Cina Instruksikan Industri Tenaga Surya untuk Tekan Kelebihan Kapasitas
Kementerian Perindustrian Cina mendesak sektor industri tenaga surya untuk menekan kelebihan kapasitas produksi. Bersamaan dengan itu, industri tersebut juga didorong untuk memperkuat regulasi dan mengurangi persaingan ekstrem antarperusahaan.
Dalam pertemuan kedua dengan pihak industri tenaga surya, pada Selasa (19/8), Kementerian Perindustrian Cina meminta pelaku industri bersama-sama mempromosikan pembangunan industri yang sehat dan berkelanjutan.
Kelebihan kapasitas industri tenaga surya di Cina memicu persaingan antarperusahaan yang tidak terkendali. Selain itu, pasokan berlebih juga berakibat pada penurunan harga produk.
Pada pembahasan pertama di bulan Juli, Kementerian meminta pihak berwenang untuk mendorong keluarnya kapasitas produksi usang secara tertib. Hal ini meningkatkan harapan bagi pemerintah untuk memperketat pengawasan terhadap sektor yang membengkak tersebut.
Pertemuan Politbiro pada akhir Juli, yang biasanya dilakukan untuk menetapkan arah ekonomi Cina pada tahun tersebut, semakin meningkatkan harapan bahwa pemerintah akan memulai kampanye yang telah lama dinanti melawan deflasi.
Pada 2024, perusahaan-perusahaan tenaga surya terbesar di Cina kehilangan hampir sepertiga tenaga kerja mereka. Dilansir dari Reuters, kerugian dalam rantai nilai manufaktur mencapai US$ 40 miliar atau Rp 651 triliun (kurs Rp 16.280/US$).
Restrukturisasi Besar-besaran
Menurut para analis, rencana ambisius produsen besar polysilicon akan menghadapi tantangan untuk mengajak pemerintah daerah dan produsen yang lebih kecil.
GCL Technology Holdings, produsen polysilicon (bahan dasar panel surya), tengah membicarakan pembentukan dana US$ 7 miliar atau Rp 113,9 triliun untuk mengakuisisi dan menutup sepertiga kapasitas produksi sektor yang merugi. Upaya restrukturisasi sebagian sektor industri surya yang merugi juga termasuk dalam rencana ini.
Tantangan semakin bertambah dengan adanya reformasi harga yang menimbulkan permintaan yang tidak merata tahun ini.
Permintaan tidak merata terjadi karena produsen listrik bergegas membangun sebagian besar pembangkit tenaga surya baru, pada paruh pertama tahun ini. Saat itu, kebijakan baru belum berlaku.
Kebijakan baru yang berlaku mulai 1 Juni lalu, mencabut skema perlindungan harga bagi pembangkit energi surya dan angin, memaksa mereka bersaing di pasar terbuka.
Hal tersebut memicu lonjakan pemasangan sebelum aturan tersebut berlaku. Efek berikutnya, permintaan domestik menurun tajam pada semester kedua. Meskipun jika dirata-ratakan tahun 2025, jumlah permintaan diperkirakan masih mencapai rekor tertinggi untuk pemasangan.
Prediksinya, Cina dapat memproduksi dua kali lipat panel surya yang akan dibeli dunia tahun ini. Dengan kondisi tersebut, para analis menyatakan, 20-30% atau lebih dari jumlah produksi tersebut perlu dikembalikan ke prinsip profitabilitas industri.
