Pasar Saham Dunia Runtuh Saat Harga Minyak Melonjak Imbas Perang AS - Iran
Pasar saham global termasuk Indonesia anjlok setelah lonjakan harga minyak dipicu meningkatnya konflik antara Amerika Serikat dan Iran di Timur Tengah.
Indeks utama bursa Korea Selatan KOSPI anjlok lebih dari 8% pada perdagangan awal pekan ini, Senin (9/3) hingga memimpin pelemahan bursa saham di Asia. Akibat pelemahan itu Korea Exchange sempat menghentikan sementara perdagangan indeks KOSPI atau trading halt selama 20 menit. Saham emiten teknologi besar seperti Samsung Electronics dan SK Hynix kembali menjadi penekan utama indeks acuan, dengan masing-masing terkoreksi lebih dari 10%.
Selain bursa Korea, bursa Jepang Nikkei 225 juga babak belur hingga 7,45% ke 51.482 pada perdagangan intraday hari ini pukul 09.18 WIB. Bahkan Nikkei telah anjlok 8,55% dalam seminggu terakhir. Lalu Hang Seng juga di zona merah dengan tergelincir 2,52%, Shanghai Composite turun 1,12%, hingga Strait Times juga merosot 2,53%.
Sedangkan IHSG juga terpantau babak belur. Indeks Harga Saham Gabungan dibuka anjlok 3,43% atau 260,32 poin ke level 7.325 pada perdagangan Senin (9/3). Tak hanya itu IHSG bahkan anjlok 5,56% hingga ke dasar 7.163.
Rupiah Tembus Rp 17.000 per US$ Imbas Lonjakan Harga Minyak
Berdasarkan data terbaru harga minyak acuan dunia mencapai level tertinggi sejak Juli 2022. Kenaikan ini terjadi seiring dengan meluasnya perang Iran, Israel, dan Amerika Serikat (AS) di Timur Tengah. Harga minyak Brent naik 16,4% atau US$ 15,24 menjadi US$ 107,93 per barel pada Senin pagi (9/3). Sementara Minyak mentah berjangka West Texas Intermediate (WTI) AS naik US$ 16,50, atau 18,2%, menjadi US$107,40 per barel.
Hal itu menyebabkan beberapa produsen minyak utama di Timur Tengah memangkas pasokan. Ketegangan ini juga memicu kekhawatiran gangguan berkepanjangan terhadap pengiriman minyak melalui Selat Hormuz yang merupakan titik krusial.
Irak dan Kuwait mulai mengurangi produksi minyak serta Qatar yang makin mengurangi produksi gas alam cair (LNG). Kondisi ini terjadi sebab perang Timur Tengah telah menghambat proses pengiriman produksi migas dari kawasan tersebut.
Di samping itu nilai tukar rupiah dibuka melemah menjadi Rp 17.019 per dolar AS, dikutip dari Bloomberg pada Senin pagi (9/3). Mata uang garuda diperkirakan terus melemah imbas kenaikan harga minyak mentah dunia. Berdasarkan data Bloomberg, rupiah dibuka melemah 0,56% dibanding penutupan Jumat (6/3) ke level Rp 17.019 per dolar AS.
“Rupiah diperkirakan melemah terhadap dolar AS oleh sentimen risk off yang memburuk dipicu kenaikan harga minyak mentah yang mencapai US$ 100 per barel lebih,” kata Analis Doo Financial Lukman Leong kepada Katadata.co.id, Senin (9/3).
Kenaikan harga minyak itu dikhawatirkan berdampak besar terhadap perekonomian global dan peningkatan harga barang-barang atau inflasi.
Bursa AS Wall Street Anjlok
Indeks bursa Wall Street di Amerika Serikat ditutup turun pada perdagangan Jumat (6/3) waktu setempat. Merahnya Wall Street di tengah lonjakan harga minyak dunia dan respons pasar imbas penurunan data lapangan kerja baru di AS.
Dow Jones Industrial Average turun 453,19 poin atau 0,95% menjadi 47.501,55. Sepanjang perdagangan, indeks ini bahkan sempat merosot hampir 950 poin atau sekitar 2%. Sementara itu, S&P 500 merosot 1,33% ke level 6.740,02.
Adapun Nasdaq Composite turun 1,59% ke posisi 22.387,68. Sepanjang pekan ini, S&P 500 turun sekitar 2%, Dow Jones yang berisi 30 saham melemah sekitar 3% hingga Nasdaq terkoreksi 1,2%.
Manajer portofolio Argent Capital Management Jed Ellerbroek menilai rentang antara harga tertinggi dan terendah minyak kini melebar signifikan. Bahkan jika proyeksi harga US$ 150 per barel dari al-Kaabi dipangkas sekitar 20%, harga minyak tetap berada pada level yang mengkhawatirkan.
“Jika saya seorang trader, saya tidak terlalu bersemangat memegang banyak saham yang sensitif terhadap kondisi ekonomi selama akhir pekan ketika perang dengan Iran masih berlangsung, dengan volatilitas dan ketidakpastian dari Presiden Trump,” kata Ellerbroek, dikutip CNBC.
Menurutnya, semakin lama situasi ini berlangsung, semakin besar dampaknya terhadap perilaku pasar saham. Beberapa saham yang sensitif terhadap biaya energi ikut tertekan.
Saham operator kapal pesiar Royal Caribbean yang telah turun lebih dari 10% sepanjang pekan ini kembali melemah sekitar 1% pada Jumat. Sementara itu, saham produsen alat berat Caterpillar turun lebih dari 3% pada akhir perdagangan.
Selain lonjakan harga minyak, pasar saham merosot karena data ketenagakerjaan terbaru. Bureau of Labor Statistics melaporkan bahwa jumlah nonfarm payrolls turun 92.000 pada Februari.
Angka ini berbalik dari kenaikan Januari yang telah direvisi turun menjadi 126.000 dan jauh di bawah ekspektasi ekonom yang disurvei Dow Jones sebesar 50.000. Tingkat pengangguran juga naik menjadi 4,4% dari sebelumnya 4,3%.
