Manuver PIPA Tancap Gas ke Migas, Sinyal Right Issue Usai Diambil Morris Capital

Nur Hana Putri Nabila
9 Februari 2026, 17:10
Pengunjung berada di dekat layar yang menampilkan pergerakan harga saham di Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Rabu (12/11/2025). Indeks Harga Saham Gabungan atau IHSG ditutup naik 0,26% atau 22,05 poin ke level 8.388 pada penutupan perdagangan hari ini.
Katadata/Fauza Syahputra
Pengunjung berada di dekat layar yang menampilkan pergerakan harga saham di Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Rabu (12/11/2025). Indeks Harga Saham Gabungan atau IHSG ditutup naik 0,26% atau 22,05 poin ke level 8.388 pada penutupan perdagangan hari ini.
Button AI SummarizeMembuat ringkasan dengan AI

Emiten manufaktur PT Multi Makmur Lemindo Tbk (PIPA) kini tengah memperluas bisnisnya ke sektor minyak dan gas (migas) sekaligus menyiapkan aksi korporasi berupa penambahan modal melalui skema Hak Memesan Efek Terlebih Dahulu (HMETD) atau right issue pada akhir 2026.

Langkah tersebut dilakukan setelah PT Morris Capital Indonesia (MCI) resmi menjadi pengendali PIPA. MCI mengakuisisi PIPA pada akhir 2025 dan kini memegang 1.710.331.400 saham atau setara 49,92% dari total saham yang ditempatkan dan disetor penuh.

Direktur Multi Makmur Lemindo, Noprian Fadli, mengatakan aksi korporasi utama yang disiapkan perseroan adalah right issue. Selain itu, manajemen juga tengah mempertimbangkan sejumlah opsi pendanaan lain, termasuk penerbitan obligasi.

Ia menjelaskan, ke depan PIPA akan mengembangkan tiga entitas atau lini bisnis utama. Pertama, fasilitas produksi minyak dan gas yang akan menjadi salah satu fokus operasional perseroan. Kedua, lini usaha perdagangan dan distribusi minyak dan gas. Ketiga, sektor transportasi serta infrastruktur pendukung.

“Namun semuanya masih dalam kajian intensif dan menjadi bagian dari pertimbangan kami. Rencana aksi korporasi ke depan akan kami sampaikan dalam waktu dekat melalui paparan publik,” ujar Noprian dalam konferensi pers di Jakarta, Senin (9/2).

Menurutnya, tugas terbesar perseroan saat ini adalah memperbesar skala usaha PIPA agar berkembang lebih jauh dibanding sebelumnya. Morris Capital Indonesia (MCI) akan menambah lini bisnis migas dengan mengusung konsep sinergi antarunit usaha. Meski demikian, perseroan menegaskan tidak akan menghilangkan bisnis manufaktur pipa PVC.

“Bisnis pipa PVC manufaktur akan tetap ada. Morris Capital akan memasukkan bisnis oil and gas yang nantinya menjadi core utama atau kontributor terbesar bagi perkembangan PIPA ke depan,” katanya.

Ia menambahkan, PIPA kini mulai memfokuskan bisnis pada sektor minyak dan gas, sementara lini manufaktur pipa akan berperan sebagai penopang bisnis inti. Lini fasilitas produksi migas dinilai mampu menghasilkan pendapatan berulang (recurring revenue) secara konsisten, sehingga memberikan stabilitas pendapatan sekaligus potensi margin keuntungan yang tinggi.

“Kontribusi terhadap laba bersih juga akan baik, sehingga dapat meningkatkan valuasi perusahaan. Selain itu, MCI memiliki komitmen untuk selalu memberikan dividen,” ujarnya.

Geliat di Bisnis Migas

Lebih lanjut, Noprian mengatakan strategi perseroan diarahkan untuk memberikan nilai tambah bagi para pemangku kepentingan sekaligus menciptakan skalabilitas jangka panjang. Ia menilai bisnis migas memiliki permintaan besar dan skala luas, sehingga berpotensi mencatat pertumbuhan signifikan setiap tahun dengan target sekitar 10–15%. Kebutuhan energi nasional yang tinggi juga membuka peluang bagi PIPA untuk berkontribusi terhadap ketahanan energi dan pangan Indonesia.

Pada lini distribusi minyak dan gas, PIPA menargetkan pertumbuhan volume dan omzet yang tinggi. Hal ini ditopang besarnya volume transaksi yang berpotensi meningkatkan pendapatan, meskipun margin relatif lebih tipis. Lini distribusi juga akan berperan sebagai penghubung dalam ekosistem bisnis, menjembatani produksi, infrastruktur, dan logistik sehingga perseroan dapat membangun rantai usaha yang terintegrasi serta mengurangi ketergantungan pada pihak ketiga.

Sementara itu, lini transportasi dan infrastruktur akan menjadi pusat operasional seluruh transaksi minyak dan gas. Perseroan berencana memperkuat armada transportasi, memperluas kegiatan logistik, serta membangun fasilitas penyimpanan dan infrastruktur pendukung.

Dengan memiliki infrastruktur sendiri, operasional PIPA diharapkan menjadi lebih efisien sehingga dapat meningkatkan profitabilitas. Noprian menyebut kenaikan laba bersih tersebut diharapkan memberi manfaat bagi pemegang saham melalui penguatan fundamental serta potensi kenaikan nilai perusahaan.

“Kami juga akan segera menunjuk profesi penunjang untuk mendukung rencana aksi korporasi. Target kami, proses tersebut bisa diselesaikan tahun ini, dengan harapan aksi korporasi dapat rampung sekitar September atau pada Q3–Q4 tahun ini,” ujarnya.

Noprian menambahkan, porsi bisnis minyak dan gas diperkirakan akan menjadi yang paling dominan dalam struktur usaha PIPA, bahkan berpotensi menyumbang lebih dari 50% sebagai core business sekaligus pendorong utama pertumbuhan.

Sementara itu, lini manufaktur akan diposisikan sebagai bisnis pelengkap. Aktivitas manufaktur juga berpotensi tumbuh seiring meningkatnya proyek di sektor migas yang mendorong kebutuhan produksi. Menurut Nopran saat ini sudah ada rencana kerja sama dengan investor Cina. 



Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.

mobile apps preview
Reporter: Nur Hana Putri Nabila

Cek juga data ini

Artikel Terkait

Video Pilihan
Loading...