IHSG Sesi I Rontok 7,34% ke 8.321, Market Cap Lenyap hingga Rp 1.293 Triliun
Indeks Harga Saham Gabungan atau IHSG ditutup rontok 7,34% ke 8.321 pada perdagangan sesi pertama hari ini, Rabu (28/1). Tak hanya itu, kapitalisasi pasar atau market cap lenyap hingga Rp 1.293 triliun.
Merosotnya IHSG imbas pengumuman MSCI yang menangguhkan rebalancing indeks saham Indonesia karena kekhawatiran kepemilikan terkonsentrasi. Imbasnya, bobot Indonesia di Morgan Stanley Capital International (MSCI) Emerging Markets berpotensi turun.
Data perdagangan Bursa Efek Indonesia (BEI) menunjukkan nilai transaksi saham siang ini sebesar Rp 30,05 triliun dengan volume 42,81 miliar saham dan frekuensi sebanyak 2,76 juta kali. Sebanyak 30 saham menguat, 764 saham terkoreksi, dan 10 saham tidak bergerak. Adapun kapitalisasi pasar IHSG sesi pertama ini sebesar Rp 15.087 triliun.
Apabila membandingkan dengan penutupan perdagangan Selasa (27/1) kemarin, IHSG sempat ditutup naik tipis 0,05% ke level 8.980 dan kapitalisasi pasar mencapai Rp 16.380 triliun. Apabila dikalkulasikan, kapitalisasi pasar di pasar modal sudah lenyap hingga Rp 1.293 triliun.
Di samping itu, dari sebelas sektor yang ada di BEI, seluruhnya terpantau di zona merah. Sektor yang mencatat penurunan terbesar yakni infrastruktur merosot hingga 10,19%. Adapun saham di sektor tersebut yang terpantau turun yakni PT Chandra Daya Investasi Tbk (CDIA) merosot hingga 14,64% ke Rp 1.195.
Di sisi lain, bursa saham Asia justru seluruhnya kompak hijau. Indeks Hang Seng naik 1,10%, Straits Times terangkat 0,79%, Nikkei naik 0,73%, dan Shanghai Composite naik tipis 0,01%.
Daftar Saham top gainers:
- PT Diamond Food Indonesia Tbk (DMND) naik 6,45% ke Rp 825
- PT Indofood Sukses Makmur Tbk (INDF) naik 0,37% ke Rp 6.725
- PT Wintermar Offshore Marine Tbk (WINS) naik 6% ke Rp 530
Daftar Saham top losers:
- PT Rukun Raharja Tbk (RAJA) turun 15% ke Rp 4.590
- PT Maharaksa Biru Energi Tbk (OASA) turun 14,98% ke Rp 386
- PT Raharja Energi Cepu Tbk (RATU) turun 14,97% ke Rp 6.250
Pengumuman terbaru Morgan Stanley Capital International (MSCI) yang akan membekukan saham Indonesia, baik dalam rebalancing maupun penambahan bobot dalam indeksnya langsung, membuat pasar babak belur sejak pembukaan perdagangan hari ini, Rabu (28/1).
Analis menilai investor global semakin waswas untuk masuk ke bursa Indonesia. Apalagi dalam pengumuman yang disampaikan MSCI tertulis, investor global telah menyoroti rendahnya transparansi struktur kepemilikan saham di pasar Indonesia.
Mereka khawatir adanya potensi transaksi yang bersifat terkoordinasi. Kondisi ini dikhawatirkan dapat mengganggu mekanisme pembentukan harga yang wajar dan meningkatkan risiko volatilitas yang tidak sehat di pasar.
Pengamat pasar modal sekaligus Founder Republik Investor, Hendra Wardana, menilai keputusan MSCI tersebut membuat investor global semakin berhati-hati terhadap pasar saham Indonesia. Isu transparansi dan kekhawatiran terhadap kualitas pembentukan harga dinilai meningkatkan risk premium Indonesia di mata investor asing.
“Dalam kondisi seperti ini, investor asing cenderung mengurangi eksposur atau menunda penambahan posisi, terutama pada saham-saham berkapitalisasi besar yang menjadi kontributor utama pergerakan IHSG,” kata Hendra kepada Katadata.co.id, Rabu (28/1).
Menurut dia, sikap hati-hati investor global tersebut membuat IHSG menjadi lebih rentan terhadap koreksi, terutama ketika muncul tekanan tambahan dari sentimen global. Risiko jangka menengah juga akan membayangi pasar, menyusul pernyataan MSCI yang akan meninjau ulang status aksesibilitas pasar Indonesia jika hingga Mei 2026 tidak terdapat kemajuan signifikan dalam peningkatan transparansi.
