IHSG Rontok 2,38% Usai Cetak Rekor, Turun ke Level 8.723 di Perdagangan Sesi II

Nur Hana Putri Nabila
12 Januari 2026, 15:00
Layar yang menampilkan pergerakan harga saham di Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Rabu (12/11/2025). Indeks Harga Saham Gabungan atau IHSG ditutup naik 0,26% atau 22,05 poin ke level 8.388 pada penutupan perdagangan hari ini.
Katadata/Fauza Syahputra
Layar yang menampilkan pergerakan harga saham di Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Rabu (12/11/2025). Indeks Harga Saham Gabungan atau IHSG ditutup naik 0,26% atau 22,05 poin ke level 8.388 pada penutupan perdagangan hari ini.
Button AI SummarizeMembuat ringkasan dengan AI

Indeks Harga Saham Gabungan atau IHSG tiba-tiba rontok mencapai 2,38% ke level 8.723 dalam perdagangan intraday siang ini, Senin (12/1) pukul 14.35 WIB. Padahal IHSG sempat menyentuh 9.000 pada saat perdagangan dibuka.

Volume yang diperdagangkan tercatat 53,58 miliar dan nilai transaksinya sebesar Rp 28,78 triliun, dan kapitalisasi pasarnya menjadi Rp 15.849. Padahal pada perdagangan sesi pertama kapitalisasi pasar IHSG sebesar Rp 16.289 triliun dan masih naik 0,13% ke 8.947.

Tak lama kemudian, IHSG kembali bangkit. Pukul 14:49 WIB IHSG berada di level 8.865 dengan nilai transaksinya Rp 31,92 triliun dan kapitalisasi pasarnya di Rp 16.118 triliun.

Analis MNC Sekuritas Herditya Wicaksana mengatakan koreksi IHSG turut dibebani oleh saham-saham sektor energi yang sempat turun sekitar 2%. Ia menilai anjloknya pasar modal dipicu oleh aksi ambil untung setelah sejumlah emiten energi mencatatkan kenaikan signifikan dalam beberapa waktu terakhir.

“Dan saat ini nampak IHSG kembali rebound meskipun masih berada di teritori negatif,” kata Herditya ketika dihubungi wartawan, Senin (12/1).

Anjloknya IHSG terjadi setelah meningkatnya ketegangan geopolitik di Timur Tengah, menyusul pernyataan Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump yang membuka kemungkinan bakal menyerang Iran.

Berdasarkan pemberitaan Reuters, Trump mengatakan Amerika Serikat telah melakukan kontak dengan Iran dan kelompok oposisi di negara itu. Ia juga mengungkapkan Iran telah menghubungi AS untuk bernegosiasi soal program nuklirnya, yang sebelumnya menjadi sasaran serangan Israel dan Amerika Serikat dalam perang singkat selama 12 hari pada Juni lalu.

Presiden AS saat itu menyebut Washington akan bertindak tegas apabila aparat keamanan Iran menembaki para demonstran. Situasi di dalam negeri Iran dilaporkan memburuk. 

Kelompok hak asasi manusia berbasis di AS, HRANA, menyebut sedikitnya 490 demonstran dan 48 personel keamanan tewas, serta lebih dari 10.600 orang ditangkap. Namun pemerintah Iran belum merilis angka resmi.

Lalu Trump dijadwalkan bertemu dengan para penasihat seniornya untuk membahas langkah terhadap Iran. Media The Wall Street Journal melaporkan opsi yang jadi pertimbangan, mencakup serangan militer, operasi siber rahasia, perluasan sanksi, hingga dukungan digital bagi kelompok anti-pemerintah di Iran.

“Militer sedang mengkajinya, dan kami sedang mempertimbangkan beberapa opsi yang sangat kuat,” ujar Trump kepada wartawan di pesawat Air Force One, dikutip Reuters, Senin (12/1)

Dari Teheran, Ketua Parlemen Iran Mohammad Baqer Qalibaf memperingatkan AS agar tidak salah langkah. Ia menegaskan Israel serta seluruh pangkalan dan kapal militer AS akan menjadi target jika Iran diserang.

 

Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.

mobile apps preview
Reporter: Nur Hana Putri Nabila

Cek juga data ini

Artikel Terkait

Video Pilihan
Loading...