Purbaya soal Rupiah Dekati 17.000 per Dolar AS: Enggak Usah Khawatir 

Abdul Azis Said
22 Januari 2026, 14:46
purbaya, rupiah, rupiah melemah
ANTARA FOTO/Muhammad Adimaja/nz
Ilustrasi.
Button AI SummarizeMembuat ringkasan dengan AI

Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa mengatakan masyarakat tak perlu khawatir dengan nilai tukar rupiah yang sempat melemah hingga mendekati 17.000 per dolar AS. Purbaya beralasan Bank Sentral bersama pemerintah akan menjaga stabilitas nilai tukar. 

“Saya percaya Bank Sentral punya strategi yang tepat. Fundamental ekonomi kita terus diperbaiki dan akan semakin membaik. Jadi enggak usah khawatir,” kata Purbaya di KPP Madya Jakarta Utara, Kamis (22/1). 

Di sisi lain, Purbaya membantah bahwa salah satu penyebab melemahnya nilai tukar rupiah terhadap dolar AS karena riuh tukar guling jabatan di Kementerian Keuangan dan Bank Indonesia. 

Keponakan Presiden Prabowo Sunianto yang juga merupakan Wakil Menteri Keuangan Thomas Djiwandono dicalonkan menjadi salah satu kanditat dewan gubernur Bank Indonesia menggantikan Juda Agung. Sedangkan Juda diproyeksikan menjadi Wakil Keuangan menggantikan Thomas. 

Purbaya berpandangan, melemahnya rupiah bukan disebabkan oleh pencalonan Thomas. “Rupiah melemah sebelum Pak Thomas ditunjuk, jadi itu bukan isu. Ada faktor lain,” kata dia. 

Bank Indonesia sebelumnya  mencatat, aliran modal asing keluar dari investasi portofolio sejak awal tahun hingga 19 Januari 2026 mencapai US$ 1,6 miliar atau sekitar Rp 27 triliun (asumsi kurs Rp 16.935 per dolar AS) di tengah ketidakpastian global. Kondisi ini menjadi penyebab rupiah melemah hingga mendekati level 17.000 per dolar AS pada pekan ini.

"Pelemahan nilai tukar dipengaruhi aliran keluar modal asing akibat meningkatnya ketidakpastian pasar keuangan global," ujar Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo dalam Konferensi Pers Hasil Rapat Dewan Gubernur BI di Jakarta, Rabu (21/1).  

BI mencatat nilai tukar rupiah melemah 1,53% sejak awal tahun hingga 20 Januari 2026 ke level 16.945 per dolar AS. Selain disebabkan keluarnya modal asing akibat ketidakpastian gklobal, pelemahan rupiah juga dipengaruhi kenaikan permintaan valuta asing sejalan dengan meningkatnya kegiatan ekonomi.  

"Guna menjaga rupiah, BI menempuh intensitas langkah stabilisasi melalui intervensi di pasar NDF baik off-shore maupun on-shore (DNDF) dan pasar spot," kata dia. 

Menurut Perr, respons kebijakan ini dapat menjaga volatilitas nilai tukar rupiah dan tetap konsisten dengan upaya pencapaian sasaran inflasi 1,5% hingga 3,5% pada 2026. BI pun berkomitmen untuk menjaga stabilitas nilai tukar Rupiah termasuk melalui intervensi terukur di transaksi NDF, DNDF, dan pasar spot, serta memperkuat strategi operasi moneter pro-market.

Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.

mobile apps preview
Reporter: Ade Rosman
Editor: Agustiyanti

Cek juga data ini

Artikel Terkait

Video Pilihan
Loading...