Sentimen Saham MHKI, Intip Profil Alwi -Fahmi Bersaudara di Balik Ekspansi Usaha
Upaya pemerintah membenahi aturan pengelolaan sampah membawa angin segar bagi emiten di sektor tersebut. Salah satunya adalah PT Multi Hanna Kreasindo Tbk (MHKI) yang mengalami lonjakan harga saham 19% dalam sepekan terakhir.
Merujuk data Bursa Efek Indonesia, sejak awal tahun, saham MHKI telah naik 100% dari Rp 95 pada 2 Januari menjadi Rp 191 pada perdagangan Jumat (19/9). Penopang kenaikan saham juga terjadi setelah MHKI mendapatkan fasilitas kredit dari PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI) senilai Rp 4,95 miliar untuk mendukung kegiatan operasional perseroan.
Dalam keterbukaan informasi di Bursa Efek Indonesia (BEI), MHKI menyampaikan telah resmi meneken perjanjian fasilitas kredit dengan BRI. Batas pinjaman berlaku hingga 60 bulan sejak penandatanganan.
“Pinjaman dana tersebut akan memperkuat kinerja operasional MHKI dan berdampak positif terhadap kelangsungan usaha perseroan,” kata Head of Corporate Secretary & Legal MHKI Gita Ashari dalam keterbukaan informasi BEI, dikutip Jumat (19/9).
MHKI merupakan entitas pengelola limbah industri di Bantargebang, Bekasi yang baru melantai di BEI pada 16 April 2024 lalu. Perseroan juga diketahui menjalin kerja sama dengan perusahaan sektor energi pelat merah seperti PT Pertamina, PT Perusahaan Listrik Negara hingga PT Pembangkit Listrik Tenaga Uap.
Dalam prospektus penawaran umum perdana (IPO), perseroan menyebutkan rencana pembangunan pabrik baru di Lamongan, Jawa Timur.
Dari IPO, MHKI mengantongi dana segar Rp 120 miliar. Sebanyak 60,32% di antaranya dialokasikan untuk belanja modal atau capital expenditure (capex) ekspansi pabrik. Pembangunan telah dimulai pada Mei 2025 lalu melalui seremoni peletakan batu pertama. Hingga kini pabrik tersebut masih dalam tahap pembangunan.
Direktur Utama MHKI Alwi menyatakan, fasilitas baru ini akan didukung teknologi pengolahan limbah modern dan efisien. “Kami berkomitmen memberikan solusi terbaik dalam pengelolaan limbah industri, sekaligus berkontribusi terhadap pembangunan ekonomi dan pelestarian lingkungan secara berkelanjutan,” ujarnya dalam keterangan resmi dikutip Jumat (19/9).
Di balik ekspansi tersebut, ada peran dua sosok bersaudara yang duduk di jajaran manajemen MHKI, yakni Alwi dan Vahmi. Lantas bagaimana sepak terjang kedua adik-kakak yang jadi bos MHKI tersebut di dunia bisnis pengelolaan limbah?
Profil Dua Bersaudara Alwi - Vahmi yang Jadi Bos MHKI
Merujuk laman resmi perseroan, Alwi memimpin perusahaan sebagai Direktur Utama, sementara Vahmi dipercaya menjadi Komisaris Utama. Keduanya mengemban jabatan tersebut berdasarkan keputusan pemegang saham yang tertuang dalam Akta No. 29 tanggal 23 Desember 2024.
Vahmi menamatkan pendidikan magister di bidang Metallurgical dan Metal Forming Engineering dari Universitas Duisburg, Essen, Jerman pada 2015. Ia memulai karier sebagai Lab QC dan RnD Manager pada 2017, sebelum kemudian masuk ke jajaran komisaris MHKI pada 2022.
Selain itu, Vahmi juga menjabat sebagai komisaris di PT Multi Hanna Sinergitama, pengendali MHKI, serta direktur di PT Multi Hanna Transportindo. Sementara itu, Alwi merupakan lulusan S1 Ekonomi Akuntansi dari Universitas Krisnadwipayan pada 2011. Kariernya di MHKI dimulai dari kursi komisaris sejak 2014, sebelum kemudian dipercaya memimpin perseroan sebagai Direktur Utama.
Di luar itu, Alwi juga aktif menduduki sejumlah jabatan penting di perusahaan afiliasi, antara lain komisaris PT Multi Nafiza Energitama, PT Multi Cipta Bangun Serasi hingga PT Multi Hanna Transportindo.
Harga Saham MHKI Terkerek Sentimen Perpres dan Obligasi Patriotik Danantara
Dalam waktu dekat, Pemerintah akan mengesahkan Peraturan Presiden (Perpres) baru untuk menggantikan tiga aturan lama terkait pengelolaan sampah. Hal itu dilakukan untuk menyederhanakan birokrasi dan memperbaiki alur bisnis yang dinilai masih rumit serta kurang menguntungkan bagi pengembang.
Adapun tiga aturan sebelumnya, yakni Perpres Nomor 83 Tahun 2018 tentang Penanganan Sampah Laut, Perpres Nomor 35 Tahun 2018 tentang Percepatan Pembangunan Instalasi Pengolah Sampah Menjadi Energi Listrik Berbasis Teknologi Ramah Lingkungan, dan Perpres Nomor 97 Tahun 2017 tentang Kebijakan dan Strategi Nasional Pengelolaan Sampah Rumah Tangga.
Aturan baru itu akan mengatur sejumlah aspek, termasuk penutupan Tempat Pembuangan Akhir (TPA) dengan sistem open dumping serta pembahasan mengenai pengembangan teknologi Waste to Energy (WTE).
Berdasarkan riset NH Korindo Sekuritas Indonesia, revisi aturan tarif dan penyederhanaan birokrasi dalam pengelolaan sampah dinilai memberikan peluang positif bagi para pengembang. Salah satu poin pentingnya adalah PLN mengajukan tarif baru untuk Pembangkit Listrik Tenaga Sampah (PLTSa) sebesar USD 22 sen/kWh, naik dari sebelumnya USD 13 sen/kWh.
Selain karena Perpres baru tersebut, saham MHKI juga bakal diuntungkan dari Patriot Bond. Danantara berencana menerbitkan Patriot Bond senilai Rp 50 triliun dengan kupon 2% per tahun dan tenor 5 tahun (Seri A) serta 7 tahun (Seri B).
Dana hasil penerbitan akan digunakan untuk membiayai proyek transisi energi, termasuk pembangunan waste to energy (WtE) dan pengelolaan sampah di 33 daerah. Meskipun tingkat kuponnya jauh lebih rendah dibandingkan risk-free rate Indonesia (obligasi pemerintah 10 tahun sekitar 6,4%), besar kemungkinan akan ada insentif khusus yang ditawarkan bagi para pembeli Patriot Bond ini.
Hal lain yang turut mendongkrak adalah Kementerian Lingkungan Hidup dan BPLH menargetkan mendaur ulang 33 ribu ton sampah plastik per hari menjadi energi terbarukan untuk mengurangi beban sampah nasional. Saat ini, Indonesia menghasilkan sekitar 140 ribu ton sampah setiap harinya dan melalui sistem waste to energy, sebagian di antaranya akan diolah menjadi energi.
Sejak awal tahun, saham MHKI telah melonjak 104,21% ke level 194 pada penutupan perdagangan kemarin, Kamis (18/9) dari posisi Rp 95 pada 2 Januari 2025.
