Mengintip Prospek Cuan Raharja Energi Cepu (RATU) Usai Masuk Blok Madura Strait

Karunia Putri
23 Januari 2026, 07:31
Blok migas
Katadata
Button AI SummarizeMembuat ringkasan dengan AI

Emiten minyak dan gas milik Happy Hapsoro, PT Raharja Energi Cepu Tbk (RATU) akan menadah cuan ekstra setelah memenangkan hak partisipasi 20% Blok Madura Strait. Kontribusi aset migas tersebut diperkirakan mulai tercermin dalam kinerja keuangan perseroan pada kuartal kedua 2026.

Adapun RATU menjadi pemenang tender akuisisi 100% saham SMS Development Limited (SMSDL). Perusahaan ini secara tidak langsung menggenggam 20% partisipasi di Husky CNOOC Madura Limited (HCML), kontraktor kontrak kerja sama (KKKS) Blok Madura Strait.

Direktur RATU Adrian Hartadi mengatakan, secara substansi kontribusi Blok Madura terhadap keuangan perseroan sebenarnya sudah berjalan sejak 1 Januari 2026. Namun, penetapan pemenang tender belum memberikan dampak material karena belum diikuti dengan perjanjian mengikat maupun persetujuan rapat umum pemegang saham (RUPS).

“Jadi efek keuangan itu sudah ada dari 1 Januari 2026. Cuman belum efektif aja. Tinggal berlaku nanti pada semester 1,” kata Adrian dalam diskusi Ratu Prospects and Challenges in the Future yang digelar secara virtual, Kamis (22/1).

Kendati demikian Adrian menyatakan belum dapat menyebutkan berapa persen potensi kenaikan laba bersih dan pendapatan perseroan pada tahun ini setelah dapat masuk di Blok Madura Strait.

Manajemen RATU menargetkan RUPS digelar pada 7 Mei 2026. Jika mendapat persetujuan pemegang saham, kontribusi Blok Madura akan mulai dicatat dalam laporan keuangan kuartal II 2026. Meski demikian, Adrian menyatakan, dalam kontrak kerja sama (CSP) yang dimiliki RATU, kontribusi tersebut sudah efektif sejak awal tahun.

Saat ini RATU masih menjadi pemegang saham non-operator. Menurut Adrian, karakteristik Blok Madura cukup kompleks karena berada di lepas pantai (offshore) dan memiliki tekanan serta temperatur tinggi. Sehingga perseroan belum dapat masuk ke aset migas tersebut sebagai operator.

Saat ini, operator Blok Madura adalah CNOOC, perusahaan migas asal China dengan rekam jejak internasional. Meski berstatus pemegang saham pasif, RATU tetap berupaya berkontribusi aktif dengan memberikan masukan dan menciptakan nilai tambah agar tercipta hubungan yang saling menguntungkan.

Kendati demikian, Adrian mengungkapkan, perseroan memang memiliki rencana jangka panjang untuk menjadi operator di blok migas lain. Namun, proyek tersebut masih dalam tahap uji tuntas dan berskala lebih kecil dibandingkan Blok Madura atau proyek migas besar lainnya.

Sementara itu, HCML berada di bawah pengawasan Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Migas (SKK Migas) dan mengelola eksplorasi serta eksploitasi migas di Blok Madura Strait. Perusahaan ini mengoperasikan dua lapangan gas utama, salah satunya Lapangan BD.

Proyek Lapangan BD mencakup pembangunan pipa bawah laut sepanjang sekitar 53 kilometer dari Sampang ke Pasuruan. Lapangan ini menargetkan produksi gas sebesar 100 juta standar kaki kubik per hari (MMSCFD) serta kondensat sekitar 6.000 barel per hari.

Aksi Korporasi RATU di Non Operasional

Selain ekspansi aset migas, RATU juga menyiapkan langkah strategis non operasional. Adrian mengungkapkan, perseroan tengah memproses penerbitan obligasi (bonds) yang disebut akan diluncurkan pada 2026.

“Efeknya tentu akan memperbaiki likuiditas perusahaan,” ujarnya.

