Gejolak IHSG: Sorotan Transparansi dari MSCI hingga Iman Rachman Mundur dari BEI
Iman Rachman mengundurkan diri dari jabatan sebagai Direktur Utama Bursa Efek Indonesia (BEI) hari ini, Jumat (30/1). Pengunduran dirinya di tengah gejolak indeks Harga Saham Gabungan atau (IHSG) anjlok hingga trading halt dua hari beruntun.
Hal itu usai pengumuman Morgan Stanley Capital International (MSCI) yang menangguhkan rebalancing indeks saham Indonesia pada Februari 2026. Tak hanya itu konsekuensi terburuknya pasar saham RI bisa masuk ke dalam kategori frontier market, level lebih rendah dari emerging market setara dengan Bangladesh hingga Kenya.
Iman mengatakan keputusan yang diambil menurutnya menjadi yang terbaik untuk padar modal. Ia berharap dengan pengunduran dirinya pasar modal menjadi lebih baik.
“Sebagai bentuk tanggung jawab apa yangg terjadi dua hari ini menyatakan mengundurkan diri sebagai Direktur Utama BEI,” kata Iman.
Pasca pengumuman pengunduran diri tersebut, pergerakan pasar saham masih diwarnai volatilitas. IHSG sempat dibuka menguat ke level 8.308, namun kemudian turun hingga menyentuh level terendah intraday di 8.167 pada pukul 10.04 WIB. Hingga pukul 09.28 WIB, indeks tercatat menguat 0,91% ke level 8.307.
Kinerja BEI belakangan menjadi sorotan setelah Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) anjlok tajam hingga memicu trading halt selama dua hari berturut-turut. Tekanan pasar muncul seiring respons negatif pelaku pasar terhadap keputusan Morgan Stanley Capital International (MSCI) yang menangguhkan rebalancing indeks saham Indonesia pada Februari 2026.
Dalam pengumuman terbaru MSCI mempertanyakan data pemegang saham yang diberikan BEI sebagai bahan kajian dalam penyusunan indeks saham bergengsi MSCI. Lembaga yang jadi rujukan investor global itu meminta transparansi data dan memberi waktu revisi pada BEI hingga Mei 2026.
Seiring dengan gonjang-ganjing di pasar modal hingga IHSG rontok dua hari beruntun, pemerintah melalui Otoritas Jasa Keuangan mengambil langkah cepat. Salah satunya OJK mulai berkantor di BEI hari ini untuk mengawasi reformasi BEI.
Selain itu OJK juga segera menerbitkan peraturan terkait demutualisasi BEI yang akan tuntas pada triwulan pertama tahun ini. Hal itu diungkapkan Ketua Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan (OJK), Mahendra Siregar.
“Kami bisa sampaikan juga kami memahami dalam diskusi dengan pemerintah bahwa pemerintah akan menerbitkan peraturan terkait demutualisasi bursa dalam kuartal pertama tahun ini,” ucap Mahendra di Gedung BEI, Jakarta, kamis (29/1).
BEI Janji Benahi Transparansi Free Float
BEI mengeluarkan pernyataan resmi untuk menindaklanjuti pengumuman MSCI. Sekretaris Perusahaan BEI, Kautsar Primadi Nurahmad, mengatakan BEI berkomitmen melakukan berbagai upaya untuk meningkatkan bobot saham Indonesia dalam indeks MSCI.
“Komitmen ini diwujudkan melalui penguatan transparansi data pasar, termasuk penyediaan informasi yang lebih akurat dan andal, sesuai dengan praktik terbaik global dan ekspektasi pemangku kepentingan internasional,” ujar Kautsar dalam keterangan resmi, Rabu (28/1).
Ia menyampaikan BEI telah mengambil langkah konkret dengan memublikasikan data free float secara komprehensif melalui situs resmi BEI sejak 2 Januari 2026. Informasi tersebut akan diperbarui dan disampaikan secara rutin setiap bulan. Selain itu, BEI bersama SRO dan OJK akan terus berkoordinasi dengan MSCI guna memastikan keselarasan pemahaman serta implementasi peningkatan transparansi informasi di pasar modal Indonesia.
“Melalui koordinasi yang berkesinambungan ini, kami optimistis dapat memperkuat daya saing pasar modal Indonesia di tingkat global sekaligus meningkatkan kepercayaan investor,” kata Kautsar.
BEI, lanjut Kautsar, juga memperkuat koordinasi dengan OJK, PT Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI), serta PT Kliring Penjaminan Efek Indonesia (KPEI). Menurutnya, masukan dari MSCI merupakan bagian penting dari upaya berkelanjutan untuk meningkatkan kredibilitas pasar modal Indonesia, mengingat pembobotan MSCI menjadi salah satu referensi utama investor global.
