Konservasi Indonesia Ajak Individu dan Korporasi Jadi Kawan Konservasi

Hari Widowati
29 Juni 2026, 11:16
Konservasi Indonesia, Kawan Konservasi
Konservasi Indonesia/Arief Indrawan
Aktor sekaligus pegiat lingkungan Ramon Tungka (kiri), Fitri Hasibuan, Vice President Program Konservasi Indonesia (kedua dari kiri), dan Manohara Odelia Pinot, aktris dan pegiat lingkungan serta satwa (kedua dari kanan), dalam peluncuran Kawan Konservasi di Jakarta, Minggu (28/6).
Button AI SummarizeMembuat ringkasan dengan AI

Konservasi Indonesia (KI) meluncurkan program Kawan Koservasi, sebuah inisiatif penggalangan dukungan pelestarian alam berbasis masyarakat. Program ini membuka ruang bagi individu maupun korporasi untuk berkontribusi nyata dalam menjaga keberlanjutan alam nusantara.

Kemitraan strategis ini dirancang sebagai wadah penggalangan dana yang memberikan fleksibilitas bagi individu atau organisasi untuk berkontribusi langsung dalam menjaga kelestarian alam. Vice President Program Konservasi Indonesia Fitri Hasibuan mengatakan program Kawan Konservasi ini sekaligus menjadi media sosialisasi bagi serangkaian aksi nyata yang tengah dan akan dilakukan KI di tingkat tapak. 

Di sektor darat, dukungan publik akan disalurkan untuk memperkuat program penanaman pohon di Sukabumi, Jawa Barat. Sementara di wilayah timur Indonesia, dana yang digalang salah satunya ditujukan untuk mendukung pengembangan ekowisata berbasis masyarakat dan perlindungan Hutan Adat (HA) Konda di Sorong Selatan, Papua Barat Daya. 

“Komitmen perlindungan ini menjadi krusial mengingat wilayah adat di Semenanjung Konda, berdasar pemetaan, secara ekologis didominasi oleh hutan seluas 15.232 hektare, ekosistem mangrove seluas 12.501 hektare, serta dusun sagu seluas 2.508 hektare yang menjadi pilar utama ketahanan pangan lokal,” ujar Fitri dalam peluncuran program Kawan Konservasi di Jakarta, Minggu (28/6).

Hingga saat ini, KI terus konsisten melakukan pendampingan terhadap Masyarakat Hukum Adat (MHA) dari sub-suku Nakna, Gemna, Afsya, dan Yaben. “Dengan total luasan usulan perlindungan mencapai 41.111,81 hektare. Berdasarkan Surat Keputusan Kementerian Kehutanan, potensi luasan yang saat ini berproses untuk disahkan baru mencapai sekitar 19.000 hektare atau setara 48,25% dari total usulan tersebut,” kata Fitri dalam gelar wicara di Jakarta, Minggu (28/6).

Untuk menjaga kekayaan hayati yang ada, sejak tahun 2022 hingga 2025, KI bersama MHA Konda telah melakukan pemantauan intensif terhadap keanekaragaman hayati menggunakan teknologi kamera penjebak (camera trap), sensor akustik, survei transek, hingga patroli rutin berbasis masyarakat.

Proses pelestarian serupa juga telah dilakukan di bagian barat Indonesia di mana KI menjaga kawasan penyangga hulu. Fitri menyatakan KI telah mendampingi masyarakat Sukabumi, Jawa Barat, selama lebih dari dua dekade dalam upaya pemulihan lanskap Gedepahala sebagai penyedia jasa lingkungan yang vital. 

Transformasi sosial dan ekologis ini tidak berhenti di wilayah daratan. KI juga melakukan pendekatan berbasis masyarakat untuk mengubah cara pandang nelayan dan masyarakat di Teluk Saleh, Nusa Tenggara Barat terhadap keberadaan satwa karismatik hiu paus. Kontribusi dari Kawan Konservasi juga mengalir untuk pengelolaan kawasan laut berkelanjutan, termasuk pengelolaan kawasan bentang laut atau LSMPA (Lesser Sunda Marine Protected Area). 

“Bersama pemerintah Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) dan Maluku, KI sedang menyusun perencanaan penetapan kawasan perlindungan laut (Marine Protected Area/MPA) baru di Kabupaten Belu, NTT, dengan target luasan mencapai 12.000 hektare," ujar Fitri. 

Langkah ini menjadi bagian penting dari peran strategis KI sebagai bagian dari Tim Percepatan Pembangunan Sektor Kelautan dan Perikanan di Provinsi NTT dan Maluku.

Langkah Nyata Penyelamatan Lingkungan Hidup

Aktor sekaligus pegiat lingkungan Ramon Tungka, yang turut hadir dalam peluncuran tersebut, memberikan dorongan moral bagi para pengunjung CFD yang masih ragu untuk memulai langkah nyata mereka. "Banyak orang merasa kontribusinya terlalu kecil untuk membuat perubahan di bumi ini, padahal perubahan besar selalu dimulai dari banyak langkah kecil yang dikumpulkan bersama," kata Ramon di sela-sela acara peluncuran Kawan Konservasi.

Lebih lanjut, Ramon menyatakan dalam urusan penyelamatan lingkungan hidup, tidak ada istilah kontribusi yang tidak berharga atau sia-sia karena setiap elemen sekecil apa pun memiliki dampak berantai. 

"Tidak ada kontribusi yang sia-sia dalam menjaga alam, sekecil apa pun nominal atau aksi yang kita berikan, melalui Kawan Konservasi, kita diingatkan kembali bahwa setiap orang punya peran masing-masing, baik kita yang berada di perkotaan dengan dukungan dana, maupun saudara-saudara kita di tapak yang menjaga hutan dan laut secara langsung," ujarnya.

Manohara Odelia, aktris dan pegiat lingkungan hidup serta satwa, mengatakan sangat penting membangun kesadaran kolektif untuk mendukung komunitas lokal yang hidup berdampingan langsung dengan ekosistem sensitif. 

"Masyarakat lokal dan adat adalah pihak yang paling dekat dengan alam, merekalah yang merasakan dampak langsungnya jika lingkungan rusak, sekaligus menjadi garda terdepan pelindungnya," kata Manohara.

Menurutnya, kesadaran kolektif dari masyarakat yang tinggal di perkotaan akan menciptakan perubahan yang massif. "Semakin banyak orang yang terlibat dalam program Kawan Konservasi ini, maka akan semakin besar pula dampak nyata yang bisa kita hadirkan untuk bumi Indonesia," ujarnya. 

add katadata as preferred source
Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.

mobile apps preview

Cek juga data ini

Artikel Terkait

Video Pilihan
Loading...