Danantara Bongkar Skenario BUMN Karya ADHI hingga WSKT, Apa Fokus Bisnisnya?
Chief Operating Officer Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (Danantara) sekaligus Kepala Badan Pengaturan Badan Usaha Milik Negara (BUMN), Dony Oskaria, memaparkan perkembangan terbaru terkait rencana merger BUMN karya. Dony menyatakan, perusahaan-perusahaan Karya akan dikembalikan lagi ke model bisnisnya di bidang kontraktor, dengan spesialisasi masing-masing.
Dony mencontohkan, ada BUMN yang fokus di konstruksi jalan dan jembatan, proyek perumahan dan bangunan vertikal, atau infrastruktur energi atau pelabuhan. Menurut Dony, saat ini lini bisnis BUMN memiliki lini bisnis yang terlalu luas, misalnya tidak hanya konstruksi, tapi juga air minum, fiber optic, tol, perumahan hingga hotel. Akibatnya, fokus bisnis inti mereka hilang dan kinerja keuangan menjadi lemah.
“Tapi core business nya gak punya. Nah ini kita kembalikan dan akan dikonsolidasi,” kata Dony dalam paparan New Economic Order di Jakarta, Kamis (9/10).
Ia mencontohkan, terdapat 18 perusahaan BUMN di sektor logistik yang selama ini masih berskala kecil dan merugi. Melalui proses konsolidasi, Danantara akan menggabungkan 18 entitas itu menjadi satu perusahaan besar yang lebih efisien.
Nantinya, setiap model bisnis, arus pendapatan hingga struktur organisasi akan didesain ulang agar perusahaan bisa mencapai skala ekonomi yang optimal. Dony menjelaskan, restrukturisasi besar-besaran ini akan memangkas jumlah BUMN yang saat ini mencapai 1.063 perusahaan menjadi sekitar 200 entitas yang solid .
“Ini yang menjadi engine of growth-nya nanti ke depan,” kata dia.
Ia juga meminta dukungan masyarakat karena proses restrukturisasi ini akan memakan waktu dan energi besar. “Kami ingin memastikan perusahaan-perusahaan BUMN bisa berjalan sesuai koridornya,” ujarnya.
Sebelumnya, pemerintah mengumumkan rencana pembentukan tiga holding BUMN karya. Dalam skema tersebut, PT Wijaya Karya Tbk (WIKA) akan digabung dengan PT PP Tbk (PTPP), sedangkan PT Adhi Karya Tbk (ADHI) akan menjadi induk bagi Brantas Abipraya dan Nindya Karya. Adapun PT Waskita Karya Tbk (WSKT) akan dilebur ke dalam PT Hutama Karya (HK).
Dony menambahkan, restrukturisasi BUMN karya ini merupakan bagian dari 22 program kerja Badan Pengaturan BUMN (BP BUMN) hingga akhir tahun, termasuk pembenahan PT Krakatau Steel Tbk (KRAS) dan PT Garuda Indonesia Tbk (GIAA).
Lebih lanjut, Dony menjelaskan bahwa pendanaan restrukturisasi tidak berasal dari aset BUMN, melainkan dari dividen hasil pengelolaan keuntungan perusahaan pelat merah. Tahun ini, pemerintah mencatat dividen sekitar Rp 150 triliun, sebagian di antaranya dialokasikan kepada Danantara Investment Management untuk diinvestasikan kembali.
“Jadi kalau orang bilang BUMN itu gak ada untungnya, itu salah. Tahun ini kita mengambil dividen Rp 150 triliun,” kata Dony.
