Kepala Desa Nauke Kusa Anselmus Dully Berek menjelaskan, persoalannya pada lokasi sumber mata air, jarak pemukiman dengan sumber mata air, serta sistem distribusi air yang belum terbangun.
“Air ini kan penting, kebutuhan pokok,” kata Anselmus, saat ditemui di rumahnya di Nauke Kusa pada Selasa (28/10).
Saat ini, dari 11 dusun di desa tersebut, ada 6 dusun yang belum memiliki akses air bersih terjangkau. Setidaknya, ada 877 jiwa dari 237 kartu keluarga yang harus mencari cara untuk penuhi kebutuhan air sehari-hari.
Anselmus bercerita, warga harus berjalan paling jauh hingga 3 km untuk menjangkau air bersih dari mata air. Tak hanya soal jarak, warga harus berjibaku dengan kondisi tanah yang naik-turun di dalam hutan, sambil membawa jeriken berisi air.
“Empat jeriken kecil, baru pikul lagi pekian (pakaian). Angkat, junjung, pikul lagi. Naik turun,” tutur Beatrice, salah seorang warga Nauke Kusa.
Sejak 2018 lalu, Pemerintah Provinsi Nusa Tenggara Timur membuat sumur bor sebagai alternatif sumber air untuk warga Nauke Kusa.
Sumur bor dengan kedalaman 96 meter tersebut direncanakan mengairi dua dusun. Tetapi, pada akhirnya tidak semua rumah di dua dusun tersebut mendapat airnya. “Macet (airnya),” kata Beatrice.
Hingga saat ini, sumur bor itu masih digunakan, tapi terbatas. Bagi warga terairi, setiap bulan membayar iuran Rp10.000 untuk kebutuhan listrik. Bagi warga yang tak mendapat air dari sumur tersebut, tak perlu membayar iuran.
Pilihan lain warga adalah membeli air bersih dari usaha perseorangan. Warga yang memiliki mobil tangki, memanfaatkannya sebagai peluang bisnis. Mobil dipakai untuk menampung air, kemudian dijual ke warga lain.
Harganya Rp100.000 - Rp150.000 untuk 6.000 liter air, tergantung jarak. Biasanya, jumlah tersebut bisa dipakai untuk 4-6 hari.
Namun, kata Anselmus, tidak banyak warga yang memilih membeli air. Sebab tak semuanya memiliki bak penampungan dengan kapasitas 6.000 liter.
Alasan lainnya, tidak ada uang atau karena kualitas air yang lebih rendah dibandingkan langsung dari mata air.
“Kalo ada uang, kita beli. Kalo tidak ada uang, kita timba di bawah,” tutur Beatrice menambahkan.
Beatrice juga bercerita, kualitas air yang dijual tak sebersih ketika mengambil langsung dari mata air. Oleh karena itu, keluarga lebih sering memanfaatkan air langsung dari sumbernya, meski harus berjalan jauh ke hutan.
Sistem Pengairan yang Dibangun Dilanda Longsor
Pada 2024 lalu, Pemerintah Kabupaten Malaka, Nusa Tenggara Timur, membangun sistem pengairan dari sumber mata air Oe Tun. Sistem pengairan ini bertujuan menyuplai air di dusun Nakreu A, Nakreu B, dan Nakreu C, ketiganya berlokasi di dekat mata air tersebut.
Akan tetapi, pada awal 2025, pompa air rusak diterjang longsor. Anselmus bercerita, longsor dipicu hujan deras yang turun 2-3 minggu berturut-turut.
Kepala Lapangan Solar Chapter, Yoga Nahak, menjelaskan bencana alam merupakan salah satu risiko dari pembangunan pompa air. Akan tetapi, sebelum pompa air dibangun, ada perencanaan yang sekaligus memperkirakan risiko terjadinya bencana alam atau pemicu kerusakan lainnya.
Solar Chapter adalah organisasi nirlaba yang membangun pompa air bertenaga surya di NTT. Saat ini, mereka masih dalam tahap perencanaan membuat pompa air di Desa Nauke Kusa.
Selain risiko bencana alam, pembangunan pompa air dari mata air selalu mempertimbangkan debit air dan kualitas air secara fisik.
Mata air tersebut setidaknya memiliki debit air 1 liter/detik, serta diperhitungkan dapat memenuhi kebutuhan air berapa warga hingga berapa lama. Lalu secara fisik, mata air harus tidak berwarna, tidak berbau, dan tidak berasa.
Pengetahuan lokal juga jadi sumber informasi penting untuk menilai kelayakan mata air.
“Kita juga akan menggali informasi atau sejarah tentang sumber air ini. Keberadaan sumber air ini dari kapan? Dikonsumsi oleh masyarakat dari kapan? Apakah pernah ada fase dia kering atau tidak?,” jelas Yoga.
Dengan begitu, dapat ditarik kesimpulan pembangunan pompa air di lokasi tersebut potensial atau tidak.
Kata Yoga, pembangunan sistem air ini lebih baik berada di kawasan hutan lindung. Alasannya, sumber mata air beserta fasilitasnya lebih terjaga. Pada diskusi sebelumnya, Anselmus pun berkata bahwa seluruh mata air di Desa Nauke Kusa berada di hutan adat, sehingga warga lebih menjaga keberadaan mata air ini.
Akan tetapi, pompa air juga tidak bisa dipasang di lokasi yang terlalu jauh dari pemukiman. Pengawasan dan penjagaan fasilitas akan lebih sulit, dampaknya mempercepat kerusakan atau risiko kehilangan.

