Net Sell Asing Tembus Rp 6,17 T saat IHSG Ambruk 8%, Saham Bank Jumbo Dilego
Tekanan jual investor asing menjadi faktor utama di balik kejatuhan tajam Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pada perdagangan Rabu (28/1). Data Bursa Efek Indonesia menunjukkan, asing mencatatkan net sell sebesar Rp 6,17 triliun dalam sehari, seiring aksi jual masif di saham-saham berkapitalisasi besar.
IHSG ditutup anjlok 7,35% ke level 8.320,56, sempat bergerak dari level tertinggi 8.596 hingga menyentuh titik terendah 8.187 sepanjang sesi perdagangan. Tekanan jual yang deras membuat kapitalisasi pasar Bursa Efek Indonesia susut signifikan menjadi Rp 15.093 triliun.
Aksi keluar investor asing terlihat dominan di tengah lonjakan nilai transaksi. Total nilai perdagangan saham mencapai Rp 45,43 triliun, dengan porsi penjualan asing lebih besar dibandingkan pembelian. Data BEI mencatat, investor asing membukukan nilai jual sekitar Rp 20,93 triliun, sementara nilai beli berada di kisaran Rp 14,76 triliun pada hari yang sama.
Tekanan asing paling terasa di saham-saham unggulan perbankan dan emiten berkapitalisasi jumbo. Saham BBCA, BMRI, dan BBRI tercatat sebagai saham dengan nilai transaksi terbesar, sekaligus masuk daftar kontributor utama pelemahan indeks.
Merujuk data stockbit sekuritas saham BBCA dijual asing sebesar Rp 4,4 triliun, BMRI sebesar Rp 1,2 triliun dan BBRI di 1,1 triliun. Sedangkan PT Telkom Indonesia Tbk (TLKM) dijual Rp 546 triliun.
BBCA sendiri ditransaksikan senilai Rp 7,49 triliun, disusul BMRI Rp 2,97 triliun dan BBRI Rp 2,67 triliun. Gelombang jual ini membuat mayoritas saham berakhir di zona merah.
Dari sisi pergerakan, sekitar 75% saham ditutup melemah, dengan tekanan terbesar terjadi pada saham-saham yang turun lebih dari 2%. Secara sektoral, indeks infrastruktur, energi, dan teknologi mencatatkan koreksi terdalam, masing-masing turun lebih dari 7% dalam sehari.
Secara year to date (YTD), asing masih mencatatkan net sell Rp3,71 triliun, menandakan kehati-hatian global investor terhadap pasar saham domestik belum sepenuhnya mereda. Tekanan eksternal dan sentimen global membuat pergerakan asing menjadi faktor kunci yang terus membayangi arah IHSG dalam jangka pendek.
