Indonesia Akan Ekspor Listrik Tenaga Surya 1 GW ke Singapura

Image title
31 Mei 2025, 16:17
ekspor listrik tenaga surya ke singapura,
ANTARA FOTO/Putra M. Akbar/Spt.
Pekerja memeriksa Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) di Rusunawa Cipta Griya Kedaung, Kota Tangerang, Banten, Selasa (27/5/2025).
Button AI SummarizeMembuat ringkasan dengan AI

Indonesia akan mengekspor listrik tenaga surya hingga satu gigawatt atau GW ke Singapura. Energy Market Authority negara ini telah memberikan lisensi bersyarat kepada Singa Renewables Pte Ltd, usaha patungan antara TotalEnergies SE Prancis dan Royal Garden Eagle Pte. Ltd.

“Perusahaan itu juga akan bermitra dengan Singapore Energy Interconnections Pte. Ltd. untuk menjajaki pembangunan kabel listrik bawah laut antara Singapura dan Indonesia,” demikian dikutip dari keterangan pers, dikutip dari Bloomberg, Sabtu (31/5).

Kerja sama itu merupakan hubungan terbaru dari beberapa kemitraan terencana di Asia Tenggara yang ditujukan mendorong energi rendah karbon lintas-batas.

Singapura, yang bergantung pada gas alam cair impor untuk sebagian besar listriknya, telah menandatangani kesepakatan bernilai miliaran dengan sejumlah negara untuk mendatangkan listrik bersih hingga enam GW pada 2035.

Negara tetangga itu telah menyetujui impor energi surya 3,4 GW dari Indonesia. Awal minggu ini, Singapura mengatakan bahwa mereka sedang menjajaki kemungkinan mendatangkan tenaga angin dari Vietnam. Pada Februari, negara ini menandatangani kesepakatan tenaga air dengan Malaysia.

Pemerintah Indonesia telah menandatangan kesepakatan terkait ekspor listrik 3,4 GW ke Singapura, di sela-sela Indonesia International Sustainability Forum (ISF) 2024 yang diselenggarakan di Jakarta, akhir tahun lalu (5/9/2024).

“Dalam waktu dekat, mulai ada tanda cahaya untuk kesepakatan (ekspor listrik ke Singapura),” kata Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral atau ESDM Bahlil Lahadalia dalam konferensi pers, Senin (26/5).

Pekan lalu, Bahlil mengatakan rencana ekspor listrik masih dalam tahap negosiasi tim dengan Singapura. Negosiasi ini berkaitan dengan apa saja manfaat yang akan diterima Indonesia, jika rencana ekspor listrik dilakukan.

“Indonesia tidak boleh egois, tapi juga jangan bodoh. Masa mau mentah-mentah memberi sumber daya yang dipunya, sementara ketika Indonesia butuh kemampuan yang mereka punya, tidak diberi. Tidak bisa begitu. Dunia sudah berubah dan Presiden selalu mengedepankan kedaulatan negara di atas segala-galanya,” ujarnya.

Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.

mobile apps preview
Reporter: Djati Waluyo

Cek juga data ini

Artikel Terkait

Video Pilihan
Loading...