Bedah Rapor Merah Emiten BUMN Karya WSKT hingga WEGE, Rugi Usaha Kian Bengkak
Rapor kinerja keuangan emiten Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Karya masih merah pada 2025. Di antara perusahaan BUMN Karya yang telah melaporkan kinerja keuangannya ada PT Waskita Karya Tbk (WSKT), PT Wijaya Karya Bangunan Gedung Tbk (WEGE) dan PT Wijaya Karya Beton Tbk (WTON).
Dua emiten lainnya yaitu PT PP Presisi Tbk (PPRE) dan PT PP Properti Tbk (PPRO) juga mencatatkan rugi. Kedua entitas yang berada di bawah PT PP (Persero) Tbk (PTPP) ini mencatatkan total kerugian jumbo hingga sekitar Rp 6 triliun. Kinerja PPRE malah berbalik dari laba pada tahun sebelumnya.
Emiten BUMN Karya lainnya yaitu PT Adhi Karya Tbk (ADHI) dan PT Wijaya Karya Tbk (WIKA) menyampaikan keterlambatan pelaporan kinerja keuangan 2025 karena masih dalam proses penyelesaian audit. Begitu pula dengan PTPP juga menyampaikan keterlambatan pelaporan keuangan.
Lantas bagaimana kinerja keuangan emiten-emiten BUMN Karya WSKT, WEGE dan WTON?
Rugi Waskita Karya (WSKT) Bengkak 52% Jadi Rp 3,92 Triliun
Kinerja keuangan PT Waskita Karya Tbk (WSKT) merosot pada tahun 2026. Perseroan mencatat rugi bersih sebesar Rp 3,92 triliun pada 2025, membengkak 51,93% dibandingkan tahun sebelumnya sebesar Rp 2,58 triliun.
Pendapatan usaha perseroan juga turun menjadi Rp 8,81 triliun dari Rp 10,70 triliun secara tahunan atau year on year (yoy). Kontribusi pendapatan berasal dari anak usaha sebesar Rp 3,1 triliun dan induk usaha Rp 5,75 triliun.
Corporate Secretary Waskita Karya Ermy Puspa Yunita mengatakan, pendapatan berasal dari segmen konektivitas yang menyumbang Rp 3,3 triliun, sumber daya air Rp 1,4 triliun, gedung Rp 1,2 triliu serta segmen lainnya Rp 900 miliar.
Dia mengatakan, sebagian besar pendapatan berasal dari proyek pemerintah. Selain mengerjakan proyek baru, perseroan juga masih menyelesaikan proyek lama yang membutuhkan tambahan pendanaan (cash to completion) dengan target penyelesaian pada 2026.
Sepanjang 2025, Waskita juga melakukan sejumlah aksi korporasi. Di antaranya divestasi 94,7% saham PT Waskita Sangir Energi melalui anak usaha PT Waskita Karya Infrastruktur pada September serta pelepasan 35% saham PT Cimanggis Cibitung Tollways oleh PT Waskita Toll Road pada November.
Di sisi lain, nilai kontrak baru (NKB) Waskita mencapai Rp 12,52 triliun, meningkat dari Rp 9,55 triliun pada 2024. Perolehan tersebut didominasi proyek pemerintah, mulai dari jaringan irigasi, Sekolah Rakyat hingga pembangunan rumah sakit daerah.
Ermy menyatakan, fokus utama perseroan saat ini adalah menurunkan utang. Restrukturisasi melalui Master Restructuring Agreement (MRA) dan Kredit Modal Kerja Penjaminan (KMKP) 2021 telah disetujui 22 kreditur perbankan dengan total outstanding Rp 31,65 triliun. Selain itu, restrukturisasi obligasi non-penjaminan senilai Rp 3,35 triliun juga telah memperoleh persetujuan mayoritas melalui Rapat Umum Pemegang Saham Obligasi (RUPO).
“Ke depannya, Waskita berkomitmen untuk kembali ke core business sebagai kontraktor murni, demi menciptakan kegiatan operasional yang lebih sustainable,” ujar Ermy.
Wijaya Karya Gedung (WEGE) Berbalik Rugi Rp 630 Miliar
Sementara itu, PT Wijaya Karya Bangunan Gedung Tbk (WEGE) mencatat rugi bersih sebesar Rp 630,36 miliar pada 2025. Padahal pada 2024, perseroan tercatat membukukan laba Rp 67,88 miliar.
Penurunan kinerja sejalan dengan turunnya pendapatan menjadi Rp 1,62 triliun dari Rp 3,67 triliun secara yoy. Torehan rugi WEGE terjadi salah satunya adanya penebalan beban lainnya menjadi Rp 558,42 miliar dari sebelumnya Rp 230,44 miliar.
Selain itu, kontribusi dari ventura bersama pada 2026 berbalik menjadi rugi Rp 112,95 miliar dari sebelumnya laba Rp 99,66 miliar.
Direktur Utama WEGE Hadian Pramudita mengatakan, rugi bersih tersebut merupakan bagian dari langkah konservatif perseroan dalam membersihkan neraca (balance sheet cleaning). Langkah ini dilakukan melalui pengakuan penurunan nilai aset keuangan serta penyisihan pekerjaan dalam proses.
Menurut Hadian, strategi deleveraging juga menunjukkan perbaikan, tercermin dari gearing ratio yang turun menjadi 0,07 kali dari sebelumnya 0,18 kali. Rasio utang terhadap ekuitas debt to equity ratio (DER) juga terjaga di level 1,05 kali.
“Kebijakan ini diambil secara sadar untuk memastikan bahwa laporan keuangan WEGE mencerminkan nilai aset yang riil dan transparan. Melalui optimalisasi instrumen keuangan dan penataan akun historis ini, harapan kami neraca tahun 2026 sudah mencerminkan kondisi yang jauh lebih sehat dan kredibel,” ujar Hadian.
