Dapat Pinjaman Rp 800 Miliar, MEDC Pastikan Operasional Aman
Emiten sektor energi PT Medco Energi Internasional Tbk (MEDC) memperoleh fasilitas pinjaman dari PT Bank ICBC Indonesia senilai Rp 800 miliar. Dana tersebut akan digunakan untuk mendukung kebutuhan pembiayaan perseroan.
Berdasarkan keterbukaan informasi di Bursa Efek Indonesia (BEI), fasilitas kredit tersebut akan dimanfaatkan untuk belanja modal atau capital expenditure (capex) dan pendanaan umum perusahaan.
Sekretaris MEDC, Siendy K Wisandana menyampaikan, perseroan telah menandatangani Perjanjian Kredit dengan PT Bank ICBC Indonesia pada 4 Februari 2026. Fasilitas kredit itu memiliki jangka waktu 60 bulan sejak tanggal pencairan pertama.
Perseroan memastikan kegiatan operasional dan kelangsungan usaha MEDC tetap berjalan seperti biasa pascapenyampaian informasi tersebut.
“Tidak terdapat dampak khusus atas penyampaian keterbukaan informasi ini, mengingat penyampaian keterbukaan informasi ini merupakan pemenuhan kewajiban keterbukaan informasi berdasarkan POJK No. 31/2015,” kata Siendy dalam keterbukaan informasi BEI dikutip Kamis (5/2).
Sebelumnya, MEDC melaporkan perluasan bisnisnya. Perseroan menggarap bisnis di sektor migas, ketenagalistrikan berbasis energi terbarukan, serta pertambangan tembaga dan emas melalui kepemilikan nonkonsolidasi di PT Amman Mineral Nusa Tenggara, anak usahanya dengan PT Amman Mineral Internasional Tbk (AMMN).
Di bidang energi rendah karbon, MEDC melalui anak usahanya PT Medco Power Indonesia (Medco Power) telah memulai operasi komersial commercial operation date atau (COD) Pembangkit Listrik Add-On Combined Cycle Power Plant (CCPP) berkapasitas 39 megawatt (MW) di Tanjung Uncang, Batam.
Proyek ini dikembangkan melalui PT Energi Listrik Batam (ELB), yang dijalankan berdasarkan perjanjian jual beli listrik jangka panjang dengan PT PLN Batam. Melalui proyek ini, pembangkit open cycle berkapasitas 70 MW yang telah beroperasi sebelumnya dikonversi menjadi pembangkit combined cycle berkapasitas total 109 MW.
Pemanfaatan panas buang turbin gas untuk menghasilkan listrik tambahan melalui turbin uap akan meningkatkan efisiensi pembangkit sekaligus menurunkan intensitas karbon dari 0,8 ton menjadi 0,4 ton CO2 per megawatt hour (MWh). Proyek ini disebut akan memperkuat pasokan listrik bagi pertumbuhan industri di Batam dan Bintan.
Presiden Direktur sekaligus CEO Medco Power Indonesia, Eka Satria mengatakan, proyek tersebut menjadi langkah konkret perseroan dalam meningkatkan efisiensi dan keandalan sistem kelistrikan.
“Proyek Add-On ini merupakan langkah nyata dalam meningkatkan efisiensi dan keandalan sistem. Dengan menghasilkan lebih banyak listrik dari sumber energi yang sama, proyek ini meningkatkan kinerja keseluruhan dan menurunkan intensitas karbon, sejalan dengan fokus kami untuk mengoptimalkan aset yang ada untuk memenuhi kebutuhan listrik,” ujarnya pada Selasa (6/1).
