Asia Tenggara Butuh Tambahan Listrik 300 GW, Penggunaan AC Jadi Pendorong Utama
Penggunaan pendingin ruangan atau AC (air conditioner) diprediksi menjadi pemicu utama kenaikan permintaan listrik di kawasan Asia Tenggara.
Direktur Eksekutif International Energy Agency (IEA) Fatih Birol mengatakan Asia Tenggara diprediksi membutuhkan tambahan listrik hingga 300 gigawatt (GW) dalam 10 tahun ke depan. Salah satu pemicu utamanya adalah penggunaan pendingin ruangan yang semakin masif. Selain dipicu oleh kenaikan suhu harian akibat perubahan iklim, tren ini juga disebabkan oleh kenaikan pendapatan masyarakat di Asia Tenggara yang membuat semakin banyak orang mampu membeli AC.
“Anda akan terkejut. AC adalah pendorong utama kenaikan permintaan listrik di Asia Tenggara,” katanya dalam konferensi pers di Singapore International Energy Week (SIEW) 2025.
Birol mengatakan di Jepang dan Amerika Serikat, sekitar 90% rumah tangga menggunakan AC. Namun, di kawasan Asia Tenggara baru 20% rumah tangga yang memiliki pendingin ruangan. Artinya, masih ada ruang peningkatan untuk penggunaan AC di Asia Tenggara yang akan mendorong konsumsi listrik.
Selain dipicu oleh penggunaan AC, pertumbuhan kecerdasan buatan (AI/artificial intelligence) dan data center juga akan menjadi katalis konsumsi listrik di kawasan Asia Tenggara. “AI butuh data center, dan data center butuh listrik. Tidak akan ada AI tanpa listrik,,” katanya.
Guna menjawab permintaan tersebut, Birol menyebut setiap negara memiliki pilihan pembangkitnya masing-masing. Beberapa negara mengandalkan energi terbarukan, tetapi tidak sedikit yang masih bergantung pada gas atau bahkan nuklir.
“Penggunaan batu bara di beberapa negara juga bisa menjadi solusi untuk saat ini,” katanya.
