Karhutla 2026 Meluas, Akankah Krisis Asap Asia 2015 Terulang?
Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) masif di Kalimantan telah menyebabkan bencana asap. Situasi ini memaksa sejumlah sekolah di Kalimantan Barat dan Serawak Malaysia libur serta pembatalan penerbangan. Kekhawatiran pun mencuat akan berulangnya krisis asap Asia 2015, saat asap karhutla Indonesia menyebabkan Asia berubah "kelabu".
Kekhawatiran ini bukan tanpa alasan. Sejumlah pakar klimatologi memprediksi El Nino 2026-2027 akan menjadi yang terkuat sepanjang sejarah, mengalahkan El Nino 2015. Fenomena iklim ini membuat kemarau semakin kering dan panjang. Kebakaran yang disengaja maupun tidak disengaja berisiko cepat menjalar dan sulit dipadamkan.
Saat ini, El Nino belum mencapai puncaknya, namun luasan kebakaran sudah masif. Luasan karhutla pada Januari-Juli sudah mencapai 202 ribu hektare. Luasan ini sekitar dua kali lipat periode sama tahun 2023 dan 2019, saat fenomena El Nino juga melanda. Namun, tak seluas periode sama tahun 2015 -- tahun krisis asap Asia -- dimana luasannya mencapai 600 ribu hektare.
Menteri Lingkungan Hidup Jumhur Hidayat mengatakan, pemerintah sudah berkomunikasi dengan negara tetangga yang terdampak. “Kami sudah ngobrol sama Singapura, Malaysia, kami sudah ketemu sama menterinya. Nah mereka paham lah, mereka juga menghirup oksigen bertahun-tahun dari kita (Indonesia) kan,” kata dia saat ditemui di Jakarta, Kamis (20/8).
Sebelumnya, Jumhur mengeluarkan Surat Edaran yang isinya meminta pemerintah daerah untuk melarang pembukaan lahan dengan cara membakar. Kepala daerah diminta melakukan moratorium peraturan yang mengizinkan praktik tersebut, serta menerapkan sanksi hukum bagi yang melanggar.
Ancaman karhutla meluas dan kabut asap memburuk masih akan terus membayangi setidaknya dalam tiga bulan ke depan. Ini mengingat puncak El Nino diperkirakan baru akan terjadi pada Oktober-November, begitu juga musim hujan biasanya dimulai pada November.
Menurut Jumhur, tim di lapangan terus melakukan upaya pemadaman. “Sekarang lagi kerja untuk matiin api, terus-terusan,” ujarnya.
Kemungkinan bencana tahun ini menyamai 2015 tergantung pada upaya penanganan pemerintah. Namun, dalam rapat dengan Komisi IV DPR, Menteri Kehutanan Raja Juli Antoni masih mengisyaratkan optimisme bencana karhutla dan asap tidak akan semasif 2015.
"Insyaallah kami mempunyai kemampuan, pengalaman yang lebih baik ya, meskipun kondisi El Nino-nya sama dengan 2015,” ujarnya di Gedung DPR, Jakarta, Selasa (18/8).
Sejarah Karhutla Skala Besar di Indonesia
Secara historis, Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mencatat beberapa kali karhutla skala besar, kebanyakan terjadi bertepatan dengan fenomena El Nino. Meskipun, ini dijelaskan bukan sebagai penyebab utama. Pasalnya, berbagai kajian menunjukkan bahwa sebagian besar karhutla di Indonesia dipicu oleh aktivitas manusia yaitu pembukaan lahan dengan membakar.
Salah satu episode karhutla terbesar Indonesia terjadi pada tahun 1997-1998. Kebakaran meluas di Sumatra dan Kalimantan, terutama pada ekosistem gambut, dengan luas area terbakar diperkirakan mencapai sekitar 9 juta hektare. Peristiwa tersebut menjadi salah satu bencana lingkungan terbesar di kawasan Asia Tenggara.
