8 Fakta Baru IPO Merdeka Gold (EMAS): Bidik Dana Rp 4,6 T, Intip Jadwal Resminya
Anak usaha PT Merdeka Copper Gold Tbk (MDKA), PT Merdeka Gold Resources Tbk bakal mencatatkan sahamnya atau initial public offering (IPO) dalam waktu dekat. Dalam gelaran IPO Otoritas Jasa Keuangan menyetujui penggunaan kode saham atau ticker EMAS.
Perseroan melepas 1,61 miliar saham biasa dengan nominal Rp 150. Jumlah ini setara dengan 10% dari modal ditempatkan dan disetor perseroan.
Adapun harga pelaksanaan ditetapkan di Harga Rp 2.880. Dengan estimasi ini perseroan akan mengantongi dana Rp 4,65 triliun.
"Pemesanan saham melalui system eIPO harus disertai dengan ketersediaan ana yang cukup pada RDN pemesan," tulis manajemen dalam prospektus IPO terbaru.
Seperti apa fakta di balik IPO Merdeka Gold (EMAS)
Tujuh Perusahaan Ditunjuk jadi Underwriter
Terdapat tujuh perusahaan sekuritas yang akan mengantarkan IPO EMAS. Tujuh perusahaan adalah PT Trimegah Sekuritas Indonesia Tbk (LG), PT UOB Kay Hian Sekuritas (AI), PT Sinarmas Sekuritas (DH), PT Indo Premier Sekuritas (PD), PT Aldiracita Sekuritas Indonesia (PP), PT OCBC Sekuritas Indonesia (TP), hingga PT Amantara Sekuritas Indonesia (YO).
Menariknya, dari daftar tersebut terselip sekuritas yang kerap disebut sebagai broker “zombie”. Broker zombie merupakan sekuritas yang berizin resmi tetapi nyaris tidak aktif bertransaksi di pasar.
Struktur Pemegang Saham dan Pengendali EMAS Usai IPO
Setelah penawaran umum perdana saham (IPO), struktur pemegang saham Merdeka Gold Resources terdiri atas 16,18 miliar saham dengan nilai nominal Rp 150 per saham atau setara Rp 2,42 triliun.
PT Merdeka Copper Gold Tbk (MDKA) tercatat sebagai pemegang saham terbesar dengan 9,13 miliar saham senilai Rp 1,37 triliun atau 56,46%. Berdasarkan surat pernyataan tertanggal 11 Juli 2025, Merdeka Copper Gold selaku pemegang saham pengendali EMAS menyatakan akan tetap mempertahankan status pengendaian sekurangnya 50,01% dari seluruh modal ditempatkan.
"MDKA berjanji tidak akan melepas saham dalam Waktu 12 bulan sejak pernyataa efekti IPO.
Lalu ada PT Elias Aldana Manajemen menggenggam 130,42 juta dengan nilai Rp 19,56 miliar atau 0,81%, PT Unitras Kapital Indonesia: 286,88 juta saham senilai Rp 43,03 miliar atau 1,77%, dan PT Nugraha Eka Kencana 195,37 juta saham senilai Rp 29,30 miliar atau 1,21%.
Pemegang saham lainnya yakni:
- Winato Kartono: 1,35 miliar saham (8,36%)
- Hardi Wijaya Liong: 578,97 juta saham (3,58%)
- Santoso Kartono: 182,62 juta saham (1,13%)
- Sakti Wahyu Trenggono: 78,22 juta saham (0,48%)
- Edi Permadi: 195,37 juta saham (1,21%)
- Garibaldi Thohir: 905,03 juta saham (5,59%)
- Koperasi Unit Desa Dharma Tani: 73,02 juta saham (0,45%)
- Masyarakat: 1,61 miliar saham (10%)
Selain itu, terdapat saham treasuri sebesar 1.448.866.615 saham atau 8,95%.
Kepengendalian Saratoga dan Jejak Boy Thohir
Di balik langkah MDKA mengantarkan anak usahanya GOLD melantai di bursa ada juga peran entitas besar lainnya yaitu PT Saratoga Tbk (SRTG). Merujuk laporan tahunan MDKA, perseroan tidak memiliki pemegang saham utama.
Namun, MDKA memiliki dua pemegang saham pengendali bersama, yakni PT Provident Capital Indonesia dan PT Saratoga Investama Sedaya Tbk (SRTG). Pemilik manfaat akhir perseroan adalah Edwin Soeryadjaya dan Winato Kartono.
