Wall Street Menghijau Efek Data Ketenagakerjaan AS

Rahayu Subekti
9 Juni 2025, 09:41
Ilustrasi bursa Wall Street, New York Stock Exchange, Amerika Serikat
Unsplash.com
Ilustrasi bursa Wall Street, New York Stock Exchange, Amerika Serikat
Button AI SummarizeMembuat ringkasan dengan AI

Bursa saham Amerika Serikat tercatat menguat sepanjang pekan lalu. Pemulihan ini mendorong sejumlah saham-saham utama AS berada mendekati level puncak rekor.

Melansir Reuters, Senin (9/6), indeks S&P ditutup di atas level 6.000 yang menjadi pertama kalinya sejak akhir Februari 2026. Indeks S&P menguat 1,5% sepanjang perdagangan 2-6 Juni 2026. Penguatan didukung oleh laporan pekerjaan bulanan AS yang meredakan kekhawatiran tentang ekonomi.

Sedangkan indeks Dow Jones Industrial Average menguat 1,17% dan Nasdaq meningkat 2,18% dalam sepekan. Pada perdagangan akhir pekan lalu, indeks ditutup di zona hijau setelah laporan ketenagakerjaan bulanan AS yang bisa meredakan kekhawatiran ekonomi.

Pasar ekuitas dinilai berhasil bangkit kembali dari penurunan tajam pada April 2025. Hal ini dipicu oleh kekhawatiran tentang dampak ekonomi dari rencana tarif Presiden AS Donald Trump.

Meski begitu, Kepala Investasi Plante Moran Financial Advisors, Jim Baird menilai pasar masih akan bersikap hati-hati. “Masih berhati-hati meskipun ada pemulihan dari titik terendah, saya tetap berpikir bahwa pasar masih mencari kejelasan yang lebih besar,” kata Baird.

Beragam Faktor yang Mempengaruhi Pasar Pekan Ini

Laporan inflasi bulanan AS akan menjadi laporan utama yang akan mempengaruhi peristiwa-peristiwa pasar pada minggu mendatang. Laporan indeks harga konsumen untuk Mei 2025 akan dirilis pada Rabu (11/6) dan dapat memberikan wawasan tentang dampak tarif pada saat investor waspada terhadap lonjakan inflasi.

"Konsumen merasakan dampak dari harga yang lebih tinggi dan jika ada indikasi bahwa inflasi jangka pendek dapat meningkat kembali, hal itu akan memberikan tekanan lebih lanjut pada pengeluaran diskresioner dan pada akhirnya dapat menyebabkan perlambatan pertumbuhan yang lebih nyata," kata Baird.

Laporan CPI juga akan menjadi salah satu data kunci terakhir sebelum pertemuan Federal Reserve alias The Fed pada 17-18 Juni 2025. Bank sentral AS secara luas diharapkan mempertahankan suku bunga tetap pada pertemuan tersebut.

Hanya saja, para investor memperkirakan akan ada dua pemotongan suku bunga sebesar 25 basis poin pada akhir tahun. "Jika kita melihat data inflasi yang menentang apa yang dikhawatirkan orang berdasarkan pembicaraan tarif ini dan hasilnya lebih dingin, maka itu juga bisa menjadi katalis untuk setidaknya menguji level tertinggi sebelumnya," kata Kepala Strategi Global di Freedom Capital Markets, Jay Woods.

Investor juga masih harus menghadapi ketidakpastian atas pemotongan pajak dan RUU anggaran belanja yang sedang ditinjau di Senat AS. Wall Street memantau seberapa besar undang-undang tersebut dapat merangsang pertumbuhan ekonomi, tetapi juga meningkatkan beban utang negara.

Hal ini karena defisit fiskal yang melebar telah menjadi perhatian utama pasar dalam beberapa minggu terakhir. "Seiring meningkatnya utang, hal itu memiliki dampak negatif yang lebih besar pada pertumbuhan," kata Kepala Strategi Pasar di Man Group, Kristina Hooper.

Undang-undang tersebut juga tampaknya menjadi sumber keretakan parah antara Trump dan Elon Musk yang membebani indeks saham.

Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.

mobile apps preview
Reporter: Rahayu Subekti
Editor: Yuliawati

Cek juga data ini

Artikel Terkait

Video Pilihan
Loading...