Agro Bahari (UDNG) Disebut jadi Cangkang Bisnis Konglomerat, Bagaimana Kansnya?
Saham perusahaan yang bergerak di bidang budidaya tambak udang, PT Agro Bahari Nusantara Tbk (UDNG) menjadi perhatian di pasar modal lantaran disebut bakal menjadi perusahaan cangkang untuk bisnis konglomerat. Kabar itu telah mendongkrak harga saham UNDG hingga meroket 10.138% secara year to date (ytd).
Pada perdagangan sesi Rabu (24/12) saham UDNG bahkan menyentuh auto reject atas (ARA) hingga melonjak 9,97% ke Rp 4.300. Kapitalisasi pasarnya pun telah mencapai Rp 7,53 triliun.
Bila ditarik jangka waktu lebih jauh, harga saham UDNG telah naik 323% dalam 6 bulan terakhir dari Rp 1.015. Harga saham Agro Bahari mengalami lompatan besar dari semula bertengger Rp 38 pada 12 Februari 2025.
Kabar emiten UDGN bakal dicaplok untuk jadi cangkang bisnis konglomerat mencuat setelah diumumkannya pendirian perusahaan infrastruktur telekomunikasi FiberCo. FiberCo merupakan entitas bisnis baru milik adik Prabowo Subianto, Hashim Djojohadikusumo yaitu Arsari Group bersama Indosat Ooredoo Hutchison (IOH) dan Northstar Group dengan nilai perusahaan mencapai Rp 14,6 triliun.
Dalam kemitraan tersebut, Indosat berencana memisahkan hampir seluruh aset fiber optik domestiknya. Perusahaan baru ini selanjutnya akan beroperasi sebagai platform infrastruktur fiber optik independen dan berakses terbuka (open-access).
Lebih jauh mengenai skema yang akan diambil, Indosat dalam keterbukaan informasi di BEI menyebutkan aksi lanjutan akan ditentukan kemudian. Namun perusahaan mengindikasikan akan ada pengambilalihan atas FiberCo yang secara tidak langsung melalui suatu perusahaan terbuka yang sahamnya tercatat di Bursa Efek Indonesia.
“Transaksi tersebut akan mengakibatkan Para Pihak menjadi pemegang saham secara langsung di PT Tbk dan selanjutnya PT Tbk akan memiliki mayoritas saham di dalam Perusahaan Target,” tulis manajemen Indosat dari keterbukaan informasi.
Selanjutnya para pihak akan melakukan serangkaian transaksi yang mencakup pengalihan Aset ke dalam Perusahaan Target dan pengambilalihan Perusahaan Target oleh PT Tbk melalui kombinasi utang dan penyetoran modal dalam bentuk non-tunai. Juga terbuka opsi setoran modal secara tunai yang diperoleh melalui penambahan modal dengan memberikan hak memesan efek terlebih dahulu oleh PT Tbk.
Meski begitu, manajemen menyatakan perjanjian Investasi ini merupakan dokumen awal sebagai kerangka atas pelaksanaan rencana transaksi. Selanjutnya tahapan transaksi akan bergulir sesuai mekanisme. Baik Indosat, Arsari ataupun Northstar belum mengungkap lebih jauh ihwal perusahaan Tbk yang diincar.
Katadata.co.id, telah menghubungi Sekretaris Agro Bahari Nusantara Roni Supriatna meminta konfirmasi lebih lanjut mengenai kabar yang beredar. Namun manajemen UDNG belum menjawab hingga berita ini ditayangkan.
Sebelumnya dalam keterbukaan informasi Agustus lalu, manajemen UDNG menyebutkan belum ada informasi terkait aksi korporasi yang akan dilakukan perusahaan dalam waktu dekat. Selain itu manajemen juga menjelaskan belum ada informasi tentang rencana perubahan kepengendalian saham.
"Jika ke depannya akan ada rencana khusus mengenai kepemilikan dari pemegang saham utama maka perseroan akan melakukan pelaporan sesuai dengan ketentuan," tulis manajemen dalam pernyataan tertulis kepada Bursa Efek Indonesia.