Karhutla kembali terjadi dalam skala besar pada 2006, 2013, dan 2015. Dari rangkaian peristiwa tersebut, 2015 menjadi salah satu yang paling parah dalam sejarah kebakaran Indonesia. BNPB mencatat 129.813 titik panas terdeteksi lewat satelit selama 2015. Hutan dan lahan seluas 2,61 juta hektar -- terbanyak di Sumatra dan Kalimantan -- terbakar.
Asap pekat dilaporkan mengepung sejumlah wilayah dalam waktu berbulan-bulan, dengan jarak pandang di beberapa lokasi turun hingga hanya 100 meter. Indeks Standar Pencemaran Udara (ISPU) bahkan tercatat menembus lebih dari 2.000, masuk kategori sangat berbahaya. Aktivitas pendidikan dan penerbangan di wilayah paling terdampak di dalam negeri lumpuh selama 2-3 bulan.
Krisis asap ketika itu melampaui batas wilayah Indonesia. Asap dari Sumatra dan Kalimantan terbawa angin hingga ke negara-negara tetangga, terutama Singapura dan Malaysia, mengganggu kualitas udara dan aktivitas masyarakat di kawasan.
Peneliti Columbia University yang bekerja di NASA Goddard Institute for Space Studies, Robert Field, menyebut kebakaran Indonesia pada 2015 sebagai peristiwa paling signifikan dalam 15 tahun catatan satelit.
"Kepulan asapnya membentang hingga separuh keliling dunia di sekitar garis khatulistiwa, sementara wilayah rawan kebakaran diselimuti asap pekat selama enam hingga delapan pekan tanpa henti," kata Goddard pada September 2016, dikutip dari situs NASA.
Merujuk pada data BNPB, bencana karhutla ketika itu menyebabkan 24 orang meninggal, sekitar 600 ribu orang mengalami infeksi saluran pernapasan akut (ISPA), dan lebih dari 60 juta orang terpapar asap.
Secara ekonomi, Bank Dunia memperkirakan kerugian akibat kebakaran dan asap pada 2015 mencapai US$ 1,6 miliar atau setara Rp221 triliun dengan kisaran kurs rupiah saat itu. Ini setara 1,9 persen dari PDB Indonesia pada tahun tersebut.
Kerugian tersebut mencakup dampak terhadap pertanian, kehutanan, perdagangan, pariwisata, transportasi, kesehatan, pendidikan, hingga biaya penanggulangan kebakaran.
"(Estimasi kerugian akibat karhutla 2015) ini lebih dari dua kali lipat biaya rekonstruksi Aceh setelah tsunami 2004," demikian tertulis dalam Laporan bertajuk The Cost of Fire yang dirilis Bank Dunia pada Februari 2016.
Agustus Masih Tertolong Cuaca Basah di Asean Bagian Utara
Pusat Meteorologi Asean (ASMC) melaporkan, kepulan asap dengan intensitas sedang hingga pekat terpantau berasal dari sejumlah kelompok titik panas di berbagai wilayah Kalimantan. Asap yang berasal dari titik panas di Kalimantan Barat menyebar hingga ke Sarawak, Malaysia.
ASMC memprediksi kondisi kering masih terjadi di sebagian besar wilayah Asean bagian selatan. Sedangkan bagian utara Kalimantan dan Semenanjung Malaysia, serta bagian utara dan barat Sumatra diperkirakan masih mengalami hujan. Ini setidaknya akan menjadi "peredam" bencana kebakaran dan asap di bulan Agustus.
"Kondisi ini membantu menekan kemunculan titik panas dan kabut asap," demikian tertulis dalam analisis ASMC yang diperbaharui pada Kamis (20/8) siang.
Ke depan, titik panas dan kabut asap disebut berpotensi terus meningkat di wilayah yang mengalami periode cuaca kering berkepanjangan. "Risiko terjadinya kabut asap lintas batas juga masih ada," begitu tertulis.
Data stasiun pemantauan IQAir, kualitas udara sejumlah titik di Kalimantan dan Sarawak tergolong tidak sehat hingga sangat tidak sehat pada Kamis (20/8). Ibukota Sarawak, Kuching, masuk dalam jajaran kota dengan kualitas udara terburuk di dunia.



