Rencana Danantara Berinvestasi ke Pasar Modal Dinilai Kerek Peluang IPO BUMN
Rencana Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara atau Danantara mengalokasikan 80% dana kelolaannya ke pasar modal Indonesia dinilai berpotensi mengerek perusahaan-perusahaan Badan Usaha Milik Negara (BUMN) kembali mencatatkan saham perdana di Bursa Efek Indonesia (BEI). Sejauh ini, BUMN sudah absen IPO selama lebih dari dua tahun.
Emiten pelat merah terakhir yang melantai adalah PT Pertamina Geothermal Energy Tbk (PGEO) pada 24 Februari 2023. Direktur Utama BEI Iman Rachman mengatakan rencana investasi Danantara dapat dilakukan melalui skema langsung maupun tidak langsung. Adapun masuknya Danantara dinilai mampu meningkatkan porsi investor institusi domestik, sejalan dengan target bursa ke depan.
Menurut Iman, dominasi investor institusi membawa dua manfaat utama, yakni kapasitas modal yang lebih besar dan kemampuan memberikan dukungan pembiayaan bagi perusahaan untuk mengembangkan usahanya. Namun, ia menegaskan bahwa keputusan berinvestasi sepenuhnya berada di tangan Danantara.
“Tentu saja ini, kewenangannya ada di danantara, mereka mau berinvestasi di pasar modal. Makanya kita coba memberikan support-support,” ujar Iman saat Media Gathering BEI di Bali, Sabtu (15/11).
Berdasarkan data PT Kustodian Sentral Efek Indonesia per September 2025, porsi kepemilikan investor institusi domestik baru mencapai 18,6%. Angka ini masih tertinggal jauh dari investor asing yang mencapai 41,95% dan investor ritel 41,9%.
Dari sisi nilai transaksi, porsi investor institusi juga masih kecil, yakni Rp 2,24 triliun. Sementara itu, transaksi investor asing tercatat Rp 7,33 triliun dan investor ritel Rp 7,33 triliun.
Iman menambahkan, kehadiran lebih banyak investor institusi domestik diperlukan untuk meredam volatilitas dan menjaga likuiditas pasar. Iman bilang, dengan masuknya lebih banyak investor institusi domestik ke pasar modal Indonesia, maka secara perlahanakan memperluas, memperdalam pasar Indonesia.
“Jadi kita akan mendorong IPO saham atau penerbitan obligasi dari BUMN dan anak BUMN,” kata dia.
Sinyal IPO Perusahaan Pelat Merah
Sebelumnya, pasar modal Indonesia sempat mendengar rencana IPO sejumlah nama besar perusahaan BUMN seperti PT Indonesia Asahan Aluminium (Persero) atau Inalum, PT Pertamina Hulu Energi (PHE) dan PT Pupuk Kalimantan Timur (Pupuk Kaltim). Namun hingga kini, rencana tersebut belum terealisasi.
Anggota Mining Industry Indonesia (MIND ID), PT Indonesia Asahan Aluminium atau Inalum memutuskan untuk menunda rencana IPO. MIND ID sebelumnya sempat berencana untuk mencatatkan saham Inalum pada 2026.
Direktur Utama Inalum Melati Sarnita menjelaskan, keputusan tersebut diambil karena perusahaan perlu melakukan diskusi terlebih dahulu bersama Danantara, yang kini membawahi MIND ID. Adapun rencana IPO ini sempat diagendakan sebelum Inalum resmi berada di bawah Danantara.
“Saat ini, kami berdiskusi dulu. Kami agendakan IPO itu sebelum ada Danantara. Jadi, kami [sekarang perlu] diskusi dengan Danantara. Danantara akan masuk ke dalam beberapa proyek,” ujar Melati dalam Rapat Dengar Pendapat (RDP) bersama Komisi VI DPR RI, Senin (29/9).
Menurut Melati, bentuk keterlibatan Danantara masih dalam pembahasan, baik melalui skema investasi langsung, dukungan perbankan maupun opsi pendanaan lainnya. Meski IPO ditunda, Inalum tetap menggenjot sejumlah inisiatif untuk memperkuat kinerja hingga akhir tahun.
Salah satunya adalah penyelesaian professional acceptance certificate atau sertifikat penyelesaian proyek untuk proyek smelter grade alumina refinery (SGAR) fase I di Mempawah, Kalimantan Barat dengan kapasitas 1 juta ton per tahun.
Sementara itu, PT Pertamina Hulu Energi sebelumnya berencana melantai di Bursa Efek Indonesia pada 2023. Namun, kelanjutan aksi korporasi itu ditunda oleh Kementerian BUMN karena harga minyak bumi dunia yang belum pulih sejak anjlok dari atas US$ 100 per barel pada 2022.
"Kami masih menunggu arahan dari pemerintah terkait IPO Pertamina Hulu Energi. Saat ini pemerintah fokus pada peningkatan produksi, jadi kami ke sana dulu," kata VP Corporate Communication Fadjar Djoko Santoso di Bali, pada Februari 2025 lalu.
Menanggapi isu mengenai rencana IPO, Corporate Secretary PT Pertamina Hulu Energi (PHE) Hermansyah Y. Nasroen menyampaikan bahwa hingga saat ini pihaknya belum memiliki rencana untuk melanjutkan proses penawaran saham perdana tersebut.
Adapun anak perusahaan PT Pupuk Indonesia, yakni PT Pupuk Kalimantan Timur (PKT) atau Pupuk Kaltim sempat menguraikan rencana IPO di BEI. Aksi korporasi ini merupakan salah strategi bisnis yang sudah disiapkan perusahaan.
Vice Presiden Komunikasi Korporat Pupuk Kaltim Anggono Wijaya mengatakan secara teknis, perusahaan sudah siap untuk menggelar IPO. Meski begitu, ia mengatakan sebagai perusahaan pelat merah, Pupuk Kaltim tak bisa begitu saja menggelar IPO.
Anggono menjelaskan, keputusan final masih menunggu arahan dari Kementerian BUMN dan pemegang saham, termasuk holding. Menurut Anggono hingga saat ini belum ada instruksi lebih lanjut dari pemegang saham.
“InsyaAllah sudah siap. Anytime diminta (IPO), kami sudah mempersiapkan, sih, lihat aja nanti, ya,” kata Anggono ketika itu, Namun belakangan rencana itu tak kunjung terwujud seiring dengan konsolidasi BUMN di bawah Danantara.
