Mengulik Anomali Free Float Saham Grup Sinarmas (DSSA), Sempat Jadi Sorotan MSCI

Nur Hana Putri Nabila
6 Maret 2026, 07:14
PT Dian Swastatika Sentosa Tbk (DSSA), emiten grup Sinarmas
PT Dian Swastatika Sentosa Tbk (DSSA)
PT Dian Swastatika Sentosa Tbk (DSSA), emiten grup Sinarmas
Button AI SummarizeMembuat ringkasan dengan AI

Pemegang saham Grup Sinarmas PT Dian Swastatika Sentosa Tbk (DSSA) mayoritas dikuasai pemegang saham pengendali hingga investor institusi asing. Padahal free float DSSA per 10 Februari 2026 tercatat sebesar 20,42%.

Free float adalah porsi saham emiten yang dimiliki publik atau masyarakat dan dapat diperdagangkan secara bebas di Bursa Efek Indonesia (BEI). Tidak termasuk saham yang dikuasai pemegang saham pengendali, mayoritas, komisaris, direksi, atau karyawan.

Namun usai Bursa Efek Indonesia (BEI) Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI) membuka data 1% kepimilikan saham, free float DSSA hanya sekitar 7,63%. Sementara itu mayoritas sebanyak 92,37% dimiliki oleh DSSA dan investor institusi asing. 

Berdasarkan data KSEI per 27 Februari 2026, struktur kepemilikan saham DSSA masih didominasi oleh pemegang saham pengendali dari dalam grup. PT Sinar Mas Tunggal tercatat sebagai pemegang saham terbesar sebanyak 4,61 miliar saham atau setara 59,90% dari total saham beredar.

Di posisi berikutnya Dian Swastatika Sentosa sendiri memiliki 1,51 miliar saham atau 19,68%. Sementara itu investor institusi asing juga memiliki porsi cukup signifikan. Citibank Hong Kong S/A Citibank HK SA PBG Clients HK menggenggam 318,74 juta saham atau 4,14%.

Selain itu, Fitzgerald & Wilkison Investments Ltd yang berbasis di British Virgin Islands memiliki 290,98 juta saham atau 3,78%. Dari Singapura, UOB Kay Hian Private Limited menguasai 288,09 juta saham atau 3,74% dan Bank of Singapore Limited memegang 87,18 juta saham atau 1,13%.

Sedangkan berdasarkan data laporan bulanan registrasi pemegang efek, DSSA mengumumkan masyarakat memiliki 1,57 miliar saham atau 20,4%. Sedangkan saham treasury 1,51 miliar atau 19,7%. Lalu jumlah pemegang saham hingga 10 Februari 2026 tercatat 5.039 pemegang saham. 

Anomali free float saham DSSA ini sebelumnya juga pernah menjadi perhatian Morgan Stanley Capital International (MSCI).  Saat MSCI mengumumkan DSSA masuk dalam indeks Global Standard pada Agustus 2025 lalu, mereka  menyatakan ada perlakuan khusus terhadap saham yang dikendalikan Grup Sinar Mas itu lantaran adanya ketidakpastian free float.

“Mengingat bobot yang signifikan dalam MSCI Indonesia Indeks, MSCI akan menerapkan adjustment factor sebesar 0,5 pada Foreign Inclusion Factor (FIF) saham tersebut,” ungkap MSCI dalam rilis saat itu. 

Bila mencermati gerak sahamnya, DSSA memang tidak terlalu likuid di pasar yang ditandai dengan volume transaksi terbatas. Padahal bila dilihat secara nilai, kapitalisasi pasar DSSA di bursa mencapai Rp 650 triliun. Dengan penyesuaian itu, bobot FIF untuk saham DSSA turun dari 0,25 menjadi 0,13.

Dampak Pembukaan Free Float Saham

Head of Investment Specialist Maybank Sekuritas Indonesia, Fath Aliansyah Budiman, menyebut langkah BEI membuka kepemilikan saham di atas 1% seharusnya memberikan efek positif dalam jangka panjang. Peningkatan keterbukaan dan transparansi informasi akan membuat pasar saham Indonesia lebih investable.  

Sementara itu, dari sisi jangka pendek, Fath mengatakan investor perlu memperhatikan saham-saham yang sebelumnya dilaporkan memiliki free float tinggi. Ia menampilkan saham DSSA. 

Misalnya DSSA mengklaim free float sebesar 20%. Ia menyebut banyak saham yang free float-nya turun signifikan, dari 20% menjadi sekitar 10%. Hal ini karena tambahan 1% tersebut dimiliki oleh individu tertentu yang tidak dapat dihitung sebagai bagian dari free float yang tersedia untuk publik.  

Usai data hingga 1% dibuka, alhasil timbul pertanyaan berapa saham yang beredar di masyarakat.

“Jadi, ini banyak emiten-emiten yang secara free float jadi terlihat lebih kecil, dan ini pasti akan berimbas dari sisi potensi likuiditas sementara ya,” ucap Fath dalam kanal Youtube Maybank Sekuritas bertajuk “BEI Rilis Data di Atas 1%, Efek Pasar? Update AS-Iran & Imbas ke Kapal Tanker,” Rabu (4/3).   

Ia juga menyebut apabila terjadi penurunan free float, terutama pada emiten yang sudah masuk MSCI atau termasuk LQ45, maka saham-saham tersebut, meski dikenal luas, free float-nya tidak lagi mencerminkan kondisi saat ini. Hal ini sangat berpotensi menimbulkan outflow ketika MSCI nanti menetapkan evaluasi untuk Indonesia. 

“Apakah nanti terjadi discount atau tidak? Jadi sebenarnya kalau ditanya secara jangka pendek apakah ini akan menimbulkan volatilitas yang penting? Jawabannya sangat mungkin ya,” ucapnya. 

Fath mengatakan untuk emiten yang memiliki kinerja keuangan baik dan tengah ekspansi agresif, seharusnya penambahan free float di pasar bukan hal yang sulit. Namun, free float tidak bisa langsung ditambah karena perlu melalui mekanisme aksi korporasi melalui right issue dan lain-lain. Ia optimistis selama perusahaan bertumbuh, free float akan terserap oleh masyarakat secara bertahap. 

Namun, Fath menjelaskan pembukaan data 1% ini tidak kebal terhadap volatilitas jangka pendek. Hal ini karena emiten terutama yang sudah masuk MSCI dan memiliki market cap besar, ketika dihitung free float-nya ternyata lebih kecil dari yang diketahui pasar, maka free float market cap akan berubah, yang kemudian berpotensi memicu outflow. 

“Ini suatu hal yang harus kita ketahui, jadi volatilitas jangka pendek itu sangat terasa,” ucap Fath. 

Padahal dari hasil tinjauan Indeks Morgan Stanley Capital International atau MSCI per Agustus 2025, saham emiten milik Grup Sinarmas PT Dian Swastatika Sentosa Tbk (DSSA) berhasil masuk ke dalam MSCI Global Standard Indexes.

Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.

mobile apps preview
Reporter: Nur Hana Putri Nabila

Cek juga data ini

Artikel Terkait

Video Pilihan
Loading...