Sentimen Baru Saham BUMI, Genggaman Erat Anthoni Salim di Tengah Kabar Akuisisi
Saham emiten terafilisasi Grup Salim dan Bakrie, PT Bumi Resources Tbk (BUMI) menarik perhatian di Pasar Modal. Dalam sepekan, emiten bidang pertambangan dan energi itu naik 2,78%
Pada perdagangan saham hari ini, Senin (15/9) pukul 10.20 WIB, saham BUMI terpantau naik 0,91% ke Rp 111. Volume yang diperdagangkan tercatat 165,69 juta dengan nilai transaksi Rp 18,37 miliar dan kapitalisasi pasarnya sebesar Rp 41,22 triliun.
Kenaikan saham BUMI tak lepas dari sentimen investor terhadap genggaman para konglomerat di bali perusahaan. Berdasarkan laporan Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI) per 11 September 2025, sejumlah konglomerat tercatat memiliki saham PT Bumi Resources Tbk (BUMI). Salah satunya adalah Anthoni Salim yang menguasai kepemilikan besar melalui dua entitas usahanya.
Melalui Mach Energy (Hong Kong), Salim memegang sekitar 170 miliar saham BUMI atau setara 45,78%. Sementara lewat Treasure Global Investments Limited (TGIL) ia menguasai 30 miliar saham atau 8,08%. Adapun Mach Energy Pte. Ltd berada di bawah Grup Salim.
Kemudian PT Bakrie Capital Indonesia per 29 Agustus 2025 juga tercatat memiliki 4,39 miliar saham BUMI, atau sekitar 1,18% kepemilikan.
Merujuk laporan resmi perusahaan, per 31 Desember 2024, pemegang saham utama Perseroan adalah Mach Energy (Hongkong) Limited (MEL). Pemegang saham pengendali BUMI adalah MEL dan Long Haul Holdings Ltd. (LHLL) yang berdasarkan hukum negara Nevis.
Kegiatan usaha dari MEL dan LHHL adalah bergerak dalam bidang investasi. “Berdasarkan skema kepemilikan saham BUMI, pemilik manfaat akhir atas kepemilikan saham adalah kelompok usaha Bakrie dan kelompok usaha Salim,” tulis perseroan.
Seiring dengan itu, beredar rumor bahwa konglomerat Prajogo Pangestu atau dikenal sebutan PP di pasar modal akan memborong saham BUMI. Katadata.co.id juga sudah meminta tanggapan Corporate Communication Barito Group, Angelin Sumendap terkait aksi Prajogo. Namun hingga berita ini diterbitkan, Barito Group belum merespons.
Rencana di Balik Akuisisi Tambang Emas di Australia
Di samping genggaman erat konglomerat, PT Bumi Resources Tbk (BUMI) akan mengakuisisi perusahaan tambang emas dan tembaga di Australia, Wolfarm Limited senilai Rp 350 miliar. Rencana akuisisi ini merupakan bagian dari upaya perusahaan melakukan diversifikasi bisnis.
Akuisisi Wolfram dinilai langkah strategis lantaran tambang ini diperkirakan dapat memproduksi emas dan tembaga dalam waktu relatif singkat. Manajemen memastikan, BUMI telah melakukan sejumlah kajian secara komprehensif selama beberapa tahun terakhir untuk mendukung strategi diversifikasi. Perusahaan saat ini fokus pada aset-aset yang sedang dalam tahap produksi atau yang berpotensi memulai produksi dalam waktu dekat.
Lalu untuk membiayai akuisisi Wolfarm, BUMI saat ini tengah menawarkan obligasi berkelanjutan tahap I tahun 2025 senilai Rp 350 miliar. nilai akuisisi Wolfarm Limited mencapai 33 juta dolar Australia. Nilai akuisisi ini setara Rp 350 miliar dengan asumsi kurs tengah BI pada 9 Mei 2025 sebesar Rp 10.593 per dolar AS.
Terbitkan Obligasi Tahap II
Selanjutnya, manajemen PT Bumi Resources Tbk (BUMI) juga akan menerbitkan Obligasi Berkelanjutan I Tahap II Tahun 2025 senilai Rp 721,61 miliar. Obligasi ini ditawarkan tanpa warkat dalam dua seri, yakni Seri A senilai Rp 149,33 miliar dengan kupon tetap 8% berjangka waktu tiga tahun, serta Seri B senilai Rp 572,28 miliar dengan kupon tetap 9,25% berjangka waktu lima tahun.
Pembayaran bunga dilakukan setiap tiga bulan, dengan pembayaran pertama pada 24 Desember 2025. Obligasi Seri A akan jatuh tempo pada 24 September 2028, sementara Seri B pada 24 September 2030.
Adapun dana hasil penerbitan obligasi ini akan dialokasikan untuk pembayaran tahap kedua akuisisi Wolfram Limited (WFL) sebesar 45,34%. Setelah akuisisi rampung, sekitar 13,71% akan disalurkan sebagai pinjaman kepada WFL untuk pembangunan pabrik pengolahan bijih, kegiatan eksplorasi, serta kebutuhan modal kerja seperti biaya karyawan, lingkungan, dan operasional tambang. Sisanya, akan dipakai sebagai modal kerja BUMI, termasuk biaya pajak, jasa profesional, dan kebutuhan operasional lainnya.
Selain itu penjamin emisi efek obligasi BUMI yakni Mandiri Sekuritas, Trimegah Sekuritas, BCA Sekuritas, Indo Premier Sekuritas, BRI Danareksa Sekuritas, serta Korea Investment and Sekuritas Indonesia.
