Hitung-hitungan Rencana Garuda (GIAA) Borong 50 Pesawat Boeing, Apa Risikonya?
Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara atau Danantara Indonesia mengungkapkan sumber dana sekaligus resiko di tengah rencana pembelian 50 pesawat Boeing. Rencana itu kian dekat setelah Indonesia dan Amerika Serikat (AS) menandatangani kesepakatan tarif resiprokal atau The Agreement on Reciprocal Trade (ART) pada 19 Februari 2026.
Salah satu klausul dalam perjanjian itu menyebutkan Indonesia akan membeli 50 pesawat yang diproduksi oleh perusahaan AS, Boeing.Managing Director Stakeholders Management Danantara Indonesia, Rohan Hafas, mengatakan rencana pembelian pesawat Boeing masih mempertimbangkan sejumlah risiko dan faktor.
Rohan mengatakan salah satu risiko yang menjadi perhatian adalah waktu pengiriman untuk membeli pesawat itu mencapai tujuh tahun. Menurutnya, masalahnya bukan soal memilih jenis pesawat, tetapi perlu melihat seberapa cepat pesawat bisa dikirim.
Menurut Rohan hingga kini Garuda belum memesan pesawat sebab masih mengkaji dan posisinya masih sebatas calon pembeli.
“Kami butuh lebih cepat dari 7 tahun, 7 tahun nunggunya antre rata-rata seluruh dunia sama, kan pembuat pesawat cuma dua kan Boeing sama Airbus kan antre semua itu,” kata Rohan dalam Exclusive Group Interview di Gedung Danantara, Jakarta, Kamis (26/2).
Selain itu Rohan juga menyebut hingga saat ini pihak Boeing juga belum memberikan kepastian terkait kemampuan pengiriman pesawat, apakah bisa langsung memenuhi seluruhnya atau hanya sebagian. Ia mengaku saat ini pembahasan masih berada di level pemerintah dan belum masuk ke tahap lanjutan terkait detail teknis pengadaan pesawat.
Dari Mana Pendanaanya?
Di tengah rencana impor 50 Boieng, hingga kini persoalan sumber dana untuk membeli belum dibahas. Meski begitu, Rohan mengatakan skema sumber pendanaan bisa berasal dari berbagai cara, mulai dari dukungan pembiayaan dari pemasok (supplier credit) hingga skema cicilan langsung ke pihak Boeing.
Tak hanya itu, ia juga menilai seluruh opsi pembayaran masih jadi pertimbangan. Rohan masih menimbang-nimbang proses negosiasi, termasuk terkait harga, skema pembayaran tunai maupun kredit, hingga perhitungan bunga.
“Sama lah kalau kita beli mobil pembahasan ada terus, cuman kan pembahasan seperti ini skalanya enggak bisa kita ngobrol warung kopi terus selesai, rumit angka dan sebagainya dan kreditor kan bisa bank juga kan bisa di kredit juga pesawat gak motor aja kredit, pesawat bisa,” kata Rohan.
Di sisi lain, Rohan menyebut hal yang paling penting yang akan dilakukan selain beli pesawat yakni Danantara akan melakukan remapping rute Garuda Indonesia.
Menurutnya ada rute yang permintaannya tinggi dan ada juga yang sepi sehingga Garuda nantinya akan lebih fokus ke rute yang penumpangnya paling banyak. Misalnya rute Surabaya masih sangat ramai bahkan hingga malam hari dengan frekuensi penerbangan bisa 8–10 kali per hari.
“Jadi rearrange rute akan lebih kami utamakan terlebih dahulu saat ini jadi load factor yang paling penuh dimana kami akan pusatkan kesitu,” ucapnya.
Sebelumnya Menteri Perhubungan Dudy Purwagandhi mengatakan rencana importasi 50 unit pesawat Boeing tersebut seluruhnya akan dilakukan oleh Garuda Indonesia. Namun, Dudy tidak merinci kapan impor tersebut akan dilakukan.
“Saya tidak beli pesawatnya, harus tanya ke Garuda Indonesia (mereka beli semuanya),” kata Dudy saat ditemui di Stasiun Gambir, Selasa (24/2).
Maskapai penerbangan berstatus Badan Usaha Milik Negara (BUMN) tersebut telah bertolak ke AS untuk membicarakan rencana pembelian pesawat ini pada September 2025. Namun, hingga saat ini belum ada kelanjutan informasi terkait rencana tersebut.