Adapun nilai obligasi yang akan diterbitkan tersebut sebesar Rp 800 miliar. Adrian menyebut, aksi korporasi tersebut belum final karena masih diproses oleh Otoritas Jasa Keuangan dan BEI.

Dana hasil penerbitan obligasi tersebut akan digunakan sesuai rencana penggunaan dana, termasuk untuk belanja modal (capex) guna mendukung peningkatan dan keberlanjutan produksi. Adrian menilai, mempertahankan level produksi saat ini saja sudah menjadi nilai tambah, mengingat sejumlah peralatan produksi sudah memasuki usia tua dan memerlukan penggantian besar.

Perseroan memperkirakan belanja modal yang cukup signifikan pada 2026, terutama untuk peremajaan peralatan. Dampaknya diharapkan baru terasa pada 2027, ketika produksi dapat meningkat dibandingkan tahun sebelumnya.

Sementara itu, RATU menetapkan Calex untuk Blok Cepu sebesar US$6 juta. Sementara itu, belanja modal untuk aset Blok Jabung mencapai sekitar US$30 juta pada tahun ini. 

Peluang Dividen RATU Tahun Buku 2025

Di sisi lain, Adrian turut memberikan kisi-kisi pembagian dividen untuk tahun buku 2026. Dia memproyeksikan payout ratio dividen tahun ini di atas 40%. Angka ini tersebut selaras dengan realisasi tahun buku sebelumnya.

Pada tahun buku 2026, RATU membagikan dividen kepada para pemegang sahamnya dengan payout ratio sebesar 46% dari laba bersih. Setiap investor RATU saat itu mendapatkan Rp 40 per saham untuk dividennya.

Meski begitu, Adrian menyebut pembagian dividen tahun buku ini masih didiskusikan manajemen RATU.

“Tapi kita masih diskusi juga internal kita mau bagi dividendnya seperti apa untuk mempertahankan. Of course kita harus kita pengembangan bisnis kedepannya seperti apa dan juga baru bisa kita tentukan dividend yang pas untuk kita bagikan ke shareholders,” ujarnya

Ada 20 Blok Migas dalam Pipeline Akuisisi RATU

Terbaru, Adrian mengungkap rencana aksi akuisisi blok minyak dan gas (migas) baru pada tahun ini. Dia mengatakan, perseroan saat ini tengah melakukan negosiasi untuk mengakuisisi satu blok migas.

“Kami ada satu blok yang sedang dalam tahap diskusi untuk diakuisisi. Jika sudah ada kesepakatan yang tepat, kami bisa langsung melakukan akuisisi,” ujar Adrian dalam diskusi Ratu Prospects and Challenges in the Future yang digelar secara virtual, Kamis (22/1).

Adrian menjelaskan, karena masih berada pada tahap negosiasi, perseroan belum dapat mengungkapkan identitas blok migas yang menjadi target akuisisi tersebut. Namun, ia memastikan bahwa jika seluruh kesepakatan telah tercapai, RATU akan segera merealisasikan aksi korporasi tersebut dan mengumumkannya kepada publik.

Selain itu, Adrian menyebutkan terdapat sekitar 20 blok migas yang saat ini masuk dalam pipeline calon akuisisi RATU. Meski demikian, perseroan masih melakukan kajian mendalam untuk memastikan blok-blok tersebut sesuai dengan kriteria dan strategi bisnis perusahaan.

Dalam menjalankan strategi akuisisi, Adrian menyebut, RATU memprioritaskan blok migas yang sudah berada pada tahap operasi (operating). Menurut Adrian, sektor migas memiliki tingkat risiko yang tinggi, terutama pada blok yang masih berada dalam tahap eksplorasi.

“Oleh karena itu, sebisa mungkin kami tidak masuk ke tahap eksplorasi dan lebih fokus pada blok yang sudah berproduksi,” kata dia.

Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.

mobile apps preview
Reporter: Karunia Putri

Cek juga data ini

Artikel Terkait

Video Pilihan
Loading...