Memasuki awal 2026, WEGE telah mengamankan kontrak baru senilai Rp 464,67 miliar. Hingga Maret 2026, kontrak tersebut mencakup proyek Sekolah Rakyat, halte BRT, RSUD Rupit serta pembangunan hunian ASN dan Kementerian Pekerjaan Umum.
Hadian menambahkan, perseroan optimis dapat bertahan di tengah ketidakpastian ekonomi dan menargetkan perolehan kontrak baru tahun ini dapat tercapai secara optimal.
Laba Wijaya Karya Beton Turun 38% Jadi Rp 40 Miliar
Di lain sisi, PT Wijaya Karya Beton Tbk (WTON) tercatat masih membukukan laba meski jumlah tersebut menyusut secara yoy. WTON membukukan laba bersih sebesar Rp 40,01 miliar, turun 38,44% dibandingkan dengan laba bersih perseroan tahun 2024 sebesar Rp 65 miliar.
Adapun perseroan mencatatkan pendapatan usaha sebesar Rp 3,58 miliar pada tahun buku 2025. Angka tersebut turun dibangikan tahun sebelumnya senilai Rp 4,89 miliar.
Seiring dengan turunnya laba bersih perseroan, beban pokok pendapatan WTON juga menurun menjadi Rp 3,32 triliun dari Rp 4,52 triliun.
Pada 2026, WTON memperoleh omzet kontrak baru sebesar Rp 4 triliun. Kontrak tersebut berasal dari sektor infrastruktur sebesar 55,53%, sektor industri sebesar 17,19%, sektor kelistrikan sebesar 11,17% dan sektor lainnya sebesar 16,11%.
Berdasarkan klasifikasi pelanggan, perolehan omzet kontrak baru didominasi oleh pelanggan swasta dengan porsi mencapai 54,86%, BUMN sebesar 21,65%, kemitraan strategis (KSO/JO) sebesar 18,32%, serta WIKA sebesar 5,17%.
PPRE Balik Laba jadi Rugi
Berdasarkan laporan keuangan yang dipublikasikan, PPRE mencatatkan rugi bersih Rp 1,46 triliun sepanjang 2025. Angka itu berbalik dari laba pada tahun 2024 yang sempat mencatatkan keuntungan Rp 90,33 miliar. Jika dikalkulasikan rugi BUMN konstruksi itu terkontraksi 1.719% secara tahunan atau year on year (yoy).
Dari sisi pendapatan, PPRE masih mencatatkan kenaikan 4,09% yoy menjadi Rp 3,94 triliun, meningkat 4,09% dibandingkan Rp 3,79 triliun pada 2024. Namun, beban pokok pendapatan melonjak lebih tinggi, yakni 35,25% yoy menjadi Rp 4,07 triliun dari Rp 3,01 triliun pada 2024. Akibatnya, perseroan berbalik dari laba kotor Rp 778,22 miliar menjadi rugi kotor Rp 128,76 miliar atau anjlok 116,54% yoy.
Dari sisi operasional, beban usaha meningkat 3,95% yoy menjadi Rp 107,09 miliar. Kerugian penurunan nilai melonjak tajam 1.053,49% yoy menjadi Rp 656,03 miliar dari Rp 56,90 miliar. Beban keuangan juga naik 12,83% yoy menjadi Rp 374,27 miliar.
Di sisi lain, pendapatan lainnya tumbuh 34,71% yoy menjadi Rp 84,82 miliar, sementara beban lainnya naik 11,07% yoy menjadi Rp 57,46 miliar. Beban pajak final juga naik 7,61% yoy menjadi Rp102,17 miliar. Alhasil PPRE mencatat rugi sebelum pajak Rp 1,34 triliun, berbalik dari laba Rp 203,63 miliar atau rontok 758,52% yoy.
Setelah pajak, Perseroan membukukan rugi bersih Rp 1,35 triliun, berbalik dari laba Rp 194 miliar atau anjlok 796,55%. Sejalan dengan itu, rugi per saham dasar tercatat Rp 143,06, berbalik dari laba per saham Rp 8,84.
Bagaimana dengan PPRO?
Tak kalah berat, PPRO mencatatkan kerugian jauh lebih dalam. Sepanjang 2025, rugi yang diatribusikan kepada pemilik entitas induk melonjak menjadi Rp 4,83 triliun, naik 344,72% yoy.
Tekanan terhadap emiten konstruksi BUMN ini mencerminkan masih beratnya sektor properti dan konstruksi, di tengah tingginya beban bunga, tekanan arus kas, serta lambatnya realisasi proyek.
Tak hanya itu, pendapatan PPRO anjlok 29,51% yoy menjadi Rp 323,22 miliar pada 2025, dari Rp 458,50 miliar pada 2024. Sejalan dengan itu, beban pokok penjualan juga turun 30,92% yoy menjadi Rp 300 miliar dari Rp 434,45 miliar.
Sedangkan laba kotor tercatat Rp 23,14 miliar, turun 3,75% yoy dari Rp 24,04 miliar. Di sisi lain, beban usaha justru meningkat menjadi Rp 105,27 miliar dari Rp 84,35 miliar, atau naik 24,39% yoy.
Tekanan terbesar datang dari pos non-operasional. Perseroan membukukan beban penurunan nilai sebesar Rp 1,50 triliun, melonjak drastis dari Rp 51,6 miliar. Sementara itu, pendapatan lain-lain berbalik menjadi positif Rp 1,58 triliun dari sebelumnya negatif Rp 13,47 miliar.
