Hiu Paus Berulang Kali Terdampar, Ada Apa dengan Perairan Indonesia?
Kabar hiu paus terdampar datang berturut-turut dari sejumlah wilayah pesisir Indonesia. Terbaru, seekor hiu paus terdampar di Pantai Lowolabo, Kabupaten Sikka, Nusa Tenggara Timur, pada Rabu (28/10). Satwa tersebut kemudian dipotong-potong dan dikonsumsi warga.
Sebelumnya, hiu paus juga ditemukan terdampar di Pantai Parangkusumo, Yogyakarta, pada pertengahan Oktober. Sejak Mei hingga Juli 2026, setidaknya lima hiu paus juga dilaporkan terdampar di pesisir Cilacap, Jawa Tengah. Lantas, apa yang menyebabkan hiu paus berulang kali terdampar di sejumlah wilayah tersebut?
Pakar Konservasi Sumber Daya Hayati Laut Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) Mujiyanto menjelaskan, kejadian hiu paus terdampar bukan hal baru. Ada sejumlah faktor alam maupun aktivitas manusia yang dapat memicu kejadian tersebut.
"Kejadian terdampar di selatan Jawa berkaitan dengan musim upwelling yang meningkatkan kesuburan perairan," kata Mujiyanto kepada Katadata pada Senin (2/11). Namun, dia menegaskan, penyebab terdamparnya hiu paus perlu dipastikan melalui pemeriksaan pada setiap kejadian.
Dalam satu dekade, ratusan hiu paus terdampar di pesisir Indonesia. Studi bertajuk Spatio-temporal patterns, trends, and oceanographic drivers of whale shark strandings in Indonesia (2025) mencatat 115 kejadian yang melibatkan 127 individu hiu paus sepanjang 2011-2023.
Sebagian besar hiu paus yang terdampar merupakan individu muda berukuran besar (large juveniles), dengan panjang tubuh sekitar 4-7 meter. Kelompok ini memiliki peran penting dalam pemulihan populasi. Sebagai informasi, hiu paus merupakan jenis ikan yang dilindungi secara nasional dan berstatus terancam punah (endangered) menurut International Union for Conservation of Nature (IUCN).
Studi yang terbit di jurnal Scientific Reports tersebut juga mencatat bahwa 52 kejadian melibatkan hiu paus yang ditemukan dalam keadaan hidup. Sedangkan 46 kejadian lainnya melibatkan hiu paus yang ditemukan dalam kondisi baru mati (freshly dead). Sisanya ditemukan dalam kondisi pembusukan sedang hingga lanjut.
Kematian hiu paus tertinggi tercatat pada 2022 dan 2023, masing-masing mencapai 15 individu.
Fenomena Upwelling dan Ancaman Terdampar
Sejalan dengan penjelasan Mujiyanto, studi tersebut menemukan bahwa kejadian hiu paus terdampar, baik secara tunggal maupun massal, di sepanjang pantai selatan Jawa dan Nusa Tenggara berkaitan erat dengan fenomena upwelling.
Fenomena ini terjadi ketika massa air yang lebih dingin dan kaya nutrien dari lapisan laut yang lebih dalam naik ke permukaan.
“Upwelling kemungkinan menarik hiu paus ke daerah-daerah ini karena mereka mengejar krill atau ikan kecil seperti teri ke perairan dangkal, sehingga meningkatkan risiko terdampar,” demikian dikutip dari hasil studi.
Kejadian hiu paus terdampar di pesisir selatan Jawa dan Nusa Tenggara banyak berlangsung selama periode angin monsun tenggara dan transisi musiman II, yakni Juni-November. Pada periode tersebut, upwelling cenderung menguat.
Penelitian BRIN lainnya juga menemukan bahwa fenomena Indian Ocean Dipole (IOD) positif dan El Nino dapat memperkuat proses upwelling di selatan Jawa hingga barat Sumatra.
