Manuver Energi Terbarukan TBS Energi (TOBA), Sinyal Kerja Sama Proyek Danantara?

Nur Hana Putri Nabila
31 Juli 2025, 13:10
TOBA
Dok. TBS Energy
Button AI SummarizeMembuat ringkasan dengan AI

PT TBS Energi Utama Tbk (TOBA) gencar melakukan aksi korporasi sepanjang tahun ini. Aksi itu dilakukan seiring dengan pengumuman Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (BPI Danantara) untuk turut  mendorong proyek strategis nasional di sektor energi dinilai bakal menguntungkan sejumlah emiten energi. 

Komitmen Danantara untuk mendorong sejumlah proyek bidang energi baru terbarukan atau EBT dinilai turut menjadi sinyal kebangkitan emiten yang bergerak di sektor ini. Sepanjang tahun ini, TOBA telah mengakuisisi sejumlah perusahaan asal Singapura yakni Sembcorp Environment Pte. Ltd dan Sembcorp Enviro Facility Pte. Ltd. Akuisisi ini dilakukan untuk memperkuat portofolio TOBA di bidang energi terbarukan dalam mengelola sampah.

Head of Corporate Finance & Investor Relations TOBA, Mirza Rinaldi Hippy, mengungkapkan perusahaan mulai masuk ke bisnis tersebut sejak Agustus 2023 melalui akuisisi Asian Medical & Bioservices. Proyek ini berfokus pada pengelolaan limbah medis dengan kapitalisasi pasar sekitar 55–90%. 

Salah satu nilai strategis dari aset ini adalah adanya unsur waste to energy yaitu limbah yang dikumpulkan dibakar, lalu uap (steam) hasil pembakaran tersebut dijual ke kawasan industri di Singapura. Proyek ini telah terikat dalam kontrak jangka panjang selama 20 tahun.

“Kami menyukai bisnis yang memiliki karakteristik stable revenue generating, jadi bidang-bidang infra like bisnis seperti PLTU,” jelas Mirza dalam diskusi terbatas di Kantor TBS Energi Utama, Jakarta, Rabu (30/7).

Pembangkit Listrik EBT

Mirza menuturkan TBS Energi juga mengembangkan lini usaha di sektor energi baru terbarukan. Saat ini, TOBA telah mengoperasikan pembangkit listrik mini hydro berkapasitas 6 megawatt (MW) di Lampung sejak Januari 2025.

Tak hanya itu, perusahaan juga tengah menggarap proyek Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) Terapung Tembesi di Batam yang dibangun di atas Waduk Tembesi milik BP Batam seluas sekitar 800 hektare. Proyek ini memiliki kapasitas hingga 46 MW dan telah mengantongi kontrak jangka panjang selama 25 tahun dengan PLN Batam. Adapun operasional pembangkit ditargetkan dimulai pada akhir 2025.

“Di mana sebenarnya secara undang-undang itu kami bisa utilize sekitar 25-30% dari area tersebut untuk kami kembangkan menjadi floating solar,” Ujar Mirza. 

EV Ekosistem Baterai

Fokus bisnis lainnya adalah rencana TBS Energi meramaikan EV ekosistem baterai. Bisnis ini dijalankan bersama PT GoTo Gojek Tokopedia Tbk (GOTO). Melalui kerja sama ini, TBS Energi menyuplai baterai untuk sejumlah motor listrik milik GOTO. kami bermain di ekosistem, dari ekosistem adalah dari EV maupun dari sisi baterai maupun sistem penukaran baterainya atau yang kita bilang, battery swapping stations. 

“Jadi memang ini adalah snapshot dari TBS Energi Utama dengan tiga bisnis pilar yang akan kami fokuskan ke depannya,” tutupnya.

Terkait potensi kerja sama dengan Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara alias BPI Danantara Indonesia, Head of Corporate Finance & Investor Relations TOBA, Mirza Rinaldy Hippy menyatakan belum ada komunikasi terkait hal itu. Meski begitu, perusahaan terbuka terhadap peluang selama sesuai dengan kapabilitas yang dimiliki dan akan mengikuti sesuai dengan prosedur yang berlaku di Danantara.

"Tapi apabila ada (kerja sama) pun, saya rasa kami harus melihat bahwa kami punya kapabilitas. Yang pertama, kami punya pengalaman di Singapura dengan pembangunan Waste to Energy yang sudah berjalan operasional," ucap Mirza.

Berpotensi Terdongkrak Proyek Danantara

Sebelumnya Senior Analyst Riset Kiwoom Sekuritas Sukarno Alatas menyebut, PT TBS Energi Utama Tbk (TOBA) berpotensi terdongkrak seiring dengan gencaran proyek strategis nasional di sektor energi.

Menurut Sukarno, PT TBS Energi Utama Tbk (TOBA) memiliki prospek positif karena pengembangan proyek energi terbarukan (EBT) sebesar 370 MW yang tengah digencarkan perseroan.  “Termasuk PLTS dan proyek tenaga angin,” kata Sukarno. 

Lebih lanjut, Sukarno menyampaikan TOBA juga mulai mengembangkan ekosistem EV dan carbon credit, sehingga menjadikan TOBA salah satu emiten dengan transformasi EBT yang cukup agresif. “Emiten ini memiliki tantangan yaitu eksekusi proyek dan kebutuhan modal besar,” kata Sukarno mengenai tantangan yang akan dihadapi TOBA ke depan.

Danantara sebelumnya juga membeberkan potensi kerja sama investasi di bidang Energi Baru Terbarukan (EBT) dengan perusahaan Jepang, Mitsubishi Corporation (Tokyo). Investasi ini merupakan bagian dari rencana strategis pengembangan energi hijau Tanah Air.   

Hal itu disampaikan oleh Chief Executive Officer (CEO) Danantara Indonesia, Rosan Roeslani, dalam pertemuan  Mitsubishi Corporation (Tokyo) dan entitas afiliasinya, PT Donggi Senoro LNG dan PT Diamond Gas Management Indonesia. 

Rosan menyebut kerja sama itu sejalan dengan nota kesepahaman yang telah ditandatangani antara Danantara dan Japan Bank for International Cooperation (JBIC) beberapa waktu lalu di Jepang. 

COO LNG Asia-Pacific Division, Environmental Energy Group, Mitsubishi Corporation, Mr. Gen Kunihiro, menyampaikan tertarik untuk terlibat dalam proyek-proyek transisi menuju ekonomi hijau dan digital di Indonesia. 

“Khususnya di sektor panas bumi atau geothermal,” tulis Rosan dalam kanal resmi media sosial Instagramnya, dikutip Rabu (30/7). 




Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.

mobile apps preview
Reporter: Nur Hana Putri Nabila

Cek juga data ini

Artikel Terkait

Video Pilihan
Loading...