Misteri Suara Dentuman di Jawa Barat, Benarkah dari Anak Krakatau?
Sumber suara dentuman yang terdengar warga di Jawa Barat pada akhir pekan lalu menemui titik terang. Badan Metorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menyimpulkan bahwa suara kemungkinan besar bersumber dari erupsi Gunung Krakatau.
Kesimpulan ini diambil dari analisis tingkat lanjut dengan menggunakan data aktivitas magnet bumi, petir, hingga dinamika atmosfer.
"Berdasarkan seluruh integrasi data pemantauan instrumen dan pemodelan visual tersebut, disimpulkan bahwa suara dentuman yang dilaporkan warga kemungkinan besar bersumber dari rambatan gelombang seismik akustik akibat erupsi Gunung Anak Krakatau," demikian tertulis dalam hasil analisis terbarunya.
Lantas, bagaimana suara bisa terdengar kencang di Bandung, Jawa Barat, namun samar bahkan tak terdengar di lokasi yang lebih dekat dari Anak Krakatau?
BMKG menjelaskan bahwa permodelan atmosfer menunjukkan gelombang suara Anak Karakatau tidak merambat lurus mengikuti permukaan bumi. Dinamika angin dan suhu membuat gelombang suara membelok ke lapisan atmosfer yang lebih tinggi.
Fenomena ini menciptakan acoustic shadow zone atau zona bayangan suara. Banten, Jakarta, dan Bogor yang relatif lebih dekat dengan Anak Gunung Krakatau bisa jadi berada di zona tersebut sehingga warga yang berada di wilayah itu tidak mendengar suara dentuman atau mendengar tapi samar.
Sebaliknya, pada jarak yang lebih jauh seperti Bandung, sebagian energi akustik bisa turun kembali dan mencapai permukaan akibat proses refraksi serta hamburan di atmosfer.
BMKG juga menemukan adanya perbedaan arah angin pada beberapa bagian atmosfer yang dapat membantu dalam membelokkan sekaligus merambatkan gelombang suara menuju Bandung.
Pakar Vulkanologi ITB Sempat Singgung Soal Zona Bayangan Suara
Pakar Vulkanologi dari Fakultas Ilmu dan Teknologi Kebumian Institut Teknologi Bandung (ITB) Mirzam Abdurrachman mengatakan, untuk memastikan keterkaitan dentuman dan aktivitas Gunung Anak Krakatau, perlu kajian yang menggabungkan sejumlah data.
“Di antaranya adalah waktu terjadinya erupsi dan waktu kedatangan suara di berbagai wilayah, kondisi atmosfer saat kejadian, karakteristik sinyal suara, hingga data pengamatan dari sejumlah titik di Jawa bagian barat,” kata Mirzam, dalam keterangan resmi dikutip pada Senin (7/9).
Mirzam kemudian menyebutkan tentang acoustic shadow zone atau zona bayangan suara, sebagai salah satu hipotesis yang dapat digunakan untuk mengkaji insiden ini.
Dia menjelaskan, suara tidak selalu merambat lurus dari sumber menuju penerimanya. Kondisi atmosfer dapat mengubah jalur rambat gelombang suara. Sebab itu, ada kemungkinan suara tidak terdengar jelas di wilayah yang dekat dengan sumber, tapi justru terdengar di wilayah yang jauh dari sumber.
“Perubahan temperatur serta arah dan kecepatan angin pada ketinggian tertentu, misalnya, dapat memengaruhi kecepatan rambat suara,” ujar Mirzam.
“Kondisi tersebut dapat membuat gelombang suara mengalami pembiasan atau dibelokkan ke atas,” ucapnya menambahkan.
Namun, ini tidak secara otomatis membuktikan bahwa suara yang didengar warga berasal dari aktivitas Gunung Anak Krakatau. Kondisi topografi atau morfologi wilayah dan keberadaan penghalang antara sumber suara dan penerimanya juga perlu diteliti.
BMKG Sempat Ragukan Sumbernya Anak Krakatau
Sebelumnya, BMKG menilai kemungkinannya kecil bahwa dentuman yang terdengar di Bandung Raya berkaitan dengan erupsi Anak Krakatau.
Alasannya, saat kejadian angin bertiup dari timur ke barat. Kondisi tersebut membuat peluang gelombang suara merambat dari Anak Krakatau ke Jawa Barat, yang berada di sisi timur gunung, menjadi kecil.
Meski begitu, BMKG menemukan sejumlah anomali yang terjadi berdekatan dengan waktu dentuman. Pertama, anomali pada alat pemantau gempa (seismogram) di Pulau Sebesi, Lampung. Kedua, gangguan magnetik internal bumi di Sukabumi dan Serang pada Jumat (4/9) malam hingga Sabtu (5/9) dini hari.
“Namun, BMKG menekankan bahwa seluruh temuan anomali ini belum dapat secara langsung dikaitkan sebagai penyebab pasti suara dentuman tersebut,” ujar Kepala Stasiun Geofisika Bandung Suaidi Ahadi.
Yang jelas, dia memastikan dentuman bukan karena gempa bumi lokal. Data pemantauan kegempaan BMKG tidak menunjukkan adanya aktivitas seismik di wilayah Bandung dan sekitarnya pada rentang waktu tersebut.

