Membentengi Rumah dari Panas Ekstrem: Cat Putih hingga Atap Pemanen Air

Ajeng Dwita Ayuningtyas
30 Juni 2026, 17:17
Foto udara suasana perumahan KPR subsidi di Tembalang, Semarang, Jawa Tengah, Sabtu. (7/2/2026).
ANTARA FOTO/Aprillio Akbar/bar
Foto udara suasana perumahan KPR subsidi di Tembalang, Semarang, Jawa Tengah, Sabtu. (7/2/2026).
Button AI SummarizeMembuat ringkasan dengan AI

Di era suhu panas yang semakin ekstrem, terdapat sederet cara untuk mendinginkan rumah selain dengan pendingin ruangan (Air Conditioning/AC). Salah satunya, mengecat atap dengan warna putih.

Lapisan putih mampu memantulkan energi matahari sehingga panas tidak seluruhnya terserap ke dalam bangunan. Efeknya, suhu di dalam rumah bisa lebih rendah.

Sebuah studi dari Indian Institute of Public Health pada 2020 menunjukkan rumah yang dilapisi cat pemantul sinar matahari memiliki suhu sekitar satu derajat Celsius lebih rendah dibandingkan rumah tanpa lapisan tersebut.

Selain cat putih, teknologi pelapisan atap yang lebih canggih tengah dikembangkan. Salah satu inovasi terbaru datang dari peneliti University of Sydney, Chiara Neto dan Ming Chiu. Mereka mengembangkan pelapis atap bernama Dewpoint, yang memanfaatkan teknologi nanomaterial untuk memantulkan hampir seluruh energi matahari.

Berbeda dengan cat putih konvensional yang masih menyerap sebagian radiasi matahari, pelapis Dewpoint bekerja melalui mekanisme passive radiative cooling atau pendinginan radiasi pasif. Teknologi ini memungkinkan permukaan atap tetap lebih dingin daripada udara di sekitarnya tanpa bantuan listrik.

Ahli nanoteknologi RMIT University, Baohua Jia, mengatakan teknologi ini dapat membantu mengurangi efek urban heat island atau pulau panas perkotaan, yakni kondisi ketika kawasan yang dipenuhi beton, aspal, dan bangunan menyerap panas matahari sehingga suhunya lebih tinggi dibandingkan daerah sekitarnya.

"Teknologi ini dapat mengurangi suhu lingkungan perkotaan secara signifikan, sekaligus mengurangi tekanan akibat panas dan ketergantungan terhadap pendingin ruangan," ujar Jia, dikutip dari CNN, Selasa (30/6).

Dalam uji lapangan selama enam bulan pada 2025, pelapis Dewpoint mampu memantulkan hingga 96 persen radiasi matahari. Hasilnya, permukaan atap tetap sekitar enam derajat Celsius lebih dingin dibandingkan suhu udara di sekitarnya.

Sementara itu, pengujian sebelumnya pada akhir 2023, menunjukkan atap yang dilapisi Dewpoint memiliki suhu sekitar 30 derajat Celsius, jauh lebih rendah dibandingkan atap berwarna gelap. Perbedaan tersebut diperkirakan dapat memangkas kebutuhan energi untuk pendinginan rumah hingga 34 persen.

Menangkal Panas Sekaligus Memanen Air dari Udara

Tak hanya membuat bangunan lebih sejuk, pelapis ini juga memiliki kemampuan yang tidak dimiliki cat pada umumnya: memanen air dari udara.

CEO perusahaan rintisan Dewpoint, Perzaan Mehta, menjelaskan, ketika permukaan atap dijaga lebih dingin daripada udara di sekitarnya, uap air akan mengembun menjadi tetesan air, serupa embun yang terbentuk di bagian luar gelas berisi minuman dingin.

Air tersebut kemudian dapat dialirkan ke sistem penampungan air hujan untuk dimanfaatkan sebagai air irigasi atau disaring menjadi air konsumsi.

Meski masih dalam tahap pengembangan, uji coba awal menunjukkan sistem ini mampu menghasilkan sekitar 74 liter air per hari dari atap seluas 200 meter persegi.

"Jumlah itu kira-kira setara dengan air yang digunakan untuk mandi selama lima menit di wilayah yang memiliki pasokan air melimpah," kata Mehta.

Teknologi ini memang belum dapat memenuhi seluruh kebutuhan air rumah tangga. Namun, di tengah ancaman gelombang panas dan kekeringan yang semakin sering terjadi, sistem tersebut berpotensi menjadi sumber air tambahan sekaligus mengurangi konsumsi energi untuk pendinginan bangunan.

Agar bekerja optimal, teknologi ini membutuhkan kelembapan relatif sekitar 70 persen atau lebih. Kondisi tersebut banyak ditemukan di kawasan pesisir tropis, termasuk Singapura, maupun wilayah Amazon di Amerika Selatan.

Menurut Jia, pemanenan air secara pasif merupakan salah satu bidang yang berkembang paling pesat dalam teknologi pendinginan radiatif. Meski demikian, efektivitasnya masih dipengaruhi oleh tingkat kelembapan, kecepatan angin, dan suhu lingkungan sehingga pengembangan terus dilakukan agar teknologi ini dapat diterapkan di wilayah yang lebih kering.

add katadata as preferred source
Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.

mobile apps preview
Reporter: Ajeng Dwita Ayuningtyas

Cek juga data ini

Artikel Terkait

Video Pilihan
Loading...