Mengintip Orang Kuat di Balik Akrobat Maharaksa (OASA), Ada Duet Bobby-Sukamdani

Nur Hana Putri Nabila
19 September 2025, 07:52
Emiten
ANTARA FOTO/Fauzan/nz
Komisaris Utama PT Maharaksa Biru Energi Tbk (OASA) Hariyadi B Sukamdani (kiri) berbincang dengan Direktur Utama OASA Bobby Gafur S Umar (kanan) saat Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS) OASA di Jakarta, Jumat (21/10/2022).
Button AI SummarizeMembuat ringkasan dengan AI

Saham emiten pengelolaan sampah atau waste to energy (WtE), PT Maharaksa Biru Energi Tbk (OASA) mendadak naik hingga 78,72% secara year to date (ytd). Kenaikan itu seiring dengan rencana pemerintah yang bakal mengeluarkan Peraturan Presiden (Perpres) baru untuk menggantikan tiga aturan lama terkait pengelolaan sampah. 

Selain itu belum lama ini OASA mengungkap kabar terbaru proyek yang tengah digarap. Lewat akun sosial media instagram milik perusahaan, manajemen OASA memberikan sinyal terlibat dalam proyek waste to energy yang tengah digarap  Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara atau BPI Danantara. 

“Tangerang Selatan dan Jakarta Barat,” tulis Maharaksa Biru Energi dalam komentar media sosial instagram Danantara terkait Waste-to-Energy (WtE), Selasa (16/7). 

Katadata  sudah meminta konfirmasi kepada Maharaksa Biru Energi terkait nilai investasi, namun hingga berita ini tayang, perusahaan belum merespons. 

Seiring dengan menangnya OASA dalam tender pembangkit sampah itu, siapa orang kuat di baliknya?

Apabila menilik komposisi pemegang saham, masyarakat memegang porsi mayoritas sebanyak 49,78% atau 3,15 miliar saham. Lalu ada PT And Indonesia kapital 5,24% atau 332,56 juta, dan PT Maharaksa Biru Indonesia sebanyak 5% atau 317,36 juta saha.

Lalu di posisi teratas ada nama Gafur Sulistyo Umar menjadi pengendali dan pemegang saham terbesar di OASA. Ia menggenggam 39,98% atau sebanyak 2,53 miliar saham per 18 September 2025. 

Bobby merupakan Wakil Ketua Umum Koordinator Bidang Investasi, Hilirisasi, dan Lingkungan Hidup Kadin Indonesia periode 2024-2029. Adapun pada periode 2015-2020, ia memegang posisi sebagai Wakil Ketua Umum bidang Energi dan Migas. 

Sebelumnya dikenal sebagai Presiden Direktur & CEO PT Bakrie & Brothers Tbk. Jabatan di BNBR ia emban selama sepuluh tahun hingga 2020. Selanjutnya, ia masuk ke OASA pada Juni 2021. 

Lulusan teknik elektro Universitas Trisakti dan master of business administration (MBA) dari Universitas Arkansas, Amerika Serikat, tersebut juga aktif dalam organisasi Kamar Dagang dan Industri (Kadin), Asosiasi Emiten Indonesia (AEI), dan Persatuan Insinyur Indonesia (PII).

Selain Bobby adapula sosok pengusaha Tanah Air, Hariyadi Sukamdani yang menjabat sebagai Komisaris Utama OASA. Hariyadi merupakan putra dari Sukamdani Sahid Gitosardjono, pendiri Hotel Sahid Group. Ia juga pernah menjabat sebagai Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Indonesia atau Apindo. 

Mengutip dari laporan tahunan perusahaan, Sukamdani mengatakn OASA memiliki prospek yang cerah pada 2025. Hal itu didukung oleh berbagai inisiatif strategis dan kebijakan dalam pemerintahan baru yang semakin berpihak pada energi terbarukan. 

Menurut Sukamdani, pemerintah menargetkan pembangunan kapasitas listrik sebesar 100 gigawatt dalam 15 tahun ke depan, dengan 75% di antaranya bersumber dari energi terbarukan. Hal ini membuka peluang besar bagi industri, termasuk bagi Perseroan yang telah merancang sejumlah proyek unggulan untuk tahun 2025. 