Berdasarkan laman resmi Merdeka Copper Gold, mayoritas saham perseroan dimiliki oleh PT Saratoga Investama Sedaya Tbk (SRTG), PT Provident Capital Indonesia Tbk (PALM) melalui PT Mitra Daya Mustika dan PT Suwarna Arta Mandiri.
Selain itu, konglomerat Garibaldi Thohir atau Boy Thohir juga memiliki saham mayoritas di emiten tambang emas ini. Saratoga tercatat menggenggam 4,89 miliar saham MDKA atau 19,47% dari total saham. Diikuti dengan Mitra Daya Mustika memiliki 11,88% saham. Selanjutnya ada Suwarta Arta Mandiri memiliki 5,50% saham MDKA.
Penggunaan Dana IPO dan Kinerja Keuangan EMAS
Usai IPO, sebesar US$ 20 juta atau Rp 328,4 miliar akan disalurkan ke PT Pani Bersama Tambang (PBT) dalam bentuk setoran modal bertahap. Dana ini akan dipakai untuk modal kerja, termasuk pembelian bahan baku utama dan penunjang, biaya listrik, serta gaji karyawan. Setelah konversi setoran modal, Merdeka Gold Resources tetap menguasai 99,99% saham PBT.
Kemudian sebanyak US$ 20 juta atau Rp 328,4 miliar, juga diberikan dalam bentuk pinjaman kepada PT Puncak Emas Tani Sejahtera (PETS) untuk mendanai modal kerja operasional.
Sisa dana IPO akan digunakan untuk pembayaran lebih awal atas pinjaman kepada PT Merdeka Copper Gold Tbk (MDKA) berdasarkan perjanjian utang piutang sejak April 2022. Hingga 4 Agustus 2025, saldo pinjaman Merdeka Gold Resources ke induk usahanya MDKA masih sebesar US$ 260 juta atau Rp 4,26 triliun.
Kinerja Keuangan Merdeka Gold
Hingga 31 Maret 2025, Merdeka Gold Resources mencatatkan rugi periode berjalan hingga US$ 9,2 juta atau Rp 151,03 miliar. Angka itu melonjak hingga 120,5% dari periode yang sama tahun sebelumnya US$ 4,2 juta.
Namun, grup Merdeka Gold Resources tidak mencatatkan pendapatan untuk periode tiga bulan yang berakhir 31 Maret 2025. Hal itu karena seluruh pendapatan grup diperoleh dari sewa alat berat ke PETS, PT Gorontalo Sejahtera Mining (GSM), PBT, dan PT Mentari Alam Persada (MAP).
Meski begitu, apabila melihat kinerja tahun buku 2024, pendapatan perusahaan naik 25,5% menjadi US$ 1,7 juta atau Rp 27,87 miliar dari sebelumnya US$ 1,4 juta atau Rp 22,95 miliar pada tahun 2023. Kenaikan ini disebabkan oleh tumbuhnya pendapatan jasa penunjang penambangan dari sewa alat berat ke PETS.
Lalu rugi tahun berjalan naik hingga 85,8% menjadi US$ 12,7 juta pada 2024 dari sebelumnya US$ 6,8 juta pada 2023.
Adapun Merdeka Gold Resources bersama entitas anak usaha mencatat total liabilitas sebesar US$ 280 juta atau sekitar Rp 4,58 triliun per 31 Maret 2025. Jumlah tersebut terdiri dari liabilitas jangka pendek US$ 77,9 juta dan liabilitas jangka panjang US$ 202,1 juta.
Sepanjang periode 31 Maret hingga 4 Agustus 2025, perusahaan melakukan tambahan pencairan pinjaman sebesar US$ 306,25 juta atau Rp 5,01 triliun. Pada saat yang sama, Merdeka Gold Resources juga telah membayar pinjaman senilai US$ 50 juta atau sekitar Rp 819,69 miliar.
Prospek Perusahaan
Merdeka Gold Resources merupakan anak usaha PT Merdeka Copper Gold Tbk (MDKA) yang tengah mengembangkan Proyek Emas Pani dan akan menjadi salah satu tambang emas primer terbesar di Indonesia dan Asia Pasifik. Proyek Emas Pani memiliki kandungan lebih dari 7 juta ounces emas dengan umur tambang multidekade.
Proyek Pani dikelola lewat sejumlah entitas anak perusahaan yang menangani operasi tambang, pengolahan, hingga infrastruktur pendukung. Tambang ini dirancang menggunakan metode tambang terbuka dan akan dikembangkan secara bertahap.
