Bursa Korsel Anjlok 8% hingga Trading Halt, Nikkei Longsor 7% Imbas Perang Iran

Nur Hana Putri Nabila
9 Maret 2026, 09:27
Kospi bursa
ANTARA FOTO/REUTERS/Kim Hong-Ji/hp/cf
Kim Hong-Ji Seorang pedagang saham bekerja di papan elektronik yang memperlihatkan harga saham KOSPI (Korea Composite Stock Price Index) dan harga tukar antara dolar Amerika Serikat dan won Korea Selatan, di sebuah ruang transaksi sebuah bank di Seoul, Korea Selatan, Kamis (12/3/2020).
Button AI SummarizeMembuat ringkasan dengan AI

Indeks utama bursa Korea Selatan KOSPI anjlok lebih dari 8% pada perdagangan awal pekan ini, Senin (9/3) hingga memimpin pelemahan bursa saham di Asia. Akibat pelemahan itu Korea Exchange sempat menghentikan sementara perdagangan indeks KOSPI atau trading halt selama 20 menit. 

Anjloknya bursa Korea Selatan seiring meningkatnya ketegangan di Timur Tengah dan lonjakan harga minyak. Saham emiten teknologi besar seperti Samsung Electronics dan SK Hynix kembali menjadi penekan utama indeks acuan, dengan masing-masing terkoreksi lebih dari 10%.

Selain bursa Korea, bursa Jepang Nikkei 225 juga babak belur hingga 7,45% ke 51.482 pada perdagangan intraday hari ini pukul 09.18 WIB. Bahkan Nikkei telah anjlok 8,55% dalam seminggu terakhir. 

Pelemahan juga turut menjalar ke Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG). Pada 09.19 WIB, IHSG juga longsor 4,32% ke 7.257 dan kapitalisasi pasarnya terjun ke Rp 13.014 triliun. 

Analis pasar modal sekaligus pendiri Republik Investor Hendra Wardana mengatakan, eskalasi konflik antara Amerika Serikat dan Iran menjadi salah satu pemicu utama meningkatnya ketidakpastian di pasar keuangan global. Ketegangan geopolitik di Timur Tengah mendorong lonjakan harga energi dunia, terutama minyak mentah jenis Brent yang sempat menembus US$ 93 per barel.

 Bagi negara seperti Indonesia yang masih menjadi net importir minyak, kenaikan harga energi global berpotensi menekan neraca perdagangan, nilai tukar rupiah, serta meningkatkan beban subsidi energi dalam APBN. 

“Kondisi ini membuat investor asing cenderung melakukan aksi jual di pasar saham negara berkembang, termasuk Indonesia, yang terlihat dari masih terjadinya arus dana keluar (foreign net sell) di pasar saham,” kata Hendra. 

Menurutnya, dalam jangka pendek, IHSG masih berpotensi bergerak fluktuatif dengan support kuat di kisaran 7.450 - 7.500. Jika tekanan global mulai mereda, indeks berpeluang kembali bergerak menuju area 7.900 hingga 8.000 dalam jangka menengah.

Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.

mobile apps preview
Reporter: Nur Hana Putri Nabila

Cek juga data ini

Artikel Terkait

Video Pilihan
Loading...