Bagaimana Peluang Agro Bahari (UDNG) Dilirik Bisnis Konglomerat?
Kabar mengenai Agro Bahari yang disebut-sebut tengah diincar emiten milik konglomerat menjadi perhatian pelaku pasar. Menanggapi isu tersebut, Department Head of Customer Engagement & Market Analyst BRI Danareksa Sekuritas, Chory Agung Ramdhani, menilai ada sejumlah hal penting yang perlu dicermati investor.
Menurut Chory, jika rumor yang berkembang benar-benar terealisasi, maka peluang terjadinya backdoor listing cukup terbuka. Hal ini tak lepas dari posisi UDNG yang saat ini memiliki kapitalisasi pasar relatif kecil dan masih bergerak di sektor budidaya udang.
“Jika diambil alih oleh entitas infrastruktur digital seperti FiberCo, maka akan terjadi perubahan total model bisnis (business pivot),” ujar Chory kepada Katadata.co.id, seperti dikutip Senin (29/12).
Chory menambahkan, masuknya Arsari Group dan Indosat ke dalam sebuah emiten berpotensi menjadi katalis kuat bagi pergerakan saham. FiberCo sendiri diproyeksikan akan menjadi tulang punggung infrastruktur serat optik sekaligus mendukung pengembangan ekosistem kecerdasan buatan (AI) di Indonesia.
Dari sisi investor, kehadiran sosok Hashim di balik Arsari Group, ditambah dukungan infrastruktur dari ISAT, memberikan faktor kepercayaan atau trust factor yang tinggi. Apalagi, Arsari Group belakangan terpantau agresif masuk ke sektor digital, termasuk melalui investasi di COIN. Kondisi tersebut membuat spekulasi UDNG sebagai kendaraan infrastruktur digital dinilai masuk akal oleh pelaku pasar.
Lebih lanjut, Chory mengatakan perubahan pengendali, jika benar terjadi, akan menggeser profil risiko UDNG secara signifikan. Emiten ini berpotensi bertransformasi dari perusahaan berbasis komoditas menjadi emiten infrastruktur teknologi papan atas. Kehadiran Arsari, ISAT, dan Northstar di belakangnya juga dinilai dapat menempatkan UDNG dalam radar pemantauan investor institusi dan asing.
“Namun, sebagai catatan, penting untuk tetap melihat keterbukaan informasi resmi dari pihak bursa. Mengingat kenaikan harga sahamnya yang sudah sangat tinggi, risiko volatilitas akan sangat besar jika detail transaksinya tidak sesuai dengan ekspektasi pasar,” ujar Chory.
Profil Agro Bahari (UDNG)
PT Agro Bahari Nusantara Tbk (UDNG), perusahaan yang bergerak di bidang tambak dan budidaya ikan, resmi mencatatkan sahamnya di Bursa Efek Indonesia (BEI) pada Oktober 2023 lalu. Emiten ke-74 di BEI tersebut menetapkan harga Rp 100 per saham dengan jumlah saham yang dilepas sebanyak 500 juta saham.
Dari aksi korporasi ini, Agro Bahari Nusantara meraup dana segar maksimal Rp 50 miliar. Pada debut perdananya, saham UDNG menguat sebesar 10% ke level Rp 110. Bersamaan dengan penawaran saham perdana, perseroan menerbitkan sebanyak-banyaknya 400 juta waran seri I atau sebesar 32% dari total jumlah saham ditempatkan dan disetor penuh.
Waran seri I dipasang dengan nilai nominal Rp 10 setiap saham dengan harga pelaksanaan sebesar Rp 100 sampai Rp 110. Total hasil pelaksanaan waran seri I sebanyak-banyaknya Rp 44 miliar.
Seluruh dana yang diperoleh dari hasil IPO setelah dikurangi biaya-biaya emisi, akan digunakan oleh perseroan untuk mendukung bisnisnya. Sekitar 88,89% dana hasil IPO akan dialokasikan untuk ekspansi bisnis dengan membangun tambak udang baru.