Pada tahap awal, Merdeka Gold Resources menerapkan metode heap leach dengan kapasitas 7 juta ton bijih per tahun dan target produksi sekitar 140 ribu ounces emas per tahun. Selanjutnya, perusahaan akan membangun fasilitas carbon-in-leach (CIL) berkapasitas awal 7,5 juta ton per tahun, yang akan ditingkatkan menjadi 12 juta ton pada 2030.
Dengan kombinasi heap leach dan carbon-in-leach (CIL), kapasitas pengolahan akan mencapai 19 juta ton per tahun dengan potensi produksi puncak hingga 500 ribu ounces emas per tahun. Perusahaan menargetkan pengolahan pertama dimulai akhir 2025, dengan produksi komersial pada awal 2026.
Jadwal IPO Merdeka Gold Resources:
- Tanggal efektif: 15 September 2025
- Masa penawaran umum: 17-19 September 2025
- Tanggal penjatahan: 19 September 2025
- Tanggal distribusi: 22 September 2025
- Tanggal pencatatan di Bursa Efek Indonesia: 23 September 2025
Prospek IPO Merdeka Gold (EMAS)
Stockbit Sekuritas menilai bahwa setelah IPO, EMAS akan memiliki valuasi Price to Book Value (P/BV) sekitar 4–5,3x berdasarkan laporan keuangan kuartal pertama 2025. Stockbit menyebut price to earnings (P/E) tidak bisa dihitung karena EMAS mencatat rugi bersih selama tiga tahun terakhir.
Dari sisi perbandingan dengan perusahaan tambang emas murni lainnya, EMAS termasuk yang paling mahal jika dilihat dari EV/Reserves, tetapi tidak terlalu mahal bila dibandingkan berdasarkan EV/Resources.
“Kami menilai bahwa eksekusi dan pengembangan proyek emas Pani menjadi faktor yang perlu diperhatikan investor seiring fasilitas pengolahan perusahaan yang belum beroperasi,” tulis Stockbit Sekuritas seperti dikutip Kamis (11/9).
Sementara itu, Equity Research Analyst Kiwoom Sekuritas Indonesia, Miftahul Khaer, menjelaskan bahwa kondisi ini masih cukup wajar karena masih pada fase awal. Pasalnya, Proyek Emas Pani saat ini masih berada pada tahap konstruksi dan baru ditargetkan memulai produksi perdana pada 2026.
Ia menyebut valuasi saat ini lebih banyak bergantung pada prospek jangka panjang proyek tersebut yang memiliki cadangan hampir 7 juta ounces. “Dan berpotensi menjadi salah satu tambang emas primer terbesar di Asia Pasifik,” kata Mifta kepada Katadata.co.id seperti dikutip Kamis (11/9).
Lebih jauh, Menurut Mifta, IPO anak usaha MDKA ini masih menarik tetapi bergantung pada profil risiko masing-masing investor dan sudut pandang terhadap emiten. Dari sisi potensi, ia melihat prospek EMAS cukup menarik, apalagi dengan target produksi awal yang bisa mencapai sekitar 500 ribu ounces per tahun.
Meski begitu, ia menyebut risikonya masih cukup tinggi lantaran perusahaan belum memiliki arus kas yang stabil. Sementara sebagian besar dana hasil IPO dialokasikan untuk pelunasan utang. Ia melihat hal ini sebagai langkah strategis MDKA dalam memperkuat struktur permodalan sekaligus mempercepat pengembangan proyek-proyek strategis, bukan sekadar bailout individu.
“Jadi, prospeknya masih tetap menarik dengan horizon investasi jangka panjang,” ucap Mifta.
Sementara itu, Presiden Direktur Merdeka Gold Resources, Boyke Poerbaya Abidin, menyampaikan bahwa Proyek Emas Pani memiliki potensi sumber daya hingga 7 juta ounces emas dan direncanakan menjadi tambang berbiaya rendah dengan umur operasional panjang.
Dengan penerapan teknologi pertambangan berkelanjutan serta komitmen terhadap praktik ESG, pihaknya optimistis proyek ini mampu memberikan nilai tambah jangka panjang. Tidak hanya bagi pemegang saham, tetapi juga bagi pembangunan ekonomi masyarakat di Kabupaten Pohuwato, Provinsi Gorontalo, dan Indonesia.
