IHSG Rawan Anjlok, Saham BBTN, BRIS dan SSIA Jadi Rekomendasi

Nur Hana Putri Nabila
6 Agustus 2025, 06:24
IHSG
ANTARA FOTO/M Risyal Hidayat/aww.
Karyawan melintas di bawah layar pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di gedung Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Rabu (20/5/2020).
Button AI SummarizeMembuat ringkasan dengan AI

Indeks Harga Saham Gabungan atau IHSG diproyeksikan rawan anjlok pada perdagangan saham hari ini, Rabu (6/8). Sebelumnya IHSG ditutup naik ke level 7.515 atau 0,68% pada Selasa (5/8) kemarin.

Menurut analis MNC Sekuritas Indonesia, Herditya Wicaksana, pergerakan IHSG kini disertai dengan munculnya volume pembelian. MNC Sekuritas memperkirakan, posisi IHSG saat ini masih rawan terkoreksi ke rentang area 7.259-7.415 sekaligus menguji area support terdekat. Adapun level support IHSG berada di 7.240 dan 7.415.

“Sementara resistance terdekat berada di 7.675 dan 7.758,” tulis Herditya dalam risetnya, Rabu (6/8). 

Support merupakan area harga saham tertentu yang diyakini sebagai titik terendah pada satu waktu. Saat menyentuh support, harga umumnya akan kembali naik karena daya beli saham naik.  

Sedangkan resistance merupakan tingkat harga saham tertentu yang dinilai sebagai titik tertinggi. Setelah saham menyentuh level ini, biasanya akan ada aksi jual cukup besar hingga laju kenaikan harga tertahan.

MNC Sekuritas merekomendasikan saham PT Astra Otoparts Tbk (AUTO), PT Bank Syariah Indonesia Tbk (BRIS), PT Ciputra Development Tbk (CTRA), dan PT Charoen Pokphand Indonesia Tbk (CPIN).

Di samping itu, Phintraco Sekuritas menyebut pulihnya IHSG pada kemarin sore dipicu oleh ekspektasi penurunan suku bunga The Fed, serta data PDB kuartal kedua 2025 yang di atas perkiraan. Saham sektor consumer cyclical naik paling tinggi, sedangkan saham sektor basic material mengalami koreksi terbesar. 

Lalu pertumbuhan ekonomi Indonesia mencatat rebound pada kuartal II 2025 dengan kenaikan 3,7% secara kuartalan (QoQ), membalikkan kontraksi 0,98% pada kuartal sebelumnya. Angka ini juga sedikit lebih tinggi dari perkiraan pasar sebesar 3,7%. Kinerja kuartalan tersebut jadi yang tertinggi sejak kuartal III 2020, ditopang oleh meningkatnya aktivitas konsumsi selama periode libur keagamaan dan musim wisata.

Konsumsi rumah tangga tumbuh 3,14%, terdorong oleh realisasi paket stimulus pemerintah senilai Rp 24 triliun. Secara tahunan (YoY), ekonomi Indonesia tumbuh 5,12% di kuartal II 2025, meningkat dari 4,87% pada kuartal sebelumnya dan melampaui ekspektasi sebesar 4,8%. Ini menjadi laju pertumbuhan tahunan tercepat sejak kuartal II 2023 dan memicu optimisme terhadap prospek ekonomi yang lebih solid sepanjang tahun 2025.

Secara teknikal, Phintraco Sekuritas menyebut volume beli mengalami kenaikan di pasar. Meski begitu, diperkirakan IHSG berpotensi uji resistance 7.550-7.580, meski masih dibayangi risiko profit taking.

Phintraco Sekuritas merekomendasikan saham PT Bank Mandiri (Persero) Tbk (BMRI), PT Bank Syariah Indonesia Tbk (BRIS), PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk (BBTN), PT Surya Semesta Internusa Tbk (SSIA), dan PT Sariguna Primatirta Tbk (CLEO).



Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.

mobile apps preview
Reporter: Nur Hana Putri Nabila

Cek juga data ini

Artikel Terkait

Video Pilihan
Loading...