Mujiyanto menambahkan, saat upwelling terjadi, gelombang tinggi dapat menyulitkan hiu paus yang sudah berada di perairan dangkal untuk kembali ke laut lepas. Fenomena ini juga dapat menurunkan suhu air permukaan secara drastis.
Dengan demikian, bukan hanya keberadaan mangsa yang menarik hiu paus mendekati pesisir. Perubahan suhu perairan dan gelombang tinggi juga dapat meningkatkan risiko satwa tersebut terjebak di perairan dangkal. Jika terus terdorong gelombang dan gagal kembali ke laut lepas, hiu paus berisiko mengalami kelelahan hingga mati.
Tak Hanya Faktor Alam
Mujiyanto menjelaskan aktivitas penangkapan ikan, tabrakan dengan kapal, dan pencemaran laut bisa turut menjadi faktor pemicu hiu paus berujung terdampar di pesisir.
Dia menjelaskan, saat upwelling terjadi, hiu paus dapat mengikuti pergerakan mangsa hingga ke perairan pesisir. Pada saat bersamaan, nelayan juga memasang jaring untuk menangkap ikan yang melimpah di wilayah tersebut. Akibatnya, hiu paus berisiko tersangkut jaring nelayan.
Soal tabrakan dengan kapal, Mujiyanto mengatakan, memang belum ada studi yang membuktikan ini sebagai faktor penyebab hiu paus terdampar di perairan Indonesia, tapi kemungkinan ini karena terbatasnya nekropsi (otopsi pada hewan).
Sedangkan kasus yang terkait pencemaran laut sudah pernah ditemukan. Nekropsi sempat dilakukan terhadap dua individu hiu paus yang terdampar di pesisir Kebumen, Jawa Tengah, pada 2023. Hasil pemeriksaan menunjukkan kedua satwa mengalami degenerasi lemak pada hati dan nekrosis ginjal. Kondisi tersebut diduga berkaitan dengan paparan zat beracun di wilayah pesisir.
Studi yang sama juga menemukan indikasi eutrofikasi, yakni pencemaran perairan akibat kelebihan nutrien, di sekitar lokasi terdamparnya hiu paus. Peneliti menduga kondisi tersebut berkaitan dengan limbah kegiatan budidaya perikanan, khususnya sisa pakan udang.
Dorongan Penyelamatan dan Imbauan Hindari Konsumsi
Meski 52 kejadian dalam studi tersebut melibatkan hiu paus yang ditemukan dalam keadaan hidup, tidak semuanya berhasil diselamatkan. Studi tersebut mencatat tingkat keberhasilan pelepasan kembali hiu paus ke laut mencapai 71 persen. “Masih ada ruang untuk perbaikan dengan memperkuat jaringan respons terdampar yang ada di negara ini,” demikian dikutip dari hasil studi.
Peneliti merekomendasikan penguatan kapasitas masyarakat dan tim evakuasi dalam menangani hiu paus terdampar. Upaya ini mencakup pelatihan identifikasi melalui foto, penentuan jenis kelamin, serta pemahaman mengenai perbedaan biologis antara mamalia laut seperti paus besar dan ikan hiu paus. Pengetahuan tersebut diperlukan agar penanganan satwa sesuai dengan karakteristik biologisnya.
Peneliti juga menekankan pentingnya pemantauan dan penyelamatan satwa yang terdampar. Jika satwa tidak berhasil diselamatkan, nekropsi perlu dilakukan apabila memungkinkan untuk mengidentifikasi faktor-faktor yang mungkin menyebabkan stres atau kematian.
“Jika satwa tidak selamat, nekropsi harus dilakukan jika memungkinkan, untuk membantu mengidentifikasi potensi faktor penyebab stres,” tulis para peneliti dalam studi tersebut.
Di sisi lain, Mujiyanto meminta warga untuk menghindari praktik konsumsi hiu paus terdampar. Sebab, keamanan daging untuk dikonsumsi tidak bisa dipastikan hanya dari kondisi fisiknya. Pemeriksaan laboratorium diperlukan untuk mengetahui apakah daging satwa tersebut aman dikonsumsi.
