Tambang Emas Raksasa Milik MDKA Dikabarkan Bersiap IPO, Seperti Apa Profilnya?
Anak usaha PT Merdeka Copper Gold Tbk (MDKA), Pani, yang mengelola proyek tambang emas raksasa di Gorontalo disebut akan mencatatkan perdana umum perdana saham atau initial public offering (IPO) di Bursa Efek Indonesia (BEI). Tak hanya itu, aksi itu disebut akan meluncur pada tahun ini.
“Kalau sampai IPO ini bagus karena nanti Pani-nya bisa masuk gold indeks,” kata sumber yang diterima Katadata.co.id, Jumat (29/8).
Meskipun rencana IPO sudah beredar, Merdeka Copper Gold enggan berkomentar perihal aksi melantai di BEI itu. “Saya tidak ada komen mengenai hal ini,” kata Tom Malik, GM Corporate Communication MDKA, ketika dihubungi Katadata.co.id beberapa waktu lalu.
Adapun berdasarkan laporan aktivitas kuartal II 2025, manajemen menyampaikan bahwa perkembangan Proyek Emas Pani berjalan sesuai rencana dengan tingkat penyelesaian mencapai 67% hingga akhir kuartal. Rencana teknik detail dan proses pengadaan telah rampung, sementara kontraktor saat ini tengah memasang infrastruktur pengolahan dan sistem kelistrikan.
Fasilitas pelabuhan sudah beroperasi dan pembangunan tempat penyimpanan bahan bakar juga telah selesai. Uji coba operasional ditargetkan berlangsung pada akhir 2025, dengan produksi emas pertama diperkirakan dimulai pada kuartal I 2026.
Sementara itu, produksi tembaga dari Tambang Wetar pada kuartal ini mencapai 1.854 ton dengan biaya tunai total sebesar US$ 3,35 per pon, AISC sebesar US$ 4,75 per pon, dan ASP sebesar US$ 4,23 per pon.
Profil Proyek Emas Pani
Proyek Emas Pani di Gunung Pani, Kabupaten Pohuwato, Gorontalo, tengah digarap PT Merdeka Copper Gold Tbk untuk menjadi salah satu tambang emas primer terbesar di Indonesia dan Asia Pasifik. Proyek ini memiliki cadangan lebih dari 7 juta ounces emas dengan umur tambang yang diperkirakan bertahan selama beberapa dekade.
Berdasarkan laman resmi Merdeka Group, berbekal pengalaman mengelola Tambang Emas Tujuh Bukit di Banyuwangi, Grup Merdeka berupaya mengoptimalkan potensi kawasan yang sejak abad ke-19 dikenal sebagai wilayah penghasil emas. Proyek ini dikelola melalui sejumlah anak usaha yang menangani operasi tambang, pengolahan, hingga pembangunan infrastruktur pendukung.
Pada tahap awal, perusahaan akan menggunakan metode heap leach dengan kapasitas pengolahan mencapai 7 juta ton bijih per tahun dan target produksi sekitar 140 ribu ounces emas per tahun. Selanjutnya, Grup Merdeka akan membangun fasilitas carbon-in-leach (CIL) dengan kapasitas awal 7,5 juta ton per tahun, yang ditargetkan meningkat menjadi 12 juta ton per tahun pada 2030.
Apabila kedua fasilitas beroperasi penuh, total kapasitas gabungan diproyeksikan mencapai 19 juta ton per tahun, dengan potensi produksi puncak hingga 500 ribu ounces emas per tahun.
Persiapan proyek disebut berjalan sesuai jadwal. Perusahaan telah menuntaskan desain teknik detail, pengadaan peralatan utama, dan uji coba metode heap leach.
Selain itu tengah berlangsung juga pembangunan infrastruktur pendukung, seperti fasilitas penyimpanan bahan bakar, pelabuhan, dan gardu induk listrik. PLN dijadwalkan memasok daya utama pada 2025, sementara laboratorium metalurgi di lokasi akan mulai beroperasi pada awal 2025.
Pengolahan emas pertama ditargetkan pada akhir 2025, dengan produksi komersial kemungkinan akan dimulai awal 2026.
