Gaya Hidup Ramah Lingkungan Kian Populer, Industri Harus Berbenah
Kesadaran masyarakat terhadap dampak krisis iklim semakin mempengaruhi cara mereka memilih produk.
Di tengah isu perubahan iklim, gaya hidup ramah lingkungan kini bukan lagi sekadar pilihan, melainkan pertimbangan utama konsumen. Laporan Nielsen dan Deloitte pada 2023 menunjukkan 75% konsumen global menyatakan lebih loyal terhadap brand yang peduli lingkungan dan sosial. Di Indonesia, tren ini mulai mendominasi keputusan pembelian, terutama dari generasi milenial dan Gen Z.
Tren ini akhirnya tidak hanya menekan pemerintah untuk mempercepat transisi energi. Ini juga mendorong industri berbenah agar tetap relevan di mata pasar yang kian kritis terhadap jejak karbon.
Manajer Program Dekarbonisasi Industri Institute for Essential Services Reform, Juniko Nur Pratama, menilai tren transisi energi global dan komitmen Indonesia menuju emisi nol bersih pada 2060 membawa perubahan signifikan terhadap preferensi konsumen.
“Tren ini mendorong peningkatan kesadaran masyarakat terhadap produk dan gaya hidup ramah lingkungan dan rendah emisi,” kata Juniko.
Ia menekankan kondisi tersebut membuat industri perlu melakukan dekarbonisasi untuk memenuhi kebutuhan konsumen yang semakin peduli terhadap keberlanjutan lingkungan.
“Seiring meningkatnya tuntutan global akan produk berkelanjutan, industri yang menerapkan prinsip keberlanjutan mampu menjawab tantangan pasar sekaligus mendukung target dekarbonisasi nasional,” ujarnya.
Salah satu perusahaan yang berupaya menjawab tren ini adalah Grup Danone. Di Indonesia, perusahaan ini menargetkan pencapaian emisi nol bersih atau net zero emission pada 2050 sebagai bagian dari tanggung jawab iklim global.
Dalam laporan keberlanjutannya, Danone menjelaskan berbagai inisiatif telah diterapkan, mulai dari peningkatan efisiensi energi di pabrik, pemanfaatan energi terbarukan, hingga inovasi kemasan yang lebih ramah lingkungan.
Ketergantungan terhadap bahan bakar fosil sebagai sumber energi utama dinilai menjadi salah satu pemicu terbesar emisi gas rumah kaca yang mempercepat laju pemanasan global.
“Kami menempatkan efisiensi energi sebagai pilar penting dalam operasional yang berkelanjutan. Secara konsisten kami melakukan perbaikan dalam proses produksi dan sistem utilitas untuk menekan konsumsi energi secara signifikan,” tulis Danone dalam laporannya, dikutip, Selasa (23/12).
Upaya tersebut tercermin dari sejumlah langkah. Mulai dari penggunaan boiler biomassa yang mampu mengurangi emisi karbon sebesar 8.300 ton CO2 serta menurunkan jejak karbon proses produksi di Pabrik Prambanan hingga 32%.
Selain itu, perusahaan juga mengklaim teknologi tubular heat exchanger membantu menekan konsumsi listrik dengan proyeksi pengurangan emisi karbon mencapai 2.265 ton CO2 per tahun.
Danone juga mencatat lebih dari 50% kebutuhan listrik operasionalnya kini berasal dari sumber energi terbarukan. Langkah ini sekaligus mendukung efisiensi energi yang tercatat mampu menurunkan intensitas energi sebesar 2,4%.
Dalam laporan keberlanjutannya, Danone menyusun Renewable Energy Roadmap Danone. Sejak 2017, perusahaan mulai memasang pembangkit listrik tenaga surya atap di berbagai fasilitas produksi.
Pada tahap awal, PLTS atap berkapasitas 770 kWp dipasang di Pabrik Ciawi yang mampu menghasilkan sekitar 1.000 MWh listrik per tahun dan mengurangi emisi karbon hingga 825 ton CO2 ekuivalen per tahun. Inisiatif ini kemudian diperluas ke sejumlah lokasi lain, termasuk Banyuwangi, Klaten, Mekarsari, Mambal, Cianjur, hingga Langkat.
Hingga 2024, total kapasitas PLTS atap Danone-AQUA telah mencapai 8.117 kWp dengan estimasi reduksi emisi sekitar 9.213 ton CO2 ekuivalen per tahun. Selanjutnya pada 2025 dengan target peningkatan kapasitas solar PV menjadi 11.452 kWp dan produksi listrik surya mencapai 11 GWh. Selain fasilitas Aqua, sejumlah lokasi lain seperti pabrik susu (SN) direncanakan untuk memanfaatkan energi surya.
Pada 2026 hingga periode 2027–2030, Danone menargetkan stabilisasi pemanfaatan energi terbarukan dengan kapasitas solar PV tetap di angka 11.452 kWp dan produksi listrik surya mencapai 14 GWh per tahun.
Tantangan transisi energi
Sementara itu, di Indonesia tantangan transisi energi masih cukup besar. Target energi terbarukan sebesar 23% dalam bauran energi nasional yang ditetapkan untuk 2025 dipastikan tidak tercapai dan ditunda hingga 2030.
Pemerintah menilai, salah satu penyebabnya adalah peran sektor industri yang masih perlu diperkuat dalam pemanfaatan energi bersih.Direktur Jenderal Energi Baru Terbarukan dan Konservasi Energi Kementerian ESDM, Eniya Listiani Dewi, sebelumnya mengungkapkan bahwa capaian bauran energi terbarukan Indonesia pada 2024 baru berada di angka 14,68%.
“Bauran energi kita itu capaian 2024 hanya 14,68%, sedangkan tahun ini diharapkan bisa mencapai 23%. Ya, sebetulnya tahun ini target itu tidak pernah tercapai sesuai roadmap,” ujarnya.
Kondisi tersebut membuat upaya penurunan emisi tidak lagi hanya bergantung pada kebijakan pemerintah, tetapi juga pada respons industri terhadap perubahan ekspektasi konsumen.
