Penyimpanan Baterai Kian Masif, Permintaan Litium Diperkirakan Naik di 2026

Image title
5 Januari 2026, 13:09
baterai, baterai litium, penyimpanan baterai
Vecteezy.com/Yevhen Smyk
Prospek permintaan litium pada 2026 diperkirakan menguat akibat penggunaan penyimpanan baterai yang kian masif, memicu harapan terjadinya pemulihan lebih cepat bagi industri yang tengah bergulat dengan kelebihan pasokan.
Button AI SummarizeMembuat ringkasan dengan AI

Prospek permintaan litium pada 2026 diperkirakan menguat akibat penggunaan penyimpanan baterai yang kian masif, memicu harapan terjadinya pemulihan lebih cepat bagi industri yang tengah bergulat dengan kelebihan pasokan.

Sebelumnya, pasar litium telah menghadapi surplus pasokan sejak paruh kedua 2022. Ini lantaran permintaan yang gagal mengimbangi lonjakan pasokan yang membuat kenaikan harga besar-besaran pada tahun itu akibat booming baterai kendaraan listrik.

Namun, reformasi kelistrikan Cina mendorong permintaan yang lebih kuat untuk litium yang digunakan dalam baterai penyimpanan sistem tenaga pada paruh kedua 2025. Ini membuat pandangan yang optimistis terhadap prospek di awal tahun baru 2026.

Analis di Perusahaan Konsultan Fubao, Jinyi Su, mengatakan, pembangunan pusat data di Cina dan global juga telah meningkatkan permintaan penyimpanan energi berbasis litium.

Ia juga menambahkan pertumbuhan cepat permintaan litium dari sektor penyimpanan energi pada paruh kedua 2025 telah melampaui ekspektasi. 

“Ke depan, penyimpanan energi kemungkinan akan menjadi pengubah permainan bagi litium, memperbaiki fundamentalnya. Namun harga yang terlalu tinggi bisa merusak keekonomian penyimpanan energi dan membatasi kenaikan harga,” kata Su seperti dikutip dari Reuters, Senin (5/1).

Sistem penyimpanan baterai telah muncul sebagai ekspor teknologi bersih paling menguntungkan bagi Cina, dengan penjualan hampir US$ 66 miliar (Rp 1.105,7 triliun, dengan kurs Rp 16.750/US$) dalam sepuluh bulan pertama 2025, disusul sekitar US$ 54 miliar (Rp 904,72 triliun) dari ekspor kendaraan listrik.

Morgan Stanley memperkirakan dunia akan mengalami defisit 80.000 ton metrik setara litium karbonat (LCE) pada 2026. Adapun UBS memperkirakan defisit 22.000 ton, dibandingkan surplus yang diperkirakan mencapai 61.000 ton pada 2025.

Tiga analis Cina lainnya mengatakan mereka memperkirakan surplus pasar litium yang lebih kecil tahun ini.

Permintaan litium global akan tumbuh 17% hingga 30% pada 2026, sementara pasokan diperkirakan naik 19% hingga 34%. Analis memperkirakan kisaran harga 80.000–200.000 yuan (US$ 11.432–US$ 28.580) per ton pada 2026, dibandingkan 58.400–134.500 yuan pada 2025.

Apakah 2026 akan Jadi Titik Balik Permintaan Litium? 

Harga litium terus turun pada semester pertama 2025, menyentuh level terendah tahun 2025 di 58.400 yuan (Rp 140,16 juta) per ton pada 23 Juni 2025. Penurunan harga litium menekan margin dan harga saham perusahaan tambang di seluruh dunia serta memaksa sebagian produsen untuk memangkas produksi.

Namun, komitmen Cina untuk menindak kelebihan kapasitas di sejumlah sektor termasuk litium pada Juli 2025, serta penghentian produksi pada Agustus 2025 di tambang Jianxiawo milik raksasa baterai Cina CATL yang menyumbang sekitar 3% pasokan global, memicu lonjakan harga dunia.

Harga litium karbonat di Bursa Berjangka Guangzhou melonjak 130% dari titik terendah tahun ini menjadi yang tertinggi sejak November 2023 di 134.500 yuan (Rp 322,8 juta) per ton pada 29 Desember. Harga spot yang dinilai oleh penyedia informasi Fastmarkets naik 108% dalam periode yang sama.

Menurut perhitungan Reuters berdasarkan data UBS permintaan litium untuk penyimpanan energi diperkirakan tumbuh 55% pada 2026, setelah melompat 71% pada 2025.

Broker Guotai Junan memproyeksikan permintaan setara litium karbonat dari penyimpanan energi akan menyumbang 31% dari total konsumsi pada 2026, naik dari 23% pada 2025, menggerus pangsa pasar yang didominasi baterai kendaraan listrik. 

Namun, kemungkinan peralihan lebih cepat dari perkiraan ke teknologi baterai natrium-ion untuk sistem penyimpanan serta melambatnya penjualan kendaraan listrik dapat menekan permintaan, sementara pertumbuhan pasokan akan membatasi kenaikan harga, kata para analis.

Pada Desember 2025, kepala asosiasi mobil penumpang Cina memperingatkan terjadinya penurunan permintaan baterai litium pada kuartal pertama, sebagian akibat penurunan penjualan kendaraan listrik seiring penghapusan bertahap insentif pajak.

Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.

mobile apps preview
Reporter: Nuzulia Nur Rahmah

Cek juga data ini

Artikel Terkait

Video Pilihan
Loading...