Beberapa di antaranya adalah proyek pengolahan sampah di Jakarta senilai Rp 6,4 triliun, proyek PSEL di Tangerang Selatan senilai Rp 2,6 triliun, serta ekspansi pabrik biomassa di Lebak dan Blora. 

“Dewan Komisaris sepenuhnya mendukung strategi Direksi dalam menjadikan energi terbarukan sebagai inti bisnis Perseroan,” tulis Sukamdani seperti dikutip Jumat (19/9). 

Menurut Sukamdani, secara umum, Dewan Komisaris sepakat dengan strategi yang dirancang oleh manajemen OASA terutama terkait ekspansi portofolio energi yang menjadi salah satu prioritas utama perseroan. Mereka menilai kerja sama dengan pemerintah, institusi keuangan, serta pemangku kepentingan industri terus ditingkatkan untuk mempercepat transisi energi bersih di Indonesia.

OASA Gandeng Mitra Tiongkok Bangun PSEL Rp 2,65 T di Tangsel 

Merujuk laman resmi perusahaan, PT Maharaksa Biru saat ini berencana melaksanakan aksi korporasi berupa Penambahan Modal Tanpa Hak Memesan Efek Terlebih Dahulu (PMTHMETD) atau private placement.  

Dari aksi ini, OASA akan pengembangan proyek Pengolahan Sampah menjadi Energi Listrik (PSEL) di Tangerang Selatan dengan menjual listrik ke PT. PLN berkapasitas 19,6 MW. Adapun nilai investasi dari aksi korporasi ini mencapai Rp 2,65 triliun. 

Dalam rencana bisnisnya, OASA akan membentuk perusahaan patungan (joint venture) dengan mitra strategis dari Tiongkok untuk membangun sekaligus mengoperasikan PSEL tersebut. Proyek PSEL ini memiliki kapasitas 19,6 MW, nantinya listrik yang dihasilkan akan dijual kepada PT PLN (Persero) melalui perjanjian kerja sama dengan jangka waktu 27 tahun. 

OASA melalui anak usahanya, PT Indoplas Energi Hijau (IEH), akan membentuk perusahaan patungan dengan China Tianying Inc. (CNTY). Dalam skema joint venture ini, IEH akan menguasai 76% saham, sementara CNTY akan menggenggam 24% saham.  

“Saat ini, proses finalisasi pembentukan perusahaan patungan berada pada tahap akhir,” kata Manajemen OASA.  

Sebelumnya, IEH dan CNTY telah membentuk konsorsium untuk mengikuti tender PSEL Tangerang Selatan. Nantinya, perusahaan patungan tersebut akan bertindak sebagai badan usaha pelaksana proyek di Tangerang Selatan. 

Danantara Fokus Investasi Waste to Energy 

Sebelumnya Danantara menyatakan peraturan presiden (perpres) terkait program pengelolaan sampah atau waste to energy (WtE) sudah rampung. Perpres dikeluarkan seiring dengan Danantara meluncurkan Patriot Bonds atau Obligasi Patriotik. Gerakan investasi ini akan dialokasikan untuk beberapa proyek strategis salah satunya pengelolaan sampah nasional.  

Berdasarkan informasi yang dihimpun Katadata, lewat Patriot Bonds, Danantara akan menghimpun dana hingga US$ 3,1 miliar atau sekitar Rp 50 triliun.   

Chief Executive Officer (CEO) Danantara Indonesia, Rosan Roeslani, menyampaikan bahwa proses tender akan segera dilaksanakan di sejumlah daerah yang telah siap, antara lain Jakarta, Bandung, Bali, Semarang, Surabaya, dan Makassar.  “

Dan daerah-daerah lain yang prioritas yang sudah bisa jalan kami akan melakukan tender proses secara terbuka dan transparan,” kata Rosan kepada wartawan di Kompleks Parlemen Senayan, Jakarta, Kamis (4/9).



Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.

mobile apps preview
Reporter: Karunia Putri

Cek juga data ini

Artikel Terkait

Video Pilihan
Loading...