Eksplorasi di Natuna Barat Gagal, Medco Energi (MEDC) Boncos Rp 146 Miliar
Laba bersih PT Medco Energi Internasional Tbk (MEDC) pada semester pertama tahun ini anjlok hingga 81,5% dibandingkan periode yang sama tahun lalu menjadi US$ 37,18 juta atau Rp 613,29 miliar (asumsi kurs Rp 16.491 per dolar AS). Jebloknya laba emiten minyak dan gas bumi ini, antara lain disebabkan oleh kegagalan perusahaan menemukan cadangan hidrokarbon di sumur eksplorasi Barramundi di blok Beluga, Natuna Barat.
Direktur sekaligus Chief Administrative Officer Medco Energi Amri Siahaan menyampaikan, sumur Barramundi diketahui kering atau dry hole. Padahal, perusahaan telah mengeluarkan biaya sekitar US$ 8,9 juta atau setara Rp 146,67 miliar (asumsi kurs 16.480 per dolar AS) guna melakukan eksplorasi pada sumur tersebut.
“Dari sisi produksi, penurunan laba juga disebabkan oleh biaya dry hole dari pengeboran eksplorasi sumur production sharing contract (PSC) Beluga di Natuna,” kata Amri dalam Public Expose Live 2025 secara virtual, Rabu (10/9).
PT Medco Energi Internasional Tbk (MEDC) sebelumnya mencatatkan laba bersih pada semester pertama tahun ini US$ 37,18 juta atau Rp 613,29 miliar (asumsi kurs Rp 16.491 per dolar AS). Kinerja laba anjlok 81,5% dibandingkan periode yang sama tahun lalu US$ 200,99 juta atau Rp 3,31 triliun.
Manajemen Medco Energi menyampaikan anjloknya laba bersih MEDC, terutama terjadi akibat turunnya harga minyak, kontribusi negatif dari PT Amman Mineral Internasional Tbk (AMMN), dan biaya dry hole sebesar US$ 8,9 juta.
AMMN yang merupakan perusahaan patungan kongsi keluarga Panigoro dan grup Salim ini mencatatkan rugi operasional mencapai US$ 31 juta atau sekitar sekitar Rp 510,93 miliar sepanjang semester pertama 2025. Kondisi ini berbalik dibandingkan kinerja semester I 2024 yang masih mencatatkan laba operasional US$ 785,18 juta atau sekitar Rp 12,94 triliun.
Rugi operasional AMMN disebabkan oleh keterlambatan proses commissioning smelter baru dan fasilitas pemurnian logam mulia. Penjualan bersih perusahaan tambang tembaga dan emas ini pun rontok hingga 88,2% dari periode yang sama tahun lalu.
Merujuk laporan keuangan yang dipublikasikan, AMMN mencatat pendapatan US$ 1,54 miliar atau Rp 25,50 triliun, menjadi US$ 182,59 juta atau Rp 300,67 miliar pada semester pertama 2025 ini.
