Prabowo Tuntut Danantara Kebut Return on Asset (RoA) 7%, Analis Ungkap Syaratnya
Target yang diberikan Presiden Prabowo Subianto agar Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (Danantara) mencapai return on asset (RoA) hingga mencapai 7% dinilai nyaris mustahil dilakukan dalam waktu dekat. Pengamat NEXT Indonesia Center, Herry Gunawan, mengatakan upaya mencapai target return on assets (ROA) sebesar 7% bukan perkara mudah.
Menurut Herry, target yang disampaikan Prabowo tetap realistis untuk dikejar jika ada perbaikan kinerja yang konsisten. Meski begitu ia menilai pada progresnya jangan hanya puas di kisaran 3% karena kondisi tersebut bisa jadi mustahil untuk meningkatkan profitabilitas. Adapun ROA yang sudah 10%, ia menyontohkan kinerja PT Telkom Indonesia Tbk (TLKM) yang mampu membukukan ROA di atas 10% per tahun.
“Menurut saya, pernyataan Presiden tersebut lebih pada teguran agar Danantara dan pengelola BUMN jangan leye-leye, business as usual. Mereka diminta untuk inovasi,” kata Herry kepada Katadata.co.id, Rabu (18/2).
Lebih lanjut ia mengatakan setidaknya ada dua hal penting untuk meningkatkan ROA, di antaranya efisiensi dan ekspansi. Menurutnya, perusahaan-perusahaan BUMN perlu mengelola aset secara lebih efisien demi dorong kinerja profitabilitas perusahaan.
Selain itu aspek efisiensi pada dasarnya berada dalam kendali manajemen perusahaan. Upaya ini mencakup pengelolaan sumber daya secara optimal, mulai dari pengendalian biaya hingga proses investasi.
“Kalau efisiensi tidak berhasil ditingkatkan, ROA akan tertahan di angka apa adanya alias asal untung,” ucapnya.
Herry juga menyatakan perusahaan BUMN, khususnya di sektor perbankan, perlu berani melakukan ekspansi untuk mendorong penyaluran kredit. Menurutnya, rasio kredit terhadap dana pihak ketiga (DPK) bank-bank BUMN saat ini rata-rata masih berada di bawah 90% sehingga ruang ekspansi dinilai masih terbuka.
Tak hanya itu setiap perusahaan termasuk BUMN di industri perbankan, kata Herry, pada dasarnya telah memiliki kerangka manajemen risiko untuk mengukur potensi risiko yang bisa dikelola. Kerangka tersebut mencakup penetapan risk appetite dan risk tolerance, yakni batas risiko dan kerugian yang dapat diterima perusahaan agar ekspansi tetap berjalan dan terukur.
“Sepanjang risikonya masih bisa ditoleransi dan masuk dalam ambang batas yang dapat dikelola perusahaan, ekspansi mesti terus didorong dengan inovasi produk atau layanan baru,” ucap Herry.
Sebelumnya Presiden Prabowo Subianto menuntut Chief Executive Officer Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (CEO Danantara), Rosan P Roeslani, agar dapat menghasilkan return on asset atau RoA sebesar 7%. Hal itu disampaikan kepala negara dalam acara Indonesia Economic Outlook 2026 di Wisma Danantara, Jakarta, Jumat (13/2).
“Saya menuntut return on asset ya 7% lah,” kata Prabowo saat berpidato dalam acara IEO 2026, hari ini.
Merespons tuntutan presiden tersebut, Rosan tampak hanya menyunggingkan senyum, sehingga Prabowo menanyakan kesanggupannya. “Kenapa senyum? Kepala Danantara bisa?,” tanya Prabowo yang dijawab "siap" oleh Rosan.
Presiden bahkan sampai menanyakan kesiapan Rosan sebanyak dua kali. Hal itu dilakukannya lantaran jawaban bos Danantara itu dinilai tidak tegas. “Kok siapnya kurang tegas itu ya? 'Siap!' gitu lho,” kata Prabowo dengan suara yang lebih keras. Rosan kemudian menjawab dengan suara tegas. “Siap!,” katanya.
RoA adalah rasio profitabilitas yang mengukur efisiensi perusahaan dalam menggunakan total aset untuk menghasilkan laba bersih. Semakin tinggi nilainya, semakin efektif manajemen dalam mengelola aset yang dimiliki. Prabowo mengakui target RoA 7% tergolong tinggi.
Namun, menurut dia, penetapan target yang ambisius diperlukan agar realisasi kinerja tidak jauh di bawah ekspektasi.
