Deret Lembaga Global Turunkan Rating Pasar Saham RI: Goldman Sachs hingga Nomura
Sejumlah bank investasi global, mulai dari Goldman Sachs, UBS, hingga Nomura, menurunkan peringkat saham Indonesia. Hal itu imbas pengumuman Morgan Stanley Capital International (MSCI) yang menangguhkan rebalancing indeks saham Indonesia pada Februari 2026.
MSCI menyebut tidak dapat mengikutkan saham Indonesia dalam kocok ulang lantaran belum terpenuhinya standar metodologi yang diinginkan. Lembaga pemeringkat yang menjadi rujukan investor global itu menyoroti kualitas kepemilikan saham publik (free float), keterbukaan data kepemilikan, serta kedalaman dan likuiditas pasar.
Tak hanya itu konsekuensi terburuknya pasar saham RI bisa masuk ke dalam kategori frontier market, level lebih rendah dari emerging market setara dengan Bangladesh hingga Kenya. Seiring dengan itu Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) anjlok 8% hingga trading halt dua kali pada 28–29 Januari 2026.
Terbaru Broker asal Jepang, Nomura Holdings Inc., menurunkan peringkat saham Indonesia menjadi netral dari overweight karena meningkatnya risiko terhadap investasi serta potensi arus keluar dana pasif. Hal itu imbas dari sanksi MSCI yang membekukan rebalancing indeks saham Indonesian.
Mengutip Bloomberg, Strategist Nomura Chetan Seth mengatakan peringatan MSCI soal potensi penurunan status menjadi pasar frontier mengejutkan Nomura dan pelaku pasar. Ia menilai rekomendasi positif sebelumnya bertumpu pada valuasi pasar modal RI yang relatif menarik, ekspektasi stabilisasi ekonomi, laba korporasi, dan rendahnya ekspektasi pasar setelah kinerja jangka panjang melemah.
“Saham dan mata uang menciptakan profil risiko-imbalan yang potensial menarik bagi investor yang sabar,” kata Seth dalam sebuah catatannya, Bloomberg, dikutip Selasa (3/1).
Goldman Sachs Turunkan Peringkat Saham RI, Potensi Dana Asing Keluar Rp 218 T
Lembaga global lainnya yang turut melakukan revisi peringkat rating saham RI adalah Goldman Sachs Group Inc. Bank investasi yang berkantor di Amerika Serikat itu menurunkan peringkat saham Indonesia menjadi underweight.
Dalam pengumumannya Goldman Sachs mewanti-wanti kekhawatiran MSCI terkait kelayakan investasi di Indonesia bisa memicu arus keluar dana lebih dari US$ 13 miliar atau sekitar Rp 218,2 triliun. Terutama jika Indonesia diturunkan statusnya menjadi pasar negara berkembang.
Dalam skenario ekstrem apabila Indonesia diklasifikasikan ulang dari pasar negara berkembang, dana pasif yang mengikuti indeks MSCI diperkirakan bakal keluar hingga US$ 7,8 miliar. Selain itu, arus keluar tambahan sekitar US$ 5,6 miliar juga bisa keluar apabila FTSE Russell menilai ulang metodologi dan status free-float Indonesia.
“Kami memperkirakan penjualan pasif lebih lanjut dan menganggap perkembangan ini sebagai hambatan yang akan menghambat kinerja pasar,” tulis analis Goldman Sachs, termasuk Timothy Moe, dalam laporannya, dikutip Bloomberg, Kamis (29/1).
Tak hanya itu, manajer dana aktif regional saat ini memiliki posisi overweight di pasar Indonesia. Hambatan dari kemungkinan penurunan peringkat, ditambah tekanan pasar dan potensi menurunnya likuiditas, diperkirakan akan mendorong investor long-only menyesuaikan portofolio mereka. Kondisi ini juga berpotensi memicu arus spekulatif dari hedge fund.
UBS Turunkan Peringkat Saham RI
Sebelumnya bank investasi besar di Amerika Serikat, UBS AG yang menurunkan peringkat saham lokal menjadi netral. “Kami pikir tekanan pada pasar secara keseluruhan kemungkinan akan berlanjut sampai kita mendapatkan kejelasan tentang peraturan dan penilaian ulang MSCI,” tulis analis UBS termasuk Sunil Tirumalai dalam catatan yang dikutip dari Bloomberg Kamis (29/1).
Selain kekhawatiran MSCI, UBS juga menyoroti kebijakan pemerintah Indonesia. UBS menyatakan ada juga peningkatan risiko regulasi setelah Sekretaris Negara Prasetyo Hadi mengatakan 28 perusahaan dengan izin usaha yang dicabut dapat dijalankan oleh Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara atau Danantara.
Aksi UBS ini diumumkan di hari yang sama dengan munculnya pernyataan resmi dari bank investasi besar yang berkantor pusat di Amerika Serikat Goldman Sach Group Inc. Dalam pengumuman terbaru Goldman menurunkan peringkat saham Indonesia menjadi underweight, dengan mengatakan bahwa kekhawatiran MSCI tentang kemampuan investasi dapat memicu arus keluar lebih dari $13 miliar jika pasar diturunkan peringkatnya.
“Kami memperkirakan penjualan pasif lebih lanjut dan menganggap perkembangan ini sebagai hambatan yang akan menghambat kinerja pasar,” tulis analis Goldman Sachs, termasuk Timothy Moe, dalam sebuah laporan.
