BBRI Sepakat Bagi Dividen Total Rp 52,1 T, Rasio Naik jadi 92% Meski Laba Turun
Emiten perbankan pelat merah PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI) bersiap membagikan dividen jumbo untuk para pemegang saham. Merujuk hasil Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS) yang digelar Jumat (10/4) BBRI sepakat membagikan dividen untuk tahun buku 2025 senilai Rp 52,1 triliun.
Jumlah dividen yang dibagikan BBRI terbilang besar dengan dividend payout ratio setara 92% di atas tahun buku 2024 yang hanya 86%. Dengan perhitungan tersebut maka setiap satu lembar saham BBRI akan mendapatkan dividen setara Rp 345,98 per saham.
Bila merujuk data sebelumnya, BBRI telah membagikan dividen interim dengan total Rp 20,6 triliun yang dibagi pada 15 Januari lalu. Dengan begitu dividen final yang akan diterima adalah Rp 209 per saham.
“Sebelumnya, BBRI telah membagikan dividen interim tahun buku 2025 sebesar Rp 137 per saham pada Januari 2026,” tulis Stockbit Sekuritas seperti dikutip Jumat (10/4).
Pada penutupan perdagangan hari ini harga saham BBRI ditutup di Rp 3.390. Dengan begitu yield dividen BBRI akan berada di kisaran 6%.
Berdasarkan annual general meeting BBRI, perusahaan berkomitmen untuk tetap menjaga struktur permodalan yang kuat. Hal ini tercermin dari rasio kecukupan modal (CAR) yang berada di atas ketentuan minimum regulasi sebesar 14,70% serta sejalan dengan risk appetite perusahaan di level 17%.
Dalam jangka panjang, BBRI menargetkan untuk mempertahankan CAR di kisaran 20% seiring meningkatkan nilai dividen per saham (DPS).
“Kondisi ini memungkinkan BRI untuk membagikan dividen dengan nilai dividen per saham (DPS) yang secara konsisten memberikan nilai tambah bagi para pemegang saham,” tulis manajemen BBRI dikutip Kamis (26/3).
Laba Bersih BBRI Turun
Di sisi lain, meski rasio pembayaran dividen BBRI naik dari 86% pada tahun buku 2024 menjadi 92% pada tahun buku 2025, kinerja keuangan BBRI tidak lebih moncer dari tahun sebelumnya. BRI mencatatkan laba bersih tahun berjalan secara konsolidasian sebesar Rp 57,13 triliun sepanjang 2025 turun 5,26% dibandingkan dengan laba bersih perseroan tahun 2024 sebesar Rp 60,30 triliun.
Penurunan terjadi seiring biaya pencadangan atau impairment yang membengkak 20,8% menjadi Rp 46,09 triliun. Berdasarkan laporan keuangan yang dipublikasikan perseroan di media massa, penyaluran kredit BRI secara konsolidasian mencapai Rp 1.521 triliun, tumbuh 12,3% dibandingkan periode yang sama tahun lalu.
Pendapatan bunga naik 4,27% dari Rp 199,26 triliun pada 2024 menjadi Rp 207,78 triliun pada 2025, demikian pula dengan beban bunga dari Rp 56,6 triliun menjadi Rp 57,24 triliun. Pendapatan bunga bersih pun tercatat naik 5,5% menjadi Rp 150,5 triliun.
Margin bunga bersih atau net interest margin BRI pun turun dari 6,75% menjadi 6,54%. Sedangkan di sisi kualitas kredit, NPL gross BRI tercatat sebesar 3,29%, meningkat dari 2,94%, sedangkan NPL net berada di level 0,96% dari sebelumnya 0,75%.
Sementara itu, dana pihak ketiga BRI tercatat sebesar Rp 1.466 triliun dan komposisi CASA mencapai 70,61%. Di sisi lain, fungsi intermediasi BBRI tercatat meningkat dengan loan to deposit ratio (LDR) sebesar 91,96%, dibandingkan tahun sebelumnya di level 89,39%.
