Danantara Ungkap Status Kerja Sama dengan Sentul City (BKSL), Sinyal Garap KEK?
Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara atau Danantara Indonesia memberi penjelasan ihwal kerja sama dengan Perusahaan properti PT Sentul City Tbk (BKSL). Danantara dan BKSL sebelumnya dirumorkan akan membangun Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) kesehatan di lahan Sentul City, terinspirasi proyek Bio-Town di Chengdu.
“Danantara Indonesia menyampaikan klarifikasi bahwa saat ini tidak ada kesepakatan formal antara kedua pihak,” ucap Pandu Sjahrir, Chief Investment Officer, Danantara Indonesia dalam keterangannya, dikutip Senin (11/8).
Pandu mengatakan sebagai lembaga pengelola dana investasi negara, setiap rencana investasi strategis di Danantara Indonesia dijalankan melalui proses tata kelola yang ketat (rigorous governance process) dan kajian kelayakan yang komprehensif. Hal itu mencakup evaluasi kebutuhan nasional, kesesuaian dengan kebijakan pemerintah, analisis manfaat ekonomi dan sosial, serta uji kelayakan finansial dan risiko.
Ia menyebut seluruh proses ini bertujuan memastikan setiap proyek yang diambil tidak hanya layak secara bisnis, tetapi juga membawa dampak positif yang signifikan bagi perekonomian dan masyarakat Indonesia. Ia juga menyebut Danantara memiliki mandat untuk mendukung proyek-proyek strategis nasional yang berkontribusi langsung terhadap pertumbuhan ekonomi, peningkatan daya saing, dan pemerataan pembangunan.
“Fokus ini mencakup berbagai sektor prioritas, termasuk pengembangan infrastruktur kesehatan, energi, transportasi, dan teknologi, yang seluruhnya dijalankan dengan prinsip transparansi, akuntabilitas, dan keberlanjutan,” ucap Pandu.
Sebelumnya, rumor inisiatif BKSL untuk mendirikan KEK Kesehatan di lahan Sentul City ini diklaim selaras dengan visi Astacita Presiden RI Prabowo Subianto dan reformasi kesehatan nasional. Namun, baik Danantara maupun Sentul City sempat mengonfirmasi bahwa belum ada kerja sama terkait hal itu.
Alih-alih kerja sama, dua Direktur Sentul City Adi Syahruzad dan Tjetje Muljanto menjelaskan belum ada tahap penjajakan, diskusi awal, atau negosiasi non-binding terkait hal itu. Tak hanya itu, petinggi BKSL itu juga menyebut belum ada pembahasan mengenai struktur kerja sama legalnya mengenai proyek ini.
Dalam penjelasan kepada Bursa Efek Indonesia, manajemen BKSL mengatakan belum ada juga pembicaraan terkait bagaimana mekanisme pendanaan proyek kota kesehatan terintegrasi yang dirumorkan itu.
“Sampai saat ini perseroan belum ada kesepahaman terkait hal tersebut,” tulis Adi Syahruzad dan Tjetje Muljanto dalam keterbukaan informasi BEI, Selasa (29/7).
Fokus Kerja Sama BKSL
Meski belum ada penjelasan resmi sejumlah analis mengungkap rencana ini sudah hampir final. “Penyelidikan kami menunjukkan bahwa pengumuman resmi kemungkinan akan dilakukan dalam beberapa minggu ke depan,” demikian tertulis dalam riset PT RHB Sekuritas Indonesia, Jumat (8/8).
Tak hanya itu, lahan BKSL di kawasan Sentul dinilai berpotensi besar untuk menangkap lonjakan permintaan infrastruktur data di Indonesia, seiring transformasi kawasan tersebut menjadi pusat data digital. Beberapa proyek data center besar telah hadir di sana, seperti NeutraDC Sentul milik Telkom Indonesia, serta IndoKeppel Data Centre 1 (IKDC1) yang dikembangkan Keppel Data Centres bersama Salim Group.
Lalu IKDC1 menempati lahan seluas 7 hektare dengan kapasitas penuh mencapai 50MW, dan kini telah mengoperasikan fase pertama dengan daya 5MW di area seluas 9.800 meter persegi.
RHB Sekuritas menilai, proyek-proyek ini menonjolkan keunggulan Sentul. Lahan yang luas, iklim yang lebih sejuk, pasokan listrik yang andal, dan kedekatan dengan Jakarta, menempatkan BKSL dalam posisi strategis untuk menangkap permintaan masa depan di ekonomi digital.
Adapun pada pada Juni lalu, Sentul City Tbk (BKSL) menandatangani perjanjian jual beli bersyarat (CSPA) dengan Genting Plantations Bhd (GENP) untuk melepas lahan seluas 152 hektare di kawasan Sentul City. Nilai transaksi mencapai Rp 2,05 triliun.
Dua bidang tanah tersebut yang masing-masing seluas 80 hektare dan 72 hektare, dijual dengan harga rata-rata sekitar Rp 1,35 juta per meter persegi. Sebagian pembayaran sebesar Rp 400–500 miliar ditargetkan terealisasi pada kuartal ketiga 2025.
Melalui entitas anak PT Genting Properti Abadi, GENP berencana membangun kawasan hunian mewah di atas lahan tersebut. Proyek ini diperkirakan akan meningkatkan nilai properti di sekitarnya dan mendorong pengembangan kawasan Sentul City secara lebih terintegrasi.
Selain itu tim analis RHB Sekuritas menilai perubahan susunan direksi baru-baru ini akan memperkuat posisi strategis PT Sentul City Tbk (BKSL). Perombakan tersebut melibatkan tokoh-tokoh senior dari kalangan pemerintah. Berikut empat nama tokoh pemerintah yang menduduki jabatan kursi komisaris di BKSL:
- Ketua Tim Ahli penyusunan RUU Pengelolaan Aset Daerah DPD RI, Yuswandi Arsyad Temenggung
- Tim Pelaksana Dewan KEK Nasional dan Staf Khusus Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Wahyu Utomo
- Sekretariat Transformasi Ekonomi Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional, Lukita Dinarsyah Tuwo
- Staf Khusus Menteri Perindustrian Gatot Sudariyono
