Emiten Adik Prabowo (WIFI) Bongkar Strategi Usai Menang Lelang Frekuensi 1,4 GHz

Karunia Putri
21 Oktober 2025, 13:26
PT Solusi Sinergi Digital Tbk (WIFI)
PT Solusi Sinergi Digital Tbk (WIFI)
PT Solusi Sinergi Digital Tbk (WIFI)
Button AI SummarizeMembuat ringkasan dengan AI

Emiten milik adik Presiden Prabowo Subianto, Hashim Djojohadikusumo, PT Solusi Sinergi Digital Tbk (WIFI) atau Surge berencana meluncurkan layanan internet murah bernama Starlite. Rencana itu seiring dengan anak usahanya, PT Telemedia Komunikasi Pratama, memenangkan tender frekuensi 1,4 GHz untuk Regional I. 

Lelang itu diraih dengan nilai penawaran tertinggi sebesar Rp 403 miliar dan akan dipakai untuk layanan Broadband Wireless Access (BWA) atau akses nirkabel pita lebar. Direktur Utama Surge Yune Marketatmo mengatakan, frekuensi 1,4 GHz yang dimenangkan perusahaan merupakan frekuensi yang istimewa dan menjadi perhatian karena disebut sebagai yang pertama digunakan untuk layanan semacam ini di Indonesia, bahkan menurutnya, pertama di dunia. 

“Kami sudah melakukan persiapan matang sejak satu hingga dua tahun terakhir. Semua modul dan infrastruktur pendukung sudah siap pakai begitu izin resmi turun,” ujarnya dalam paparan publik di InterContinental, Selasa (21/10).

Sementara itu, Direktur Surge, Shannedy Ong menyatakan, perusahaan menargetkan paket Starlite dibanderol Rp 100.000 per pelanggan per bulan dengan kecepatan hingga 100 Mbps. Perusahaan memasang target akuisisi 5 juta pelanggan dalam jangka waktu bertahap.

Jika target itu tercapai, kata dia, pendapatan berulang akan mencapai sekitar Rp 500 miliar per bulan. Meski begitu, Shannedy menegaskan pertumbuhan pelanggan akan berjalan secara gradual tidak langsung mencapai 5 juta pada hari pertama.

Shannedy menjelaskan strategi harga tersebut didasarkan pada analisis daya beli rumah tangga. Menurutnya, lapisan masyarakat menengah ke bawah hanya mampu membayar sekitar Rp 100.000 per bulan untuk layanan internet, sehingga harga itu dipandang sebagai harga yang memungkinkan penetrasi fixed broadband di segmen yang selama ini belum terlayani. 

“Kondensasi fixed broadband di Indonesia relatif rendah dibandingkan Asia Tenggara karena keterjangkauan harga,” katanya.

Selain paket murah tersebut, Surge juga mengembangkan layanan lain. Yune membedakan teknologi yang dipakai yakni FWA (Fixed Wireless Access) untuk layanan nirkabel yang akan memanfaatkan frekuensi 1,4 GHz, sedangkan produk FTTH (fiber to the home) yang baru diluncurkan di Bali beberapa waktu lalu menggunakan paket dengan standar Wi-Fi 7 dan paket 2 Gbps seharga Rp 299.000. 

Perusahaan juga telah menjalankan program pilot pemberian akses internet gratis di sejumlah sekolah, termasuk program awal di Pontianak dan terakhir di sebuah SMP negeri di Kuden Pasar, Bali.

Dengan serangkaian aksi perluasan bisnis tersebut, Shannady menyatakan Surge dapat mencatatkan pertumbuhan pendapatan, khususnya di tahun 2026.

Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.

mobile apps preview
Reporter: Karunia Putri

Cek juga data ini

Artikel Terkait

Video Pilihan
Loading...