Kisah IPO Enam Emiten Saat Krisis 1998, Tiga Perusahaan Masih Ada di BEI
Krisis moneter yang melanda Indonesia pada 1998 membuat perusahaan enggan mencatatkan sahamnya di pasar modal Indonesia. Berdasarkan data yang dihimpun Katadata, hanya ada enam emiten yang berani melakukan aksi penawaran saham perdana atau initial public offering (IPO) di bursa pada masa genting itu.
Selama krisis 1998, penurunan IHSG terparah dalam satu hari bursa mencapai 12% pada 8 Januari 1998. Merujuk catatan Bank Indonesia dalam artikel Sejarah Bank Indonesia: Moneter Periode 1997–1999, depresiasi rupiah kala itu mencapai 600% hanya dalam waktu kurang dari setahun, dari Rp 2.350 menjadi Rp 16.650 per dolar AS.
Di sisi lain, Firda Ananda dalam studi berjudul Dampak Krisis di Indonesia yang Mengakibatkan Kerapuhan Fundamental menyebut, inflasi di Indonesia menembus 70%. Banyak perusahaan yang memiliki utang dalam dolar terjerembab karena kewajiban membengkak. Ratusan perusahaan bangkrut. Pemutusan hubungan kerja (PHK) terjadi secara masif sehingga menyebabkan pengangguran melonjak hingga 14–20 juta orang. Angka kemiskinan pun membengkak, menyentuh 50% dari total populasi.
Dampak krisis itu turut merontokkan pasar modal. Sekitar 70% emiten tercatat bangkrut. Pasca krisis tersebut, 11 perusahaan tercatat melakukan delisting atau kembali menjadi perusahaan tertutup (go private).
Menurut riset Lisnawati dan Eka dalam Perkembangan Pasar Modal dan Pertumbuhan Ekonomi di Indonesia: Analisis VAR, tren IPO sebenarnya cukup stabil sebelum krisis. Pada 1994–1995 ada 21 perusahaan baru yang melantai di bursa. Jumlah ini turun menjadi 15 pada 1995–1996, lalu naik lagi menjadi 29 pada 1996–1997. Namun, memasuki periode krisis 1997–1998, hanya enam perusahaan yang melakukan IPO.
Berdasarkan data di situs resmi BEI, dari enam emiten yang IPO pada masa krisis tersebut hanya tiga yang masih bertahan hingga kini. Ketiga emiten tersebut adalah PT Astra Otoparts Tbk (AUTO), PT Jakarta Setiabudi Internasional Tbk (JSPT) dan PT Ricky Putra Globalindo Tbk (RICY).
Perusahaan komponen otomotif milik Grup Astra ini mencatatkan sahamnya di BEI pada 15 Juni 1998, hanya sebulan setelah lengsernya Soeharto. AUTO menawarkan harga saham perdana sebesar Rp 575. Per penutupan perdagangan hari ini, Rabu (6/8) saham AUTO ditutup di level Rp 2.140, naik 272,17% sejak IPO.
Sementara itu, perusahaan JSPT merupakan emiten yang bergerak di sektor properti, hotel dan penyewaan perkantoran, JSPT menawarkan saham perdana sebesar Rp 900 per lembar pada 1998. Kini, saham perusahaan yang berdiri sejak 1975 ini diperdagangkan di level Rp 4.360, melonjak 384,44% dari harga IPO.
Lalu RICY merupakan perusahaan produsen pakaian dalam dan busana. Emiten ini juga IPO pada 1998 dengan harga Rp 600 per saham. Namun berbeda dengan dua emiten lainnya, performa saham RICY terpantau merosot. Per penutupan perdagangan hari ini, harga sahamnya berada Rp 35, turun tajam dari harga awal.
Tabel Perkembangan Pasar Modal di Indonesia Tahun 1994-1999
| Tahun | Rata-rata Transaksi Harian | Indeks Harga Saham Gabungan | Kapitalisasi Pasar (Rp triliun) | Jumlah Emiten | ||||
| Volume (juta) | Nilai (Rp miliar) | Freq (Ribu kali) | Tertinggi | Terendah | Akhir | |||
| 1994 | 21,6 | 104 | 1,5 | 612,888 | 447,040 | 469,640 | 104 | 217 |
| 1995 | 43,3 | 131,5 | 2,5 | 519,175 | 414,209 | 513,847 | 152 | 238 |
| 1996 | 118,6 | 304,1 | 7,1 | 637,432 | 512,478 | 637,432 | 215 | 253 |
| 1997 | 311,4 | 489,4 | 12,1 | 740,833 | 339,536 | 401,712 | 160 | 282 |
| 1998 | 366,9 | 403,6 | 14,2 | 554,107 | 256,834 | 398,038 | 176 | 288 |
| 1999 | 722,6 | 598,7 | 18,4 | 716,46 | 372,318 | 676,919 | 452 | 277 |
(Sumber: data penelitian Lisnawati dan Eka)
