Dana Rights Issue Jumbo Emiten Hashim (WIFI) Rp 5,89 T Masih Parkir di Bank

Nur Hana Putri Nabila
19 Januari 2026, 08:57
WIFI, rights issue, bank
PT Solusi Sinergi Digital Tbk (WIFI)
PT Solusi Sinergi Digital Tbk (WIFI).
Button AI SummarizeMembuat ringkasan dengan AI

Emiten milik adik Presiden Prabowo Subianto Hashim Djojohadikusumo, PT Solusi Sinergi Digital Tbk (WIFI) atau Surge masih mengendapkan dana hasil rights issue atau Hak Memesan Efek Terlebih Dahulu (HMETD) senilai Rp 5,89 triliun di perbankan. 

Dalam laporan perusahaan yang berakhir Desember 2025, WIFI memarkiran dana jumbo itu di sejumlah deposito hingga giro dengan tenor  bulanan hingga tahunan. Bunga yang diperoleh atas penempatan dana tersebut  mulai dari 0,50% hingga mencapai 5,50%. Perseroan belum menggunakan dana itu sepeserpun untuk belanja modal.

WIFI menggelar rights issue pada Juni 2025 lalu dengan menerbitkan maksimal 2,94 miliar saham baru atau setara dengan 55,56% dari modal ditempatkan dan disetor penuh. Harga pelaksanaan Rp 2.000 per saham.  

Dalam prospektus perusahaan, dana hasil dari rights issue setelah dikurangi biaya-biaya emisi disebut bakal digunakan untuk melakukan setoran modal kepada entitas anak yaitu PT Jaringan Infra Andalan (JIA).  

Seluruh dana itu kemudian digunakan oleh JIA untuk melakukan setoran modal kepada entitas anaknya yaitu PT Integrasi Jaringan Ekosistem (IJE). Sekitar Rp 5,8 triliun akan digunakan untuk pembangunan jaringan fiber to the home (FTTH) untuk 5 juta homepass yang berlokasi di Jawa. Sisanya akan digunakan sebagai modal kerja IJE.

Direktur Utama Solusi Sinergi Digital (WIFI) Yune Marketatmo sebelumnya mengatakan aksi korporasi itu menjadi bukti model bisnis perusahaan tidak hanya tumbuh, tapi juga berkelanjutan. Ia menyebut perusahaan membangun kolaborasi strategis dengan lebih dari 400 ISP lokal, sebagian besar merupakan pelaku UMKM untuk menghadirkan 400 homepass di 400 stasiun kereta api.

Selain itu, perusahaan juga menjalin kemitraan dengan sejumlah institusi besar, termasuk Pertamina melalui PGN. Perusahaan juga mendapat dukungan dari mitra teknologi global seperti Nokia, Forexside, Huawei, Fibercon, dan Qualcomm.  Yune juga mengatakan, perusahaan teknologi asal Jepang, NTT East, kini resmi bergabung sebagai mitra melalui anak usaha WIFI, yakni PT Integrasi Jaringan Ekosistem. 

Di tingkat global, NTT Asia dikenal sebagai salah satu perusahaan telekomunikasi terbesar, dengan kapasitas mengelola layanan FTTH (fiber to the home) untuk 25 juta pelanggan. 

"Ini bukan hanya dukungan modal dan teknologi. Ini adalah validasi global atas kredibilitas WIFI dan masa depan industri ini di Indonesia," ujar Yune Marketatmo. 

Kinerja Keuangan WIFI Hingga Kuartal III 2025

WIFI membukukan kinerja moncer sepanjang Januari–September 2025. Berdasarkan laporan keuangan perusahaan, laba bersih periode berjalan yang diatribusikan kepada pemilik entitas induk melonjak 71,03% secara tahunan (year on year/yoy) menjadi Rp 260,09 miliar pada kuartal III 2025, dibandingkan Rp 152,07 miliar pada periode yang sama tahun lalu.   

Merujuk laba bersih, maka laba per saham dasar WIFI pada periode ini mencapai Rp 105,54 per lembar. Nilai ini naik dari Rp 64,54 per saham pada periode yang sama tahun sebelumnya. Tak hanya itu, emiten layanan internet tersebut juga meraup pendapatan usaha bersih sebesar Rp 1,01 triliun. Torehan itu meroket 100,99% yoy dibandingkan periode yang sama tahun lalu sebesar Rp 504,95 miliar pada 2024. 

Pendapatan WIFI paling besar ditopang oleh segmen telekomunikasi sebesar Rp 739,44 miliar hingga September 2025. Sisanya, berasal dari segmen periklanan sebesar Rp 276,67 miliar. Di samping itu, beban pokok pendapatan tercatat sebesar Rp 325,42 miliar, sehingga laba bruto per September 2025 naik 124,16% menjadi Rp 689,48 miliar, dari sebelumnya Rp 307,58 miliar pada periode yang sama 2024. 

Dari sisi neraca, total aset WIFI melesat 331,32% menjadi Rp 12,54 triliun per 30 September 2025, dibandingkan posisi 31 Desember 2024 sebesar Rp 2,91 triliun. Ekuitas WIFI juga meroket 749,90% dari Rp 969,84 miliar menjadi Rp 8,18 triliun. Di sisi lain, total liabilitas meningkat 124,69% menjadi Rp 4,35 triliun, dengan porsi terhadap total aset sebesar 34,72%.

Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.

mobile apps preview
Reporter: Nur Hana Putri Nabila
Editor: Agustiyanti

Cek juga data ini

Artikel Terkait

Video Pilihan
Loading...