4 Saham Genggaman Anthoni Salim: dari BBCA hingga EMTK
Konglomerat Anthoni Salim tercatat memiliki saham di sejumlah emiten di Bursa Efek Indonesia (BEI). Berdasarkan data kepemilikan saham hingga 1% per 27 Februari 2026, bos Indofood itu memiliki saham dengan porsi terbesar di PT Indoritel Makmur Internasional Tbk (DNET) sebanyak 25,30% atau 3,58 miliar saham.
Di posisi kedua, Anthoni juga menggenggam saham termahal di bursa RI PT DCI Indonesia Tbk (DCII) sebanyak 11,12% atau setara 265,03 juta saham. Selain itu, ia juga memiliki 8,97% saham Grup Emtek PT Elang Mahkota Teknologi Tbk (EMTK) sebanyak 5,51 miliar saham.
Menariknya, ia juga memiliki 1,15% saham perbankan raksasa PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) atau sebanyak 1,41 miliar saham.
Adapun BBCA membukukan laba bersih Rp 57,5 triliun tahun buku 2025 atau naik 4,9% year on year (YoY). Sepanjang Januari–Desember 2025, BCA dan entitas anak membukukan total kredit 7,7% secara tahunan (YoY) menjadi Rp 993 triliun per Desember 2025.
Secara rata-rata, pertumbuhan kredit BCA mencapai 10,8% sepanjang 2025. Penyaluran kredit BCA terdistribusi ke berbagai sektor, di antaranya manufaktur, perdagangan, restoran, hotel dan rumah tangga. Di sisi pendanaan, dana giro dan tabungan (CASA) naik 13,1% YoY hingga Rp 1.045 triliun.
Selain itu kredit usaha BCA naik 9,9% secara tahunan (YoY) menjadi Rp 756,5 triliun per Desember 2025. Dari sisi konsumer, BCA menjaga pembiayaan di level Rp 224,1 triliun, didukung oleh Kredit Pemilikan Rumah (KPR) sebesar Rp 142,3 triliun serta kredit kendaraan bermotor (KKB) senilai Rp 56,6 triliun.
Sedangkan DCII juga mencatat kinerja positif sepanjang 2025. Berdasarkan laporan keuangan, pendapatan perseroan mencapai Rp 2,54 triliun, meningkat 40,14% secara tahunan (year on year/YoY).
Kontributor terbesar berasal dari layanan colocation yang tumbuh 38,73% YoY menjadi Rp 2,36 triliun. Sementara itu, pendapatan dari kategori lain-lain tercatat Rp 181,81 miliar, melonjak 61,46% YoY.
Sejalan dengan pertumbuhan pendapatan, laba tahun berjalan yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk tercatat Rp 1 triliun, naik 25,72% YoY.
