Lo Kheng Hong: IHSG yang Turun Banyak Adalah Peluang Emas bagi Investor
Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI) pada Rabu pagi dibuka melemah 597,75 poin atau 6,6% ke posisi 8.382,48. Penurunan terjadi imbas pengumuman Morgan Stanley Capital International (MSCI) telah mengumumkan hasil penilaian terkait perubahan metodologi perhitungan porsi saham publik atau free float di pasar saham Indonesia.
Berdasarkan data perdagangan BEI volume transaksi perdagangan mencapai 8.000 miliar saham. Adapun frekuensi sebanyak 436,25 ribu kali dan kapitalisasi pasar sebesar Rp 15.211 triliun
Menanggapi penurunan drastis IHSG pagi ini, investor senior yang juga dikenal sebagai Warren Buffet dari Indonesia itu mengatakan investor semestinya tidak perlu khawatir. Justru menurut dia, penurunan tajam IHSG menjadi modal untuk memperkuat posisi investasi.
“IHSG yang turun banyak adalah peluang emas bagi investor, bisa beli perusahaan bagi di harga murah,” ujar Lo Kheng Hong kepada Katadata.co.id. Rabu (28/1).
Menurut Lo Kheng Hong, pada momen seperti hari investor bisa memanfaatkan untuk menambah portofolio di pasar modal. Namun pilihan investasi harus dilakukan dengan pertimbagan yang cermat.
“Beli saham karena kinerjanya bagus dan valuasinya murah, bukan karena mau masuk MSCI,” ujar Lo lagi.
Sebelumnya, dalam diskusi dengan Katadata, Lo Kheng Hong mengingatkan investor untuk tidak mudah panik. Ia justru menyarankan investor untuk bersikap cermat dan jeli melihat peluang di tengah penurunan harga sejumlah saham.
“Dana asing kabur, harga saham blue chip turun banyak. Artinya sedang terjadi hujan emas di Bursa Efek Indonesia. Ambillah ember yang besar untuk menampung hujan emas di sana,” ujar Lo.
Meski begitu, ia mengingatkan agar investor ritel tidak sembarang pilih saham saat memutuskan menambah investasi di tengah tren penurunan.
“Kalau tunggu hujan reda, tidak dapat emas lagi,” ujar Lo Kheng Hong lagi.
Tips Investasi saat IHSG Tertekan ala Lo Kheng Hong
Menurut pria yang sudah empat puluh tahun lebih berinvestasi saham, terdapat dua hal yang bisa dijadikan acuan untuk membedakan mana saham yang layak dikoleksi. Hal ini perlu diperhatikan agar para investor ritel khususnya pemula tidak asal pilih saat berinvestasi saham.
“Yang labanya besar itu emas, yang dividennya besar itu emas,” tutur Lo Kheng Hong memberikan tips.
Di kalangan investor pasar modal, Lo Kheng Hong selama ini memang lebih dikenal memperhatikan faktor fundamental perusahaan. Ia selalu menyebutkan untuk memperhatikan kinerja emiten. Salah satu indikator untuk melihat kualitas emiten menurut dia dapat dicermati dari kecenderungan laba dan riwayat pembagian dividen perusahaan.
Strategi mengumpulkan dividen ini membawa Lo mengantongi dividen lebih dari Rp 100 miliar setiap tahunnya. Untuk tahun buku 2024 misalnya, ia mengantongi dividen jumbo dari beberapa emiten di antaranya Rp 23 miliar dari PT ABM Investama Tbk (ABMM), Rp 9,6 miliar dari PT Gajah Tunggal Tbk (GJTL) dan Rp 15 miliar dari PT Salim Ivomas Tbk (SIMP).
Jumlah ini belum termasuk dividen dari sejumlah saham perbankan yang ia koleksi seperti PT Bank OCBC NISP Tbk (NISP) PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI), PT Bank Danamon Indonesia Tbk (BDMN), dan PT Bank CIMB Niaga Tbk. (BNGA). Ia juga tercatat memiliki saham di PT Perusahaan Gas Negara Tbk (PGAS) dan menerima dividen Rp 48 miliar.
