Benarkah Material Letusan Gunung Bisa Picu Hujan? Ini Kata BRIN
Partikel sangat kecil atau aerosol yang muncul akibat letusan gunung berapi bisa memicu turunnya hujan. Namun, tidak otomatis demikian. Ada kondisi tertentu yang memengaruhinya.
Ketua Kelompok Riset Iklim dan Biosfer Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) Arief Darmawan menjelaskan, aerosol dapat berfungsi sebagai inti kondensasi awan atau benih pembentukan butiran awan.
“Uap air dapat berkondensasi di sekitar partikel tersebut dan membentuk butiran awan. Tetapi ada syarat yang sangat penting, dimana atmosfer harus memiliki cukup uap air dan kondisi dinamis yang mendukung pertumbuhan awan,” kata Arief kepada Katadata, Selasa (8/9).
Kondisi atmosfer yang lebih kering akibat fenomena iklim indian ocean dipole (IOD) positif dan El Nino, kurang mendukung pembentukan awan ini. Banyaknya benih belum cukup menghasilkan hujan, karena bahan utamanya yaitu uap air tidak tersedia dalam jumlah cukup.
“Lingkungan atmosfer saat ini cenderung kurang kondusif bagi hujan di banyak wilayah, bukan aerosol vulkanik yang sama sekali tidak dapat menghasilkan atau memodifikasi awan,” ujar dia.
Arief mengatakan, proses pembentukan awan akibat aerosol masih bisa terjadi pada skala yang lebih kecil. Hujan bisa jadi turun, ketika kelembapan lokal, angin, konvergensi, dan kondisi atmosfer mendukungnya.
Potensi Picu Hujan Asam
Di sisi lain, sulfur dioksida (SO2), gas yang ikut terlepas ke atmosfer saat terjadi letusan gunung berapi, juga berpotensi menyebabkan hujan asam. Terutama di sekitar wilayah yang terpapar gas vulkanik.
SO2 dapat bereaksi dengan oksidan dan air di atmosfer, kemudian membentuk senyawa asam sulfat. Begitu juga dengan gas vulkanik lainnya, seperti hidrogen klorida (HCl), hidrogen fluorida (HF), dan hidrogen sulfida (H2S).
“Ketika senyawa-senyawa tersebut masuk ke dalam tetesan awan dan kemudian turun bersama hujan, pH air hujan dapat menjadi lebih rendah atau asam,” kata Arief.
Dia menambahkan, tingkat keasamannya sangat tergantung pada konsentrasi gas, jarak dari sumber, arah angin, pengenceran atmosfer, dan intensitas hujan.
Hujan asam di antaranya bisa berdampak pada lingkungan perairan, tanah dan vegetasi, kesehatan manusia, hingga infrastruktur. Asam dapat membuat ikan, hewan amfibi, serta organisme akuatik sulit bertahan hidup.
Kemudian, mineral penting dalam tanah, misalnya kalsium dan magnesium, bisa terbuang dari tanah dan membuat tanaman kehilangan sumber nutrisi. Selain itu, polutan penyebab hujan asam termasuk SO2, berpotensi menggangu pernapasan serta menimbulkan iritasi mata.
Pengaruhnya terhadap infrastruktur, hujan asam dapat merusak bangunan dari semen, batu kapur, marmer, dan logam.
Meskipun begitu, menurut Arief, hujan tetap menjadi mekanisme penting untuk membersihkan aerosol dan gas dari lapisan troposfer bumi. “Hujan merupakan proses wet deposition di mana polutan, gas, atau partikel berbahaya terdeposisi dari atmosfer ke permukaan bumi,” katanya.
