Ikuti Goldman Sach, Giliran UBS Turunkan Peringkat Saham RI Imbas Rilis MSCI
Goncangan beruntun mendera Bursa Efek Indonesia setelah Morgan Stanley Capital International (MSCI) membekukan saham Indonesia dalam rebalancing Indeks yang akan berlaku Februari mendatang. Kabar terbaru datang dari pada Rabu (28/1). Para ahli strategi di UBS AG menurunkan peringkat saham lokal menjadi netral.
“Kami pikir tekanan pada pasar secara keseluruhan kemungkinan akan berlanjut sampai kita mendapatkan kejelasan tentang peraturan dan penilaian ulang MSCI,” tulis analis UBS termasuk Sunil Tirumalai dalam catatan yang dikutip dari Bloomberg Kamis (29/1).
Selain kekhawatiran MSCI, UBS juga menyoroti kebijakan pemerintah Indonesia. UBS menyatakan ada juga peningkatan risiko regulasi setelah Sekretaris Negara Prasetyo Hadi mengatakan 28 perusahaan dengan izin usaha yang dicabut dapat dijalankan oleh dana kekayaan negara Danantara.
Aksi UBS ini diumumkan di hari yang sama dengan munculnya pernyataan resmi dari bank investasi besar yang berkantor pusat di Amerika Serikat Goldman Sach Group Inc. Dalam pengumuman terbaru Goldman menurunkan peringkat saham Indonesia menjadi underweight, dengan mengatakan bahwa kekhawatiran MSCI tentang kemampuan investasi dapat memicu arus keluar lebih dari $13 miliar jika pasar diturunkan peringkatnya.
“Kami memperkirakan penjualan pasif lebih lanjut dan menganggap perkembangan ini sebagai hambatan yang akan menghambat kinerja pasar,” tulis analis Goldman Sachs, termasuk Timothy Moe, dalam sebuah laporan.
Para analis menilai, dalam skenario ekstrem ketika Indonesia diklasifikasikan ulang dari pasar negara berkembang, dana pasif yang mengikuti indeks MSCI dapat menjual hingga $7,8 miliar. Arus keluar lebih lanjut sebesar $5,6 miliar dengan total keduanya setara Rp 218 triliun juga dapat dipicu jika FTSE Russell menilai kembali metodologi dan status free-float-nya .
Salah satu hasil pengumuman MSCI tersebut adalah MSCI memutuskan membekukan sementara sejumlah perubahan indeks yang melibatkan saham-saham Indonesia. Hal ini dilakukan menyusul kekhawatiran investor global terhadap transparansi data kepemilikan saham serta aspek kelayakan investasi (investability) pasar.
MSCI Tunggu Revisi Data
Dalam pengumuman terbaru, MSCI menyatakan telah menyelesaikan proses konsultasi terkait penilaian free float saham Indonesia. Dia menyatakan, kebanyakan investor global menyampaikan kekhawatiran terhadap penggunaan Laporan Komposisi Kepemilikan Bulanan PT Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI) untuk melihat free float di saham Indonesia.
Meskipun beberapa investor menyatakan dukungan penggunaan KSEI tersebut. Investor menyoroti masalah fundamental terkait kelayakan investasi masih berlanjut karena kurangnya transparansi dalam struktur kepemilikan saham dan kekhawatiran tentang kemungkinan perilaku perdagangan terkoordinasi yang merusak pembentukan harga.
“Untuk mengatasi beberapa kekhawatiran ini, diperlukan informasi yang lebih rinci dan andal tentang struktur kepemilikan saham, termasuk kemungkinan pemantauan konsentrasi kepemilikan saham yang tinggi, untuk mendukung penilaian yang kuat terhadap saham beredar bebas dan kelayakan investasi di seluruh sekuritas Indonesia,” tulis MSCI dalam pengumuman resminya, dikutip Rabu (28/1).
Kabar beruntun yang datang dari lembaga investasi dunai langsung berdampak ke pasar modal. Pada perdagangan sesi I hari ini, IHSG ditutup di zona merah dengan turun 5,9%. Tekanan bahkan menyeret IHSG turun hingga 8% sehingga BEI memberlakukan trading halt atau pembekuan sementara perdagangan saham.
