Saham DADA Tiba-Tiba ARA 34% Meski Diterpa Isu Toko Kelontong, Ritel Kuasai 70%

Nur Hana Putri Nabila
7 Januari 2026, 10:59
Apa Itu Investasi Saham
Pexels
Apa Itu Investasi Saham
Button AI SummarizeMembuat ringkasan dengan AI

Perusahaan yang sempat menjadi bulan-bulanan investor karena lokasi kantornya disebut berada di toko kelontong, kini sahamnya bangkit dari tidur. Pada perdagangan intraday hari ini, Rabu (7/1) pukul 10.15 WIB saham PT Diamond Citra Propertindo Tbk (DADA) tiba-tiba melonjak 34% hingga auto reject atas (ARA) ke Rp 67. 

Volume yang diperdagangkan tercatat 2,30 miliar dengan nilai transaksi Rp 138,85 miliar dan kapitalisasi pasarnya sebesar Rp 497,91 miliar. Padahal saham perusahaan pengembang properti (developer) itu sudah lama bertengger saham gocap atau Rp 50. 

Naiknya harga saham DADA ditengarai karena anak Menteri Keuangan RI Purbaya Yudhi Sadewa, yakni Yudo Achilles Sadewa dalam sebuah grup menulis, “Gw tiba-tiba mimpi DADA ke Rp 300 ribu tadi malam. Ada uang aku Rp 10 juta nyangkut,” demikian tertulis dalam keterangannya.

Pukul 10.35 WIB, orderbook di saham DADA mencapai 4,65 juta lot dengan frekuensi 11.108. Adapun pengendali perusahaan PT Karya Permata Inovasi Indonesia menggenggam saham DADA sebanyak 2,20 miliar atau sebanyak 29,60%. 

Berdasarkan laporan kepemilikan saham oleh direksi maupun komisaris, hanya satu pihak yang tercatat masih menggenggam saham DADA, yakni Komisaris Tjandra Tjokrodiponto. Ia tercatat menggenggam saham DADA sebanyak 35 juta atau 0,47%.  

Dengan perhitungan itu, pemegang saham atau investor yang memiliki saham DADA di bawah 5% sebanyak 70,40% dengan jumlah saham 5,23 miliar dan jumlah pemegang saham sebanyak 70.489 investor. 

Isu Toko Kelontong

Di tengah sorotan besarnya persentase investor ritel di saham DADA, muncul pula protes dari investor. Ramai di media sosial bahwa akun Instagram @parakontrarian membagikan tangkapan Google Street View yang menampilkan lokasi kantor PT Diamond Citra Propertindo Tbk (DADA). Dalam unggahan itu, titik koordinat PT Diamond Citra Propertindo justru merujuk pada sebuah warung kelontong.

Tampilan Google Street View juga memperlihatkan titik kantor DADA berada di deretan warung kelontong di sebuah jalan kecil. Adapun berdasarkan profil perusahaan tercatat yang ada di Bursa Efek Indonesia, lokasi kantor DADA berada di Jl. Palakali Raya, Kec. Kukusan, Kec.Beji, Depok, Jawa Barat.  

Merespons isu yang beredar, Direktur DADA Bayu Setiawan, menegaskan bahwa informasi dalam informasi tersebut tidak benar. Ia menjelaskan Dave Apartment merupakan properti yang dikembangkan oleh perseroan sekaligus menjadi lokasi resmi kantor perusahaan.

Kantor PT Diamond Citra Propertindo Tbk berada di area komersial Dave lantai GF, yakni kawasan komersial yang juga dibangun dan dikembangkan oleh DADA. “Dengan demikian, tidak benar bahwa kantor Perseroan berada di warung kelontong sebagaimana diberitakan,” ucap Bayu dalam keterbukaan informasi BEI, Kamis (20/11). 

PT Diamond Citra Propertindo Tbk (DADA) merupakan pengembang properti yang berdiri pada 2005. Perusahaan ini telah membangun 20 proyek residensial, dua kompleks ruko, satu gedung tinggi, dua gedung bertingkat rendah, serta dua proyek low-rise yang sedang dipersiapkan di Depok dan Jakarta. 

Beberapa proyek yang pernah dikembangkan antara lain Apple Condovillas, klaster Neo Cyprus, klaster Neo Arcadia, Apartemen Gucii 1, Aparthouse Puri Kemang, Apartemen Dave, Primehome at Pejaten, dan townhouse Vanadium.

Sempat Diisukan Bakal Diakuisisi Vanguard 

Sebelumnya beredar rumor bahwa Manajer investasi raksasa asal Amerika Serikat, The Vanguard Group, dikabarkan tengah membidik saham PT Diamond Citra Propertindo Tbk (DADA).  

Namun, Vanguard disebut tidak masuk secara langsung, melainkan melalui mitra atau “proxy” regional yang selama ini menjadi strategi andalan mereka. Dalam rumor yang beredar, dua perusahaan properti besar asal Jepang diduga menjadi pintu masuk bagi Vanguard untuk menyalurkan investasinya ke Indonesia. 

Rumor tersebut bahkan menyebut Vanguard menargetkan valuasi hingga US$ 100 miliar untuk DADA. Dengan jumlah saham beredar 7,4 miliar lembar, valuasi tersebut setara dengan sekitar US$ 13,5 per saham. Apabila dikonversi ke rupiah, angka ini mencapai sekitar Rp 230 ribu per lembar saham. 

Seiring dengan itu saham DADA melonjak hingga 525% secara year to date (ytd). Padahal pada 8 Juli 2025 saham DADA hanya di level Rp 9, kemudian melonjak hingga Rp149 pada 25 September 2025. Kemudian sahamnya mencetak rekor tertinggi di Rp 178 pada 8 Oktober 2025 atau terbang 2.125% secara year to date (ytd).

 
 

Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.

mobile apps preview
Reporter: Nur Hana Putri Nabila

Cek juga data ini

Artikel Terkait

Video Pilihan
Loading...