Prospek Bukit Asam (PTBA) di Tengah Dua Katalis, Intip Proyeksi dan Target Saham

Karunia Putri
23 Februari 2026, 13:28
PTBA
ANTARA FOTO/Nova Wahyudi/foc.
Sejumlah kapal tongkang pengangkut batu bara melintas di Sungai Musi, Palembang, Sumatera Selatan, Jumat (7/11/2025).
Button AI SummarizeMembuat ringkasan dengan AI

Daya pikat perusahaan pelat merah PT Bukit Asam Tbk (PTBA) kian kuat dengan hadirnya dua katalis utama yang diproyeksikan menopang kinerja perseroan tahun ini. Keduanya adalah kuota produksi batu bara yang tetap penuh serta kelanjutan proyek hilirisasi dimethyl ether (DME). Sejalan dengan prospek tersebut, sejumlah analis juga menetapkan target harga terbaru untuk saham PTBA.

Sebagai pemegang Izin Usaha Pertambangan (IUP) batu bara dari pemerintah, Bukit Asam bebas dari pemangkasan kuota produksi dalam Rencana Kerja dan Anggaran Biaya (RKAB) 2026. Kebijakan ini dinilai memberi visibilitas terhadap kinerja perseroan, terutama dari sisi volume penjualan.

Pengamat pasar modal sekaligus Founder Republik Investor Hendra Wardana menilai, status PTBA sebagai emiten pelat merah yang terintegrasi dan memiliki basis pasar domestik kuat melalui skema domestic market obligation (DMO) membuat kepastian RKAB menjadi ruang untuk menjaga volume sekaligus mempertahankan margin.

“Dengan struktur biaya yang relatif kompetitif dan neraca yang sehat, PTBA berpotensi menjaga stabilitas laba meski harga batu bara cenderung fluktuatif,” ujar Hendra kepada Katadata, seperti dikutip Senin (20/2).

Dari sisi valuasi, ia menilai saham PTBA masih menarik untuk strategi trading buy dengan target harga di level Rp 3.000. Terutama, kata Hendra, jika sentimen komoditas dan arus dana asing ke sektor energi tetap terjaga.

Menurut Hendra, tidak dipangkasnya kuota produksi menjadi katalis positif karena volume merupakan fondasi utama bagi arus kas dan laba bersih emiten tambang. Di tengah kekhawatiran pasar terhadap potensi pengetatan produksi demi menjaga harga global, emiten yang tetap memperoleh kuota penuh berada pada posisi lebih diuntungkan karena mampu mempertahankan skala operasional dan memaksimalkan momentum harga batu bara yang masih relatif stabil.

Senada dengan Hendra, Head of Research Korea Investment Sekuritas Indonesia Muhammad Wafi menilai kuota produksi utuh menjadi katalis dari sisi skala ekonomis dan proteksi margin.

“Ketika harga gak bisa diandalkan, maka volume akan jadi tameng pelindung laba. Dengan kuota produksi yang utuh, emiten bisa jaga cash cost tetap efisien,” ujar Wafi. 

Menurutnya, domestik yang lebih ketat juga meningkatkan bargaining power dan memberi ruang untuk memaksimalkan margin dari kuota ekspor. Ia mematok target harga saham PTBA ke level Rp 3.400.

Hingga perdagangan Senin (23/2) pukul 11.39 WIB, saham PTBA menguat tipis 0,38% atau 10 poin ke level Rp2.630. Dalam tiga bulan terakhir, saham Bukit Asam telah melaju 13,36%.

Adapun katalis kedua penopang kinerja PTBA tahun ini adalah pengembangan proyek gasifikasi batu bara menjadi DME yang masuk dalam daftar 20 proyek hilirisasi yang mulai dibangun tahun ini. Proyek tersebut sejalan dengan rencana pemerintah mengalihkan subsidi liquefied petroleum gas (LPG) ke DME.

Terdongkrak Hilirasasi

Sebelumnya, Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara atau Danantara menargetkan pembangunan 20 proyek hilirisasi lintas sektor dengan nilai investasi sekitar US$ 26 miliar. Proyek-proyek tersebut diperkirakan mampu menciptakan hingga 600 ribu lapangan kerja baru.

Langkah pemerintah ini membuka peluang permintaan domestik baru bagi emiten batu bara, terutama PTBA yang dinilai paling siap terlibat berkat kesiapan infrastruktur dan perannya sebagai pemasok batu bara untuk proyek DME. 

Sebelumnya, Corporate Secretary Division Head PTBA Eko Prayitno menyatakan perseroan tengah berdiskusi intensif dengan Danantara terkait kelanjutan proyek tersebut.

Sementara itu, Direktur Hilirisasi dan Diversifikasi Produk PTBA Turino Yulianto mengatakan hilirisasi energi dan utilitas menjadi salah satu dari empat pilar bisnis perseroan hingga 2029, termasuk pengembangan DME. Konversi batu bara menjadi produk gas atau cair dinilai dapat menekan biaya logistik karena distribusi batu bara padat relatif lebih mahal.

Meski demikian, ia menyatakan perseroan tetap menghitung secara cermat risiko dan tingkat pengembalian investasi, mengingat kebutuhan belanja modal yang besar. Pembangunan satu pabrik DME atau metanol diperkirakan membutuhkan investasi sekitar Rp 50 triliun, sementara subsidi LPG nasional mencapai Rp 80–90 triliun per tahun.

Melalui diversifikasi usaha, PTBA menargetkan peningkatan volume produksi hingga 100 juta ton per tahun dari posisi saat ini sekitar 40 juta ton. Perseroan meyakini hilirisasi mampu meningkatkan nilai tambah secara signifikan, dengan DME menghasilkan nilai hingga 4,3 kali lipat dibanding batu bara mentah, synthetic natural gas (SNG) 5,7 kali, metanol 4,7 kali, dan amonia 4,8 kali.

Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.

mobile apps preview
Reporter: Karunia Putri

Cek juga data ini

Artikel Terkait

Video Pilihan
